Ketik disini

Giri Menang Headline

Kampung Adat Karang Bayan, Bangunan Tradisional Tinggal Empat

Bagikan

Perjalanan waktu merubah wajah kampung adat Karang Bayan, Kecamatan Lingsar. Desa wisata itu tak lagi dihiasi oleh rumah-rumah tradisional Sasak, melainkan sudah berubah menjadi rumah batu. Masjid kuno yang menjadi peninggalan sejarah di desa tersebut kini menjadi satu-satunya daya tarik.

***

KAMPUNG adat Karang Bayan dulunya primadona. Sebelum meledaknya Bom Bali, kampung yang hanya berjarak tempuh sekitar 30 menit dari Kota Mataram itu tak pernah sepi pengunjung, baik hari biasa maupun hari libur. Ada saja wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang berkunjung.

Salah satu daya tariknya adalah keberadaan rumah tradisional khas Sasak yang masih dihuni warga. Ditambah lagi keberadaan Masjid Kuno yang dipercaya sudah berusia lebih dari tujuh abad.

Asnadi, warga setempat, mengenang betapa aktifnya perekonomian masyarakat sekitar kala itu. Ditopang oleh sektor wisata, warga kampung adat pun sebagian menggantungkan hidupnya dari membuat aneka kerajinan.

a�?Pokoknya sebelum kasus bom Bali itu masih sangat ramai di sini. Setelah itu, gak pernah bangkit lagi wisata di desa ini,a�? kata Asnadi.

Saat ini, untuk mengunjungi kampung adat Karang Bayan pun terbilang tak mudah. Meski akses jalan terbilang mulus, namun sangat minim fasilitas penunjuk arah. Sebuah papan berisikan informasi mengenai desa wisata itu pun sudah rusak dan nyaris tak terlihat lagi. Jika tak ingin tersesat, pengunjung pun harus aktif bertanya pada warga sekitar.

Saat ini, kampung adat Karang Bayan sekilas tak jauh berbeda dari pemukiman warga pada umumnya. Rumah-rumah warga yang beberapa tahun lalu masih menggunakan anyaman bambu alias bedek dan beralaskan tanah, kini mulai berubah menjadi rumah permanen dengan arsitektur masa kini. Pantauan Lombok Post, kini, hanya tersisa empat rumah saja yang masih tradisional.

Keempat bangunan tradisional itu adalah Bale Adat, Sekenem, Bangaran dan Masjid. Di masa lampau, Bale Adat digunakan sebagai tempat berkumpul, di mana penduduk desa diskusi kegiatan sosial mereka. Sekarang tempat ini dihuni oleh generasi ke-5 dari kepala desa.

Sekenem adalah ruang tamu. Dalam sekenem, ada berugaq dimana tamu bisa beristirahat. Sementara dibalik Bale Adat berdiri Bangaran. Bangaran adalah monumen yang melambangkan batu pertama diletakkan ketika pertama kali nenek moyang masyarakat Karang Bayan membangun desa ini.

Meski banyak berubah, kampung adat ini tetap menjaga warisan leluhurnya yang tak ternilai yakni, keberadaan Masjid Kuno Karang Bayan. Sekalipun, rumah-rumah di sekitar masjid ini sudah berubah modern, kondisi masjid kuno itu sendiri tak berubah setelah berabad-abad.

a�?Memang tidak boleh dirubah. Dari dulu tetap begini. Kecuali waktu itu sepat direnovasi karena rusak oleh angin kencang. Tapi renovasinya juga sesuai bentuk aslinya, tidak sembarangan,a�? kata juru kunci Masjid Kuno Karang Bayan, Nuarsah.

Menurutnya, saat ini, masih saja ada segelintir wisatawan mancanegara yang datang mengunjungi masjid kuno tersebut. Umumnya, mereka adalah para pakar sejarah yang tertarik meneliti dan mendalami sejarah Masjid Karang Bayan.

a�?Kadang dari Belanda dan dari Jerman sering ke sini,a�? katanya.

Sayangnya, di masjid kuno itu sendiri, lagi-lagi memang masih minim fasilitas umum seperti papan seputar sejarah peninggalan masjid kuno. Pengunjung yang datang pun harus banyak bertanya pada sang juru kunci karena di sekitar masjid tak ada informasi seputar sejarah masjid tersebut.

Untuk menghidupkan tempat masjid bersejarah tersebut, para sesepuh telah sepakat mengajarkan anak-anak mengaji Alquran setiap malam. Rutinitas ini sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir. (Rahmatul Furqan, Giri Menanguki/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka