Ketik disini

Perspektif

Datang Bulan Budaya

Bagikan

DARIA�celah jendela dapur, ketika Inaq memasak, saya melihat asap mengepul serupa iringan penari. Dari perpaduan gemertak pisau dan talenan, tutup panci yang dibuka-tutup, suaranya seperti pentas musik. Harum aroma perpaduan bumbu, saya dapatA� menebak: Inaq memasak Opor ayam.

Peristiwa itu, setiap hari terjadi, sampai kami terbiasa; pada ritme, dentum suara, ketebalan asap, berbagai macam aroma. Dari peristiwa di dapur, seorang anak belajar memahami tentang nilai, cita rasa, memaknai budaya dan kebudayaan sejak dari rahim ibunya.

Penyelenggraan Bulan Budaya Lombok-Sumbawa 2016, dengan berbagai rangkaian acara, seolah sebagai puncak penegasan eksistensi, pendefinisian suku bangsa Sasak, Samawa, Mbojo yang secara administratif mendiami Provinsi NTB.

Pagelaran event, pentas seni, musik, tari, seminar, dialog bertema budaya turut menjadi bagian, parade dari gaung perayaan acara yang digelar sebulan terhitung sejak 18 Agustus sampai dengan 16 September 2016.A� Menjadi satu kebanggaan bagi saya pribadi, dapat berpartisipasi sebagai peserta dalam beberapa kesempatan yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB.

Tapi kebanggaan tidaklah cukup menjawab setiap pertanyaan yang muncul sebagai refleksi atas pagelaran ini. Rasanya biasa saja. Biasa, karena belum ada yang luar biasa yang terasa pada kebanyakan seminar dan dialog yang saya ikuti.

Di sisi lain, rasanya luar biasa, karena dapat mempertemukan kita dengan banyak sahabat, para tokoh dan pakar dari berbagai disiplin ilmu yang menjadi narasumber. Terlebih sebagaimana yang kebanyakan dilakukan peserta dapat berselfie ria dengan mereka, mengunggahnya di media sosial.

Sesi selfie menjadi yang paling menarik selain sesi a�?coffee breaka�?. Saya katakan demikian, karena dua sesi tadi menjadi semacam arena yang terasa lebih terbuka, lebih lues bagi setiap orang untuk mengekspresikan diri. Keluar dari tema, sekat batas, kita tersenyum dan tertawa, membahas segala hal tanpa hulu dan hilir. Sampai kita menyadari, pada setiap sesi yang dapat a�?keluara�? dari tema dan definisi, justru kita menemukan makna yang terdefinisi; sebagai manusia, sebagai mahluk sosial.

Memasuki pintu acara, lontaran wacana, fakta, data, asumsi mulai berloncatan dari segala penjuru. Moderator adalah mereka a�?yang andala�? mendinamisasi proses diskusi. Saya sedang melihat kebangkitan tradisi penyampaian pendapat di forum ilmiah.

Saya mengakui, sepulang dari acara, semacam ada gumpalan kecewa yang tersisa. Tapi ini subjektif, bukan karena acara terbilang singkat, kurang mengakomodir hasrat peserta untuk bertanya, menanggapi dan memperoleh jawaban dari pertanyaannya.

A�Rasa hambar itu datang dari keterasingan saya pada wajah budaya. Di atas panggung yang sebegitu megah, hampir tak ada pembicara perempuan yang hadir, membahas budaya dan kebudayaan, kepemimpinan dalam perspektif perempuan. Saya garis bawahi, bukan lantaran saya perempuan lantas mencuatkan ke-tidak- berterimaan saya, atas asumsi di atas. Namun, terasa ada soal-soal yang a�?terendapa�? dan semakin dilupakan-melupakan, di-lian-kan-meliankan dirinya dari hiruk pikuk persoalan yang dihadapi.

Sebelum saya lanjutkan, saya hendak mengintrupsi pendapat terasa sering kali memojokkan; hanya lantaran tidak lulus secara akademis dan memahami dunia seni, budaya, tidak lantas membungkam kita soal rasa berkesenian, untuk bebas membincang kebudayaan.

Saya hanya curiga, kekakuan kita selama ini memahami budaya dan kebudayaan karena kita sedikit sekali menggalinya dari sudut pandang yang berbeda, dari cara pandang mereka yang bukan a�?pelakua�?, bukan akademisi lantas dikatakan tidak akademis, tidak ilmiah.

Sejak segala hal yang kita lakukan setiap hari, yang terjadi pada kita setiap saat, sudahA� ada lembaga yang memilikiA� kewenangan, otoritas khusus untuk membahas itu semua. Maafkan saya untuk berkata demikian.

Tak ada yang lebih menyedihkan, selain terlalu banyak menghamburkan kata-kata untuk sesuatu yang a�?tak ingin didengar dan dibaca orang lain.a�? Saya menuliskan ini, bukan tanpa kecemasan. Rasanya seperti untuk pertama kalinya mengalami menstruasi/datang bulan, begitulah kecemasan ini saya tuliskan. Antara rasa takut untuk dikatakan a�?siapa Anda, yang berbicara sebagai apa tentang budaya?a�? Demikian rasanya ketika pertama kali bercak darah ditemukan.

Sekiranya perasaan itu juga muncul dari perasaan masayarakat kita yang untuk pertama kalinya diperkenalkan pada pagelaran acara-acara besar. Terasa luar bisa, terasa a�?waha�?.

Namun, seiring waktu, dan perjalanan alamiah, kita-pun lega sebab pada akhirnya siklus datang bulanan, dan acara rutin tahunan, memiliki kesamaan pada soal pembiasaan. Pada hormon yang bekerja rutin di dalam badan.

Pada pengalaman siklus datang bulan, beraneka pengalaman perempuan berbeda-beda, ada yang merasa nyeri, sensitif, pengaruh dari hormon yang bekerja. Secara sosial, mestinya hal itu juga dipandang sebagai sesuatu yang lumrah, bahwasannya setiap kritik, pendapat, sudut pandang yang berbeda dari pengalaman setiap orang merupakan hal yang biasa saja.

Tak perlu meradang, siapkan saja argumentasi yang masuk akal. Sebagaimana dalam siklus bulanan, kami perempuan pun menyiapkan jamu pereda nyeri, atau pembalut untuk menahan dampak rembesan. Sekali lagi, semua hal hanya perlu pembiasaan, untuk berterima pada kondisi alamiah, ilmiah dari siklus dan peristiwa yang terjadi.

Pada hal ihwal pelaksanaan Bulan Budaya Lombok Sumbawa yang akan segera berakhir minggu ini, mungkin setiap orang merasa lega. Tapi ada catatan yang membekas antara mengapa pelaksanaan momen budaya ini, justru terasa menjadi a�?gawea�? otoritas salah satu dinas saja? Apakah yang lain merasa tak memiliki kepentingan apa-apa untuk membincang soal budaya? Apakah soal-soal kemiskinan, soal pendidikan, soal IPM, soal pertanian, peternakan, hutan, ekonomi kreatif adalah bagian terpisah dari Budaya dan kebudayaan?

Entahlah, saya hanya bergumam sendiri. Maafkan saya untuk mengatakan semua ini. Jika hanya terasa sebagaimana perihal silkus bulanan, maka kita sudah selesai membicarakannya pada soal a�?rasa yang biasaa�?. Disbudpar dalam hal ini, telah bekerja keras untuk menyukseskan, menanggulangi, memfasilitasi acara. Selain pada soal rasa biasa, salah satu yang tidak biasa pada soal dipertemukannya para Bloger muda didaerah, merangkul mereka di tengah kegersangan dan pancaroba inovasi trobosan wisata, adalah langkah strategis yang dilakukan.

Jika dalam siklus bulanan, momen tersebut seolah terasa pada proses a�?pembuahana�?. Sebagai awal yang ke depan dari generasi-generasi yang gandrung memajukan daerah mereka tak hanya pada wacana, serta potensi yang tertidur diam, mereka hadir menerobos batas kemapanan untuk menyuarakan, berpromosi segala hal yang terjadi dalam keseharian masyarakat, sumberdaya alam, memotret setiap perubahan dari rahim tradisi yang beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Rasa yang berbeda dari datangnya Bulan Budaya Lombok-Sumbawa tahun ini. (r8)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka