Ketik disini

Metropolis

BBPOM Minta Warga Tidak Panik

Bagikan

MATARAM – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram mengecam oknum pengedar obat keras. Perbuatan tersebut dinilai keterlaluan, karena sampai dibeli oleh para pelajar. a�?Keterlaluan,a�? kata Kepala Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BBPOM Mataram Ni GAN Suarningsih, kemarin (6/9).

Ia menjelaskan, pada dasarnya obat merupakan salah satu komponen yang tidak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat digunakan untuk mempengaruhi sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemuluhan, dan peningkatan kesehatan. Namun obat digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu golongan narkotika, psikotropika, obat keras, obat bebas terbatas dan obat bebas.

Untuk obat golongan narkotika, psikotropika dan obat keras hanya diperoleh di sarana pelayanan kesehatan berdasarkan resep dokter. Semua obat yang beredar wajib memiliki izin edar dari BPOM)sebagai bukti obat tersebut telah memenuhi standar mutu, keamanan dan manfaat. a�?Semua golongan obat tersebut hanya untuk kepentingan pelayanan kesehatan, bukan untuk penyalahgunaan,a�? katanya.

Penyalahgunaan inilah yang dihindari. Karena bila dikonsumsi terus tanpa resep dokter, maka dapat menyerang tubuh. Seperti, jantung, lever, dan ginjal akan dipaksa bekerja lebih keras sehingga kesehatan akan terganggu.

Setiap obat harus dilengkapi dengan informasi yang jelas tentang nama obat, komposisi, cara penggunaan, dosis pemakaian, kontra indikasi dan cara penyimpanan. Mekanisme distribusi obat telah diatur melalui peraturan perundang-undangan, mulai dari produsen indusrti framasi, distributor, dan sarana pelayanan kesehatan. Seperti apotek, rumah sakit, puskesmas, toko obat, dan klinik.

Di semua simpul distribusi dan pelayanan kesehatan dilakukan pengawasan. Baik secara mandiri oleh BBPOM Mataram maupun lintas sektor dengan melibatkan Dinas Kesehatan. Khusus obat golongan narkotika, psikotropika dan obat keras distribusinya hanya sampai sarana pelayanan kesehatan, tidak boleh ke toko obat. a�?Setiap tahun yang diperiksa 300 sarana distribusi maupun pelayanan kesehatan,a�? kata Suarningsih.

Kasus yang muncul di Gomong Mataram menurutnya merupakan bentuk penyalahgunaan obat keras. Sengaja digunakan untuk kepentingan di luar keperluan kesehatan. Dari beberapa produk yang dijual seperti Somadril dan Dextromethorphan HBR sudah dicabut izin edarnya. a�?Kedua produk itu tidak digunakan lagi untuk pelayanan kesehatan,a�? tegasnya.

Berdasarkan pengawasan yang dilakukan BBPOM Mataram, di NTB tidak ditemukan penyerahan tramadol oleh sarana pelayanan kesehatan tanpa resep dokter. Obat keras tersebut beredar masuk ke NTB melalui jalur ilegal. Tidak melalui mata rantai distribusi obat sebagaimana mestinya.

a�?Penyalahgunaan obat merupakan perilaku menyimpang, dan merupakan penyakit sosial yang membutuhkan penanganan secara komprehensif kita semua,a�? ujarnya.

Untuk kasus Tramadol, di NTB sudah ada satu tersangka yang diproses secara hukum. Tepatnya di Kota Bima dan telah diputus pengadilan tanggal 18 Agustus 2015. Ia meminta masyarakat tidak perlu khawatir, BBPOM akan terus melakukan pengawasan agar masyarakat tetap aman. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum.

BBPOM Mataram mengimbau kepada penanggungjawab sarana kesehatan dan distributor untuk hati-hati memberikan obat daftar G agar tidak disalahgunakan. Bila ditemukan praktik penyalahgunaan, warga diharapkan proaktif melaporkan. Peyalahguna akan dikenakan sanksi tegas. (ili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka