Ketik disini

Praya

Sempat Dijadikan Benteng Pertahanan

Bagikan

Masjid Jamia�� Praya di Lombok Tengah (Loteng), diyakini telah berdiri sejak 1742 silam. Pemerintah pun menetapkan masjid yang satu itu, sebagai cagar budaya karena memiliki nilai historis penting bagi masyarakat Loteng.

***

Bangunan masjid yang berdiri di Kelurahan Prapen Praya itu, nampak sederhana, namun tetap ramai dikunjungi umat Islam. Tidak saja untuk pelaksanaan ibadah salat lima waktu, tapi lebih dari itu. Setiap minggu mereka menggelar pengajian rutin, apalagi selama bulan suci Ramadan.

Masjid itu adalah saksi perjalanan panjang syiar Islam, Guru Bangkol salah seorang tokoh kharismatik asal Loteng di masa lalu. Konon masjid ini adalah salah satu buah karyanya.

Nama lain Guru Bangkol sendiri yaitu, Lalu Ismail. Ia merupakan warga Kelurahan Prapen. Ia adalah salah satu guru agama, tokoh dan pemimpin pergerakan. Ia juga salah satu pengamal tarikat Qadiriyah, sehingga dia memberikan nama masjid di pusat Kota Praya itu, dengan sebutan Jamia��.

Pada tahun 1742 silam, Guru Bangkol dibantu warga bergotong-royong membangun rumah ibadah yang dimaksud. Ada tiga situs bersejarah yang masih bertahan di tempat itu meliputi, sumur, makam Guru Bangkol dan mimbar masjid.

Tiga situs bersejarah itu menjadi bagian perjalanan syiar Islam Guru Bangkol di masjid ini. Posisi makam tetap berada di halaman masjid sisi timur. Sementara, sisi barat ada juga makam-makam keluarga Guru Bangkol lainnya. Sedangkan, sisi selatan tembok pembatas kediaman warga dan sisi utara jalan raya.

Mimbar masjid juga masih kokoh. Kendati sudah berumur ratusan tahun, mimbar tetap terjaga. Yang tidak kalah pentingnya juga, sumur tua. Air sumur tidak pernah kering, kendaki musim kemarau berkepanjangan.

A�Konon masjid Jamia�� itu juga, pernah dijadikan benteng pertahanan dan perlawanan perang melawan Kerajaan Karangasem 1891-1894, dan perang melawan Belanda tahun 1896-1904.

Pada masa itu, masjid Jamia�� sempat dibakar, hingga Guru Bangkol mengajak warga untuk kembali bergotong-royong membangun masjid yang sudah rata dengan tanah. Setelah dipugar Guru Bangkol pun menyerukan kepada kaum perempuan dan anak-anak agar berlindung di dalam masjid. Sedangkan, para laki-laki siaga menjaga masjid dari luar.

Pada tahun 1926 silam, salah satu keturunan Guru Bangkol yaitu, HL Abdul Azim yang lama menuntut ilmu di Mekkah, pulang kampung dan membesarkan masjid Jamia��. Ia pulang bersama Maulana Syeikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Kedatangannya ke Praya kala itu, disambut gembira para keturunan Guru Bangkol lainnya, hingga ia di daulat sebagai imam masjid.

Seiring perkembangan waktu, masjid Jamia�� dijadikan pusat syiar Islam. Tidak saja mereka di wilayah Praya, tapi di beberapa kabupaten/kota di Lombok. a�?Rehab kedua kali masjid kita tercinta ini, pada tahun 1972 atau saat Lalu Sri Gede menjadi bupati. Namun, atapnya saja, bukan rehab besar-besaran,a�? cerita HL Moh. Syamsir yang merupakan keturunan Guru Bangkol.

Kala itu, Bupati Loteng tersebut di daulat sebagai ketua yayasan masjid Jamia��. Kemudian, pada tahun 1980 silam kepemimpinan yayasanA� berpindah tangan ke H Masa��ud. Lalu berpindah tangan lagi, hingga sekarang Syamsir.

a�?Kalau dibuat dalam bentuk buku, perjalanan berdirinya masjid Jamia�� bisa menghambiskan ratusan lembaran kertas. Tapi, inilah sekelumit historikanya,a�? ujar salah satu tokoh masyarakat Loteng tersebut.(Dedi Shopan Shopian a�� Lombok Tengah/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka