Ketik disini

Headline Oase

Merindu Tanah Suci

Bagikan

Adakah tempat yang mampu menarik jutaan orang setiap tahun secara terus menerus seperti Tanah Suci? Lebih dari dua milenium lalu Mekkah sudah demikian. Magnetnya mampu menarik para peziarah dari penjuru dunia untuk menempuh jarak berisiko.

Saat transportasi belum semaju kini orang-orang dari kepulauan Nusantara punya perjuangan ekstraA� untuk mencapainya.A� Bahkan hingga penghujung abad 18, berhaji dapat memakan waktu lebih dari setahun.

Kala itu kapal layar sangat bergantung pada musim angin untuk membawa peziarah ke Arabia. A�Demikian halnya ketika hendak pulang, mereka harus menunggu musim A�berbalik agar angin mendorong kapal kembali ke kampung halaman.

Dalam perjalanan panjang inilah, laut tak selalu ramah. Di musim tertentu kapal mudah diterjang ombak dan disapu badai. Ini belum termasuk barisan pos perompak yang sewaktu-waktu datang menyerang sepanjang perairan.

Di A�tahun 1893 misalnya, kapal Samoa yang disewa maskapai haji The Java Agency asal Batavia porak poranda diserang badai. Dalam pelayaran kembali ke Hindia sekitar 3600 penumpang terobang ambing di lautan, ratusan jamaah dilaporkan meninggal.

Ancaman di daratan Arab tak kalah mengerikan. A�1865A� wabah kolera mengacaukan musim haji dan menelan 15A� ribu orang di Mekkah. Wabah lainnya terjadi 1881 dan 1882A� dengan korban mencapai enam ribu orang. Dokter Abdoel Fatah yang berdinas di Jeddah antara 1926-1932 A�menyebut sekitar tahun itu rata-rata jamaah yang meninggal di Tanah Suci mencapai 10 persen.

Selain penyakit, para peziarah di masa lampau juga kerap dihantui serangan suku-suku Badui yang tersebar sepanjang jalan. Perang antar klan, pemberontakan hingga perebutan kuasa atas Tanah Haram adalah sejarah yang terus berulang.

Kudeta gagal yang dilancarkan bekas kopral Garda Nasional Saudi, Juhayman al-Utaybi 20 November 1979 silam belum A�lekang dalam ingatan. Yaroslav Trofimov dalam Kudeta Mekkah menyebutA� 127 tentara saudi meregang nyawa dan 451 terluka, 117 pemberontak tewas, 26 haji meninggal, 110 lainnya luka-luka termasuk dari Indonesia.

Selain itu hasrat para peziarah ke Tanah Suci sejak lama menjadi ladang bagi para penipu, perampok dan sejenisnya. Snouck Hurgronje dalam Mekka in the Latter Part of the 19th Century mencatat keluguan dan kenaifan para jamaah Nusantara akan ibadah haji menjadi sasaran empuk penipuan. Saking a�?empuknyaa�? para penjahat di masa itu menyamakanA� para Jawi (jamaah Asal Nusantara) dengan rombongan ternak yang mudah diperas.

Para penipu tersebut bisa datang dari berbagai lapisan mulai dariA� warga Arab biasa, pedagang hingga para syaikh. Peziarah yang terpukau dengan hal-hal serba Arab mudah saja dikibuli dengan ragam ritus dan ziarah tak penting yang disodorkan selama musim Haji. Dan ujungnya jelas harus membayar sejumlah uang.

Bupati Bandung, RAA Wiranatakusuma yang berhaji sekitar 1924 memberi contoh. Seorang jemaah diminta membayar sebuah tiang Masjidil Haram dengan harga yang tinggi. Oleh SiA� penipu, konon uang itu bakal diwakafkan ke masjid tersebut.

Daya tarik Mekkah dan Madinah adalah sumber keuntungan bagi para kapitalis dan tentu saja penguasa Tanah Suci. J.G.M. Herklots, bos agen perjalanan haji The Java Agency di atas pernah memalsukan identitasnya sebagai Haji Abdul Hamid, pribumi muslim Hindia Belanda agar leluasa menjaring jamaah yang hendak pulang ke Nusantara.

Karena non-Muslim, Herklots tentu tak boleh masuk ke Tanah Suci. Tapi lewat koneksinya dengan birokrat Syarif Mekkah dia sukses menjalankan modusnya. Inilah yang membuat Herklots aman di Tanah Haram meski banyak jemaah yang mengadukan buruknya pelayanan haji yang ia jual.

Namun rangkaian hambatan itu toh tak menyurutkan minat umat Muslim untuk bertandang keA� Mekkah. Setiap tahun jumlahnya terus bertambah. Bahkan di Indonesia tumpukan uang tak ujuk-ujuk bisa mengirim anda langsung berhaji. Dalam prosedur normal anda bisa menunggu hingga 30 tahun agar dapat giliran. Tentu dengan ongkos yang tak murah.

Dalam satu dan lain hal, ziarah adalah cara merawat cinta kepada Nabi Mulia, Muhammad bin Abdullah. Kerinduan berusia 1400 tahun lebih yang harus terus dinyalakan. Terlebih ketika zaman miskin panutan seperti ini, jejak Al Amin A�demikian dirindukan. Dimana lagi tanah yang lebih dekat dengan kekasih tuhan ini selain Tanah Haram?.

Tapi masalahnya gemerlap kapitalisme yang kini mengepung Tanah Suci, menghadirkan tantangan tersendiri bagi peziarah. A�A�Rumah-rumah itu, madrasah hingga alun-alun kecoklatan tempat beliau berdakwah telah dirubuhkan. Penguasa tanah suci seperti tak ramah dengan jejak sejarah tersebut.

Peziarah kini lebih mudah menemukanA� barisan hotel jangkung hingga mal-mal megah daripada tinggalan-tinggalan sejarah hidup Nabi yang Mulia. Dan pada jet-jet pribadi, kapal pesiar hingga mansion mewah A�bangsawan penjaga Tanah Suci, rasanya tauladan kesederhanaan yang diajarkan Bani Hasyim itu seperti telah hilang.

Tapi apalah artinya borok-borok jahiliyah di tanah Arab itu dibanding jejak Mu Ya Maulana!.

Penulis : Zulhakim,A� tinggal di Ampenan

Komentar

Komentar