Ketik disini

Metropolis

Terampil Menembak dan Atasi Huru-hara

Bagikan

Tidak semua polisi dapat dengan mudah menjadi anggota Brimob. Mereka harus mengikuti seleksi dan latihan super berat. Mulai dari bela diri, menembak, hingga menjinakkan bom. Namun Jangan kira Polwan tidak mampu. Salsabila Tiara Sari dan Nabila Angelina telah membuktikannya.

***

KULITNYA putih mulus. Perawakannya tegap dan tinggi layaknya seorang model. Potongan rambutnya sebahu dan tutur katanya lembut. Layaknya perempuan pada umumnya. Dia adalah Salsabila Tiara Sari.

Sementara salah seorang rekan di sebelahnya terlihat menggunakan hijab. Tubuhnya juga tinggi dan ia terlihat tegas dari penampilannya. Dialah Nabila Angelina. Dua orang perempuan ini adalah anggota Brimob Polda NTB.

Jika melihat sekilas, mereka tidak ubahnya perempuan biasa. Semua modal yang dibutuhkan untuk membuat hati pria terpikat mereka punya. Cantik, tinggi dan menawan. Tapi jangan tertipu dengan penampilan dua gadis manis ini.

Di balik pesonanya yang anggun, mereka punya sejuta kemampuan rahasia. Bela diri, menangani huru-hara, hingga menembak menggunakan senjata api bisa dilakukan dua perempuan jelita ini.

Maklum, keseharian mereka sebagai anggota Brimob Polda NTB memang tidak bisa lepas dari aktivitas berbahaya. Hal tersebut diungkapkan oleh Kasat Brimob Polda NTB Kombes Pol Taufiq Hidayat. Sebagai seorang anggota Brimob, mereka sudah dilatih untuk memiliki semua keterampilan seperti anggota Brimob Polda NTB lainnya. Meskipun mereka perempuan. A�Mulai dari menembak, menjinakkan bom, melaksanakan pengamanan VIP/VVIP, membantu penanganan KDRT, penanganan kekerasan pada anak hingga menangani huru-hara.

a�?Mereka bukan sekadar penghias bunga di Brimob Polda NTB. Karena mereka telah melalui proses seleksi yang sangat ketat untuk bisa masuk menjadi anggota Brimob,a�? jelas Taufiq Hidayat kepada Lombok Post saat ditemui di markas Brimob Polda NTB.

Ketika hendak diwawancara, baik Tiara dan Bila, sapaan akrab keduanya, terlihat sudah bersiaga. Menggenakan pakaian khas Brimob lengkap, mereka dibekali dengan senjata api di tangannya.

a�?Meskipun kami kebanyakan bekerja di dalam ruangan. Tapi berlatihA� bela diri, menembak maupun yang lainnya adalah pelatihan dasar yang wajib diikuti. Kami sudah terbiasa,a�? ungkap Tiara membuka pembicaraan.

Tiara adalah gadis kelahiran Praya 17 Juni 1996. Orang tuanya yang berdarah China dan Jawa menjawab bagaimana ia memiliki kulit putih mulus dan mata yang agak sipit. Sementara Bila adalah gadis keturunan Jawa kelahiran 31 Maret 1997. Alumni SMAN 3 Mataram ini lahir dan besar di Mataram. Tepatnya di Karang Jangkong Cakranegara.

Di sela-sela latihan, mereka berbagi cerita asal mula dirinya memilih profesi sebagai Brimob. Mengingat, profesi ini membutuhkan nyali yang cukup besar. Apalagi bagi seorang perempuan.

Tiara memulai lebih dulu. Perempuan yang sebelumnya pernah mengenyam kuliah di Fakultas Ekonomi Unram Jurusan Akutansi ini mengaku sejak kecil memang sudah tertarik dengan kepolisian. Karena, ia mengaku memiliki sorang bibi perempuan yang juga menjadi Polwan. Namun, seiring waktu cita-citanya tersebut diakuinya mulai pudar. Ia lebih memilih menjalani aktivitas seperti remaja pada umumnya.

Seolah menjadi takdirnya, ketika menginjak semester III, ia mendapat informasi kalau ada seleksi untuk menjadi Polwan. a�?Ibu kebetulan ngasih tahu kalau ada seleksi Polwan. Karena dia tahu kalau aku sejak kecil bercita-cita jadi Polwan. Sempat bingung juga sih mau ikut atau nggak, karena saat itu kebetulan juga sedang ada ujian semester,a�? tuturnya.

Meski bimbang, Tiara akhirnya memutuskan untuk ikut seleksi. Tak ia pernah ia sangka, seleksi yang diikutinya ia rasakan cukup berat. Namun, berkat kepribadiannya yang memang pantang menyerah dan melakukan semua hal secara total, ia berhasil lolos seleksi.

a�?Saya termotivasi karena ingin menunjukkan bahwa saya itu tidak manja. Malah saya ingin membuktikan bahwa apa yang bisa dilakukan laki-laki juga bisa saya lakukan,a�? ungkapnya.

Sama seperti Tiara, Bila juga mengaku termotivasi menjadi Polwan karena memiliki seorang kakek yang menjadi polisi veteran. Ia ingin melanjutkan garis keturunan keluarganya agar tetap ada yang menjadi aparat penegak hukum.

a�?Dari dulu aku selalu mengagumi sosok polisi. Makanya aku selalu berolahraga agar bisa menjadi Polwan,a�? tuturnya polos.

Dengan semua persiapan dan latihan untuk mengikuti seleksi, Bila tidak menemui kesulitan yang terlalu berat saat proses seleksi. Hobinya berolahraga dirasakan sangat membantunya melalui setiap proses seleksi.

a�?Kalau aku terus terang ingin jadi Polwan agar bisa melindungi diri dan keluarga,a�? bebernya.

Dengan pilihan yang ditentukan kedua orang gadis belia ini, mereka mau tidak mau harus menanggung risiko profesinya. Suara ledakan hingga senapan api menjadi akrab di telinga mereka. Latihan fisik seolah menjadi sarapan pagi keduanya.

Awal mulai latihan menembak hingga menjinakkan bom, keduanya mengaku masih takut. Karena suara senapan api yang biasa mereka gunakan berlatih lebih keras dari yang biasa ditonton di film-film.

a�?Iya, awalnya memang takut. Apalagi senjatanya juga cukup berat. Selain itu, kita juga harus tetap berlatih bela diri dan latihan fisik lainnya. Tapi lama-lama terbiasa,a�? ungkap Bila.

Yang paling menakutkan bagi keduanya adalah ketika berlatih menjinakkan bom. Latihan seperti ini dirasakannya cukup menguras tenaga dan pikiran. Belum lagi rasa was-was jika gagal melakukan misi.

a�?Untungnya semua latihan ada SOP. Jadi lebih aman,a�? cetusnya.

Dengan pilihan profesi sebagai anggota Brimob, mereka sadar konsekuensi yang akan dihadapi. Semua kehidupan mereka berubah. Tapi tidak selamanya lebih berat, ada beberapa sisi yang diakuinya membuat mereka merasa bangga dan lebih dihormati. Orang yang mengenal mereka akan berpikir seribu kali untuk mengganggunya. Teman-teman mereka rasakan lebih menaruh hormat dan keluarga lebih bangga.

Dua perempuan ini mengaku saat ini masih single. Dengan pesona dan kemampuan yang dimilikinya, mereka bisa dengan mudah menjinakkan laki-laki seperti menjinakkan bom. (Hamdani Wathoni/Mataram/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka