Ketik disini

Sudut Pandang

Haji dan Komunikasi Antarbudaya

Bagikan

IBADAH haji merupakan rukun Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat, dan puasa. Ibadah yang berisi napak tilas perjalanan suci Nabi Ibrahim AS dan keluarganya ini menjadi idaman setiap umat muslim dan muslimat di seluruh penjuru dunia. Keterbatasan tempat yang bisa menampung para tamu Allah SWT di Makkah Almuqarramah membuat pemerintah Saudi Arabia membatasi jumlah (kuota) haji setiap tahunnya. Warga muslim Indonesia yang sangat antusias untuk menuaikan rukun Islam terakhir tersebut terpaksa mengantre lama baru dapat melaksanakannya.

Haji tidak hanya ibadah spiritual antara hamba dengan Tuhannya, tetapi juga latihan dan a�?ibadaha�? fisik dan mental. Napak tilas suci dan religius dalam ibadah haji membutuhkan pertahanan fisik yang prima karena banyak pergerakan dan perjalanan yang harus diikuti. Pertolongan Allah SWT dan keprimaan kondisi fisik personal akan membuat ritual ibadah haji dapat dilakoni secara maksimal. Belum lagi harus berhadapan dan berkontak dengan jamaah dari berbagai negara yang memiliki beragam bentuk fisik.

Haji juga merupakan a�?jihada�? mental-psikologis karena membutuhkan kesabaran di tengah tantangan atau cobaan situasi yang kita hadapi. Cobaan dan tantangan psikis atau mental tidk hanya bersumber dari situasi alam Makkah yang berbeda dengan kondisi di tanah air, tetapi juga berasal dari sikap dan perilaku jamaah lain, baik yang memiliki hubungan keluarga atau daerah, dan atau negara dengan kita, maupun yang tidak.

Kompleksnya tantangan yang dihadapi setiap orang yang melaksanakan ibadah haji mencerminkan ibadah haji dalam konteks yang lain dimaknai sebagai muktamar antarbudaya. Berkumpulnya masyarakat muslim dunia dalam satu tempat secara bersamaan merupakan potret pertemuan lintasbudaya, yang di dalamnya berlangsung komunikasi antarbudaya. Bahkan dalam konteks yang lebih mikro, pertemuan setiap jamaah dengan orang lain (dalam satu regu, rombongan, dan kloter) merupakan bentuk komunikasi antarbudaya, karena mereka baru ketemu, dengan karakter dan latar budaya yang berbeda-beda.

Adanya perbedaan sifat dan karakter di antara jamaah haji yang berkumpul dalam satu situasi dan tempat yang sama mengharuskan untuk menghadirkan sikap saling menghormati dan menghargai di antara mereka. Efektivitas komunikasi antarbudaya antara lain ditentukan sejauh mana setiap peserta komunikasi membangun saling memahami. Setiap jamaah haji idealnya membangun secara bersama irisan kesamaan untuk menjamin terciptanya komunikasi yang efektif atau komunikasi yang mengena. Salah satu prinsip komunikasi yang efektif adalah bila terdapat kesamaan latarbelakang budaya di antara orang berkomunikasi (Mulyana, 2003).

Kesamaan kostum (seperti kain ihram) yang dikenakan jamaah haji saat wukuf menjadi symbol kesamaan yang bisa diturunkan dalam kesamaan pemahaman dan sikap saat berinteraksi selama pelaksanaan ritual haji. Irisan-irisan kesamaan dalam bentuk simbolik seperti itu dapat diikuti dengan memperbesar irisan kesamaan berbentuk psikis sehingga bisa berkonsekuensi bagi hadirnya kesamaan, kekompakan dalam bertutur dan bersikap selama berada di tanah haram. Komunikasi yang efektif berlangsung mana kala setiap yang terlibat di dalamnya memiliki kesamaan motif, keseiramaan orientasi, dan senasib sepenanggungan. Dalam posisi kesamaan seperti ini, semua jamaah akan terlebur dalam perasaan yang sama sehingga komunikasi di antara jamaah berlangsung lebih efektif.

Memaksakan kehendak atau cara serta style personal di tengah keragaman budaya merupakan langkah egois yang berakibat disharmoni dalam komunikasi antarbudaya. Maka tidak heran bila banyak terjadi disharmoni antara orang dekat atau antara jamaah yang baru ketemu ketika pelaksanaan ibadah haji. Kesamaan selama idabah haji sebaiknya tidak berhenti pada kesamaan niat dan bacaan, tetapi harus dilengkapi dengan kesamaan sikap dan perilaku dalam saling menghargai. Dalam kondisi dan situasi apa pun, setiap jamaah haji dituntut untuk saling memahami. Jamaah haji adalah kumpulan keluarga baru yang memerlukan saling pengertian tingkat tinggi, agar keharmonisan dalam keluarga yang bernama jamaah haji tetap terjaga.

Untuk bisa saling memahami diperlukan pengayaan yang dalam akan peran, eksistensi, dan karakter masing-masing. Dalam konteks inilah, konsep taking the role of the other (mengambil peran orang lain) dari Mead (1967) dapat dipinjam untuk modal bagi setiap orang yang terlibat dalam komunikasi antarbudaya seperti dalam perjalanan ibadah haji. Seorang suami harus memahami perasaan istrinya, demikian juga sebaliknya. Para anggota regu atau rombongan harus bisa memahami bagaimana kondisi ketua regu apalagi pimpinan rombongan yang harus membagi waktu dan tenaganya auntuk mengurus sekian banyak jamaah. Sama halnya dengan tuntutan kepada pimpinan regu dan rombongan atau kloter agar memperhatikan ekspektasi atau permintaan para jamaah untuk dibimbing atau diurus.

Mengasah kecerdasan berkomunikasi antarbudaya (dalam arti yang lebih luas) menjadi pelajaran lain untuk melengkapi dimensi spiritual dari ibadah haji. Selama berhaji, setiap pelakunya diterpa dengan kondisi multibudaya, sehingga sepulang mengerjakan haji dapat lebih bijak menyikapi setiap perbedaan yang ditemuinya di tanah air. Konflik-konflik sosial yang terjadi di tanah air antara lain disebabkan ketidakbijakan setiap diri untuk menyikapi perbedaan, sehingga ketegangan antarpersonal berlanjut menjadi konflik social yang berefek negative banyak bagi masyarakat dan daerah. Para haji yang telah terlatih berinteraksi antarbudaya selama di Makkah dan Madinah diharapkan menjadi motor penggerak hidup toleran yang dihiasi dengan nuansa hidup yang inklusif dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Kita berharap agar ada korelasi antara semakin banyak anak bangsa yang berhaji, dengan semakin meningkatnya tingkat kedamaian dan inklusivitas kehidupan di tanah air. Semoga. (*/r1)

Komentar

Komentar