Ketik disini

Headline Metropolis

Obat Keras Daftar G Masih Beredar di Mataram, Ini Buktinya

Bagikan

Peredaran obat keras Daftar G menjadi momok menakutkan di Gomong Lama. Beberapa pekan lalu, penyalahgunaan obat ini dilakukan secara masif. Pemberitaan media, dan penindakan aparat membuat penyalahgunaan obat keras ini dapat ditekan. Tapi belum berhenti sama sekali.

***A�

MATARAM a�� Untuk membuktikan obat keras daftar G ini masih beredar atau tidak ada, Lombok Post meminta bantuan informan yang cukup mengenal titik penjualan obat keras daftar G. Hasilnya, dari penuturan relawan yang enggan disebutkan namanya tersebut, salah satu jenis obat keras Daftar G yakni Tremadol, berhasil didapat.

a�?Bahasa kerennya bukan Tramadol, tapi Trem,a�? tuturnya. Rupanya penggerbekan pengedar dan pemasangan beberapa spanduk di berbagai tempat, oleh kepala lingkungan dan warga beberapa waktu lalu belum bisa menghentikan secara total peredaran obat tersebut.

Agak tertutup, meski tak terlalu rahasia. Buktinya, informan yang membantu Lombok Post untuk membuktikan peredaran obat ini masih terjadi di Gomong Lama, dengan mudah mendapatkannya.

a�?Kemarin memang dijual seperti kacang goreng, di setiap gang. Selalu ada jual beli, tapi sekarang sudah lebih tertutup,a�? ujarnya.

Sumber Lombok Post ini lalu mendatangi titik yang kerap dijadikan lokasi jual beli. Dari penuturannya, mereka kini lebih tertutup. Sembunyi-sembunyi, saat melakukan jual beli. Beberapa remaja, menunggu di pertigaan gang. Sembari menanti pembeli, mereka bercanda, sambil terus memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang datang menghapiri.

a�?Mereka menyimpannya dalam plastik hitam, lalu setiap yang beli pura-pura tidak tahu, tapi kemudian di sebuah sudut sempit, mereka memperjual belikan obat kerasnya,a�? ulas dia.

Karena jual belinya lebih tertutup, harga Trem dijual lebih mahal. Jika sebelumnya 10 ribu bisa dapat 4 tablet, atau 1 tablet dihargai Rp 2500, kini menjadi Rp 3 ribu. Sampai kemudian koran ini melihat tempat nongkrong para penjual trem, di titik yang telah dijelaskan informan koran ini, para remaja tanggung itu masih setia menunggu pelanggan-pelanggan yang mencari obat keras daftar G itu.

Perang Lawan Pengedar

Kepala Lingkungan Gomong Lama Misbah tak menampik, meski sudah dilakukan penggerebekan dan pemasangan spanduk para pengedar masih bebas berkeliaran di wilayahnya. Karena itulah ia dan sejumlah warga yang peduli dengan generasi muda, menyatakan perang melawan para pengedar.

a�?Kenapa harus takut, saya harus selamatkan generasi muda disini,a�? kata Misbah.

Ia mengakui penjual Trem sebelum ada penindakan dari aparat dan penempelan spanduk jumlahnya sangat banyak. Bahkan ia menyebut 50 persen warganya, menjual obat keras yang harusnya digunakan di bawah pengawasan dokter.

a�?Ada ibu-ibu jual sayur, tapi itu kedoknya saja. Saat ditanya jual obat keras, ternyata jual juga,a�? kesalnya.

Ia mengaku risau dengan para anak-anak di wilayahnya. Mulai tertingkah aneh dan mengkhawatirkan sejak mengonsumsi obat keras itu. Mereka cendrung bersifat lebih sulit dikendalikan dan berbuat semaunya. Ia khawatir obat itu dapat memicu tindakan kriminal yang dapat membahayakan banyak pihak.

a�?Karena itu kami sepakat melakukan perang lawan obat itu bersama warga yang peduli lainnya,a�? tegasnya.

Misbah berharap aparat kepolisian yang diterjunkan bisa lebih banyak lagi membantu mengamankan wilayahnya dari penjualan obat keras itu. Bahkan, jika sebelumnya ada wacana BNN juga akan turun, melakukan pengawasan terhadap penyalahgunaan obat keras, tidak hanya berhenti sampai wacana saja.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, Usman Hadi mengatakan, sebenarnya tidak hanya obat keras yang bisa disalahgunakan. Pada dasarnya semua obat adalah racun. Artinya, jika obat apapun, baik yang kategori bebas atau terbatas dikonsumsi melebihi kapasitas tertentu (over dosis), dapat memberi dampak kesehatan buruk bagi penggunanya.

a�?Semua obat adalah racun. Jadi tidak hanya obat yang masuk dalam kategori obat keras yang berbahaya, obat biasa juga kalau over dosis, bisa sangat berbahaya,a�? ulasnya.

Karena itu, pentingnya pengawasan dokter setiap membeli obat yang akan dikonsumsi. Jumlah apotik di Kota Mataram, tercatat sekitar 120 unit. Apotik-apotik itu ada di bawah pengawasan BPOM dan pembinaan Dinas Kesehatan. Setiap bulan, pemilik apotik harus membuat laporan pada dinas kesehatan jenis obat apa yang dijual.

a�?Jadi datanya lengkap, obat untuk siapa, berapa jumlah yang diberikan dan untuk apa, itu lengkap kita terima,a�? imbuhnya.

Menariknya, ada peluang distribusi ilegal bisa terjadi, dari mekanisme teguran yang diberikan pada apotik yang memberi laporan tidak valid untuk obat-obatan yang terjual. Mereka baru ditindak tegas, jika sudah dianggap melakukan kesalahan berulang-ulang.

a�?Teguran dilakukan, jika mereka misalnya membuat laporan yang kurang valid berulang-ulang,a�?ulasnya.

Apotik-apotik nakal, baru ditindak setelah terbit rekomendasi, dari BPOM untuk ditutup. Sementara sulit menjamin, semua apotik terbebas dari upaya main kucing-kucingan. Tawaran untung besar bisa jadi salah satu alasan, mereka akhirnya menjual secara gelap stok obat keras daftar G yang dimilikinya.

A�a�?BPOM bisa keluarkan rekom (rekomendasi), kalau diminta dititup ya kita tutup,a�? tandasnya.

Dikpora : Tontonan Anak harus Diawasi

Penyalahgunaan obat keras Daftar G boleh jadi bentuk a�?pelariana�� setelah ruang peredaran narkoba dipersempit. Selain itu, alasan harga murah juga alasan kuat, obat-obat ini laris manis, bak kacang goreng. Para penjual tidak peduli dengan nasib para pengkonsumsi yang bertaruh nyawa, hanya untuk mendapat sensasi rasa setelah mengonsumi obat itu. Mereka sibuk meraup untung-demi untung dari orang-orang yang mungkin sudah bosan dengan keadaanya saat ini.

Parahnya, seperti kasus di Gomong Lama, itu penyalahguna disebutkan sebagian besar adalah anak-anak. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Mataram, Sudenom mengaku khawatir dengan kenekanan anak-anak, mencari jalan pintas mendapatkan kesenangan yang dimauinya.

a�?Tontonan dan film-film sangat mempengaruhi,a�? keluh Sudenom.

Banyak acara televisi yang kurang mendidik. Tetapi sangat difavoritkan anak-anak. Secara tidak langsung itu mempengaruhi pola pikir anak-anak yang masih dalam masa-masa pencarian identitas diri.

a�?Orang tua harus ikut mengawasi anak-anak dirumah. Kita tidak mungkin melakukan pengawasan, di luar jam sekolah,a�? ulasnya.

Selain arus informasi ancaman yang paling serius bagi anak didik adalah lingkungan. Banyak kasus yang menyebutkan anak-anak akhirnya berprilaku negatif, karena ada didikan dari orang sekitarnya.

a�?Memang tidak dari orang tua, tetapi bisa teman, kerabat atau siapapun di lingkaran dia, diarahkan untuk melakukan hal negatif. Ini yang harus kita bina, agar anak-anak punya benteng yang kuat dari pengaruh-pengaruh negatif,a�? tandasnya.

Sementara itu, Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh mengaku kaget dengan adanya penyalahgunaan obat keras Daftar G yang dijual dengan mudah di kawasan Gomong Lama. Dalam waktu dekat dirinya akan berkoordinasi dengan aparat untuk melakukan penindakan.

a�?Ya, kita akan operasi. Ini kelemahan kita memantau, setelah itu beredar di beberapa tempat baru kita kaget,a�? ujarnya.

Apapun caranya, lanjut Ahyar obat-obatan itu harus ditarik. Begitu juga kantong-kantong yang kedapatan menyimpan obat keras Daftar G harus segera digerebek berikut dengan pengedarnya juga harus ditangkap, sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku.

a�?Kita harus tarik obat-obat itu jangan sampai beredar bebas,a�? imbuhnya.

Rencana menyiapkan posko pengawasan juga bisa jadi pertimbangan agar peredaran obat-obat keras itu dipersempit. Namun, untuk itu terlebih dahulu ia perlu melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian, TNI dan semua pihak yang memiliki kepentingan dalam kasus ini.

Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Mataram menegaskan terus melakukan pengawasan terhadap pasien yang membeli obat di apotik. Tak hanya obat dengan kode lingkaran merah alias obat keras saja, obat dengan kode hijau dan biru juga diperhatikan.

a�?Potensi penyimpangan itu ada,a�? ujar Ketua IAI Mataram, Lobar dan KLU Andang Sari.

Oleh para penyalahguna obat, melakukan beragam cara untuk mendapat obat yang bisa membuat sensasi teler, halusinasi, fly dan sebagainya itu. Untuk menekannya, aturan yang ada mewajibkan setiap apotik diawasi langsung apoteker sebagai ahli obat-obatan. Setiap obat yang keluar, apapun jenisnya harus terpantau dan tercatat rapi.

a�?Jelas ada yang lolos, karena ini memang obat yang bisa diperjualbelikan,a�? ujarnya.

Namun dengan pola yang diterapkan, ia meyakini jumlah obat yang keluar dari apotik, kemudian disalahgunakan kecil persentasenya. Dicontohkan salah satu obat flu cair yang diperjualbelikan bebas, oleh penyalah guna kerap dicampur sejumlah bahan lain untuk memberi sensasi tertentu. Ada juga obat yang sebenarnya diperuntukkan untuk bayi namun bisa dirubah manfaatnya.

a�?Misalnya dia mau beli obat itu, apoteker pasti tanya-tanya dulu,a�? ujarnya.

Ketika dianggap ada kejanggalan, apoteker umumnya menolak memberikan obat yang dimaksud. a�?Mau beli, terus ditanya, yang dibelikan umur berapa, sakitnya apa, gejalanya bagiamana, dan banyak lagi, kalau mencurigakan ya ditolak,a�? urainya.

Dengan pola itu, ia meyakini bisa menekan peredaran obat resmi yang bisa disalahgunakan. Terkait temuan obat keras yang diperjualbelikan di sejumlah lingkungan di Mataram, Andang Sari meyakini bukan berasal dari apotik.

a�?Kita lihat sendiri polanya, fakta lapangan menunjukkan mereka masuk dengan ilegal,a�? ujarnya.

a�?Kalau apotik nakal, kemungkinan ada juga, 2013 lalu satu apotik kami tutup,a�? lanjut wanita berjilbab itu.

Dia menegaskan IAI tak akan segan menindak apotik manapun yang terbukti menyalahgunakan izin. Apotik lanjutnya berkewajiban aktif mengawasi potensi penyimpangan yang ada. Langkah tutup mata secara sengaja juga tak dibolehkan. (zad/yuk/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka