Ketik disini

Metropolis

Kalau Tidak Hobi, Jangan Diikuti, Bisa Gila!

Bagikan

Love Bird boleh disebut burung mewah. Harganya bisa mencapai ratusan juta. Warna bulu keturunannya pun bisa berubah-ubah dengan menggunakan rumus-rumus warna!

***

JADI ingat kisah Naruto. Sebuah anime populer dari negeri matahari terbit, Jepang. Di salah satu potongan kisah, katanya rambut Naruto, sebenarnya bukan kuning. Tapi lebih ke orange.

Itu, karena ibunya Uzumaki Kushina, warna rambutnya merah. Sementara ayahnya Minato Namikaze rambutnya, kuning. Dari percampuran itu, rambut Naruto pun lebih ke arah orange, dominan kuning.

Meski cerita ini hanya fiktif belaka, tapi cukup menimbulkan rasa penasaran. Jangan-jangan penulis cerita anime Naruto yakni Masashi Kishimoto terispirasi dari Burung Cinta alias Love Bird.

Burung ini juga demikian. Jika, burung trah A dicampur burung trah B, maka hasilnya adalah percampuran trah A dan B. Kebetulan lainnya lagi, burung ini konon adalah jenis burung impor. “Begitu rumusnya kira-kira,a�? tutur Iqra Fidin.

Pria ini boleh dianggap nekat. Sebab, selain tidak banyakA� yang tahu, pasaran burung ini sepertinya cocok hanya untuk kalangan elit. Dari kolektor burung, hingga bos borjuis.

Harga perekornya, mahal. Bisa mencapai Rp 100 juta lebih. Dengan catatan warna bulu burung itu, termasuk jenis yang sulit dikombinasikan.

Memangnya ada orang di Lombok yang mau beli burung harganya sampai Rp 100 juta?A� a�?Makanya ini dijual kebanyakan ke luar daerah, seperti Solo, Pekalongan, Semarang. Di luar sana, banyak yang tertarik,a�? tutur Fidin dengan entengnya.

Memang, terdengar sedikit gila. Kalau burung ini bisa booming di Lombok. Perputaran uang bisa sangat tinggi. Bisa-bisa, ekonomi masyarakat melonjak bak roket, jika Fidin berhasil menularkan kegemarannya merawat Love Bird pada banyak orang. Tapi, tentu pemeliharanya bisa-bisa stres. Kalau sampai burungnya mati. Mati satu ekor sama dengan mengubur duit ratusan juta. Gila bener!

a�?Makanya orientasi pertama piara burung, harus hoby. Kalau tujuannya bisnis, bisa-bisa stres beneran lihat burungnya mati,a�? kelakarnya.

Fidin sendiri mengaku Love Birdnya yang mati sudah sebanyak delapan ekor. Lepas dua ekor. Tapi, pengusaha yang juga punya toko distributor handphone ini, mengaku tak kapok. Meski sudah banyak burungnya yang mati, ia tetap keukuh piara burung mahal itu. Hasilnya, kini ia sudah punya 72 ekor Love Bird.

Hitung saja, berapa keuntungan yang ia dapat. Jika, satu burung paling apes dihargai 30 juta misalnya. Maka dari situ ia sudah bisa untung Rp 2,16 miliar!

a�?Memang tidak semua Love Bird di atas ratusan juta. Itu hanya untuk burung Love Bird dengan warna Parblue Biola. Yang harganya lebih mahal kalau warnanya PB Biola Wing Vio, itu bisa di atas ratusan juta. Tapi kalauA� warna Biola Biru atau Biola Hijau, harganya berkisar Rp 45 jutaan,a�? ulasnya.

Dan Fidin punya semua koleksi burung itu. Kecuali PB Biola Ving Vio. Sebab ini materi warna untuk kontes 2017. Disamping ada warna Ovalin Biola. Untuk mendapatkan warna itu, memang punya rumus persilangan yang sangat kompleks.

a�?Misal, burung A dikawinkan dengan burung B, lalu burung C dikawinkan dengan burung D, nah peranakan dari kedua pasangan itu, baru dikawinkan lagi, baru dapat warna tertentu. Itu bisa dilanjutkan lagi dengan dikawinkan lagi ke indukan yang pertama,a�? ulasnya.

Memang rumit. Fidin bahkan sampai membeli inkubator dan alat penetasan sendiri hanya untuk lebih banyak mendapatkan burung dan menetaskannya. Demi mendapatkan warna-warna aneh yang tidak ada di tempat lain.

Semakin aneh dan semakin sulit warnanya, berbanding lurus juga dengan harganya yang semakin mahal. a�?Seperti yang saya bilang tadi, jangan takut campur perkawinannya dengan ini-itu. Supaya tahu hasilnya, meski dengan risiko bisa mati,a�? ulasnya.

Memang kocek yang dirogoh Fidin untuk mendapatkan laboratorium burung berikut dengan berbagai jenis trah burung, cukup dalam. Ia mengaku penghabisannya, sampai Rp 300 juta. Tanpa hoby, ia pasti sudah meninggalkan aktivitas ini. Mungkin juga intelektualitas mencampur warna itu.

a�?Saya memang sejak kecil suka burung dan unggas. Banyak jenis burung yang pernah saya piara. Dara, ayam katek, muatiara, kapas, batik, angsa dan lainnya, sayangnya semua habis dicuri,a�? kenangnya.

Tak hanya dicuri, pengalaman kurang sedap Fidin bergelut dengan burung, sampai membawa ia sering ditipu rekan-rekannya. Mungkin karena tahu, Fidin suka burung, maka rekan-rekaannya mudah saja, mengibuli ia dengan harga mahal. Hingga membeli burung yang tak pernah sampai di tangannya hingga kini.

a�?Saya memang suka bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa dari saya. Saya masih SD teman-teman saya sudah kuliah. Jadi sering dikibuli,a�? celotehnya santai, mengenang masa lalunya. Sembari, sesekali tertawa kecil.

Tapi itu pengalaman dulu. Sekarang, Fidin boleh disebut profesor burung yang jago mencampurkan trah burung dan menghasilkan warna yang siap dihargai dengan nominal fantastis.

a�?Kebanyakan memang burung-burung milik saya masih kecil. Tapi sudah dihargai Rp 15 juta. Tapi belum mau saya lepas,a�? tandasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, MATARAM/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka