Ketik disini

Feature Headline

Orang Malaysia Penasaran Ingin Melihat Langsung

Bagikan

Hampir 12 tahun silam foto udara Masjid Rahmatullah di Lampuuk, Aceh Besar, menjadi viral di dunia maya. Pasalnya, itulah satu-satunya bangunan yang tetap kukuh berdiri di tengah kawasan yang rata dengan tanah tersapu tsunami. Kini masjid itu dikunjungi banyak wisatawan dalam dan luar negeri.

***

MINGGU pagi, 26 Desember 2004. Warga Gampong (kampung) Lampuuk dilanda kepanikan yang luar biasa karena gempa dahsyat berkekuatan 9,3 SR (skala Richter). Banyak bangunan yang rusak atau minimal retak-retak. Tak terkecuali Masjid Rahmatullah yang terletak di tengah kampung.

Saat itulah Syahrizal bin Razali, jamaah masjid tersebut, cepat-cepat mengecek kondisi masjid. Tapi, baru sampai di halaman masjid, tiba-tiba terdengar teriakan orang-orang kampung. a��a��Mereka berteriak air laut naik, air laut naik. Laria��laria��,a��a�� ungkap Syahrizal menggambarkan kepanikan warga kala itu.

Syahrizal dan sejumlah jamaah yang berkumpul di depan masjid sempat tidak percaya dengan teriakan warga yang berlarian dari arah barat tersebut. Baru setelah melihat sendiri gelombang besar air laut yang datang bergulung-gulung menuju masjid, Syahrizal dan jamaah lain lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

Namun, terlambat. Laju air laut lebih cepat dari langkah orang-orang kampung itu. Air bah tersebut menyapu apa saja yang ada di depannya: rumah-rumah, sekolah, balai desa, pohon-pohon, dan tentu saja orang-orang yang tak berdaya. Mereka habis, hanyut, dan rata dengan tanah. Kecuali Masjid Rahmatullah yang tetap berdiri kukuh. Bahkan, kubahnya utuh. Hanya lambang bulan bintangnya yang sedikit miring.

a��a��Waktu itu seharusnya kami lari ke bukit atau naik ke atap masjid. Pasti banyak yang selamat,a��a�� sesal Syahrizal yang ditemui Jawa Pos di Masjid Rahmatullah, Selasa (6/9).

Syahrizal memang termasuk satu di antara segelintir warga Lampuuk yang selamat. Dia mengaku saat itu tak sadar lari cepat sekali ke arah timur, menjauhi kejaran air laut. a��a��Pokoknya, saya lari sekencang-kencangnya. Saya nggak mikir apa-apa lagi. Yang penting selamat,a��a�� imbuh pria 37 tahun yang sekarang mendapat amanah menjadi bendahara Masjid Rahmatullah itu.

Kini masjid tersebut sudah cantik kembali. Bahkan, catnya terus diperbarui agar tetap terlihat bersih. Sebab, sejak masjid itu dibuka kembali setelah direnovasi, banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang berdatangan. Mereka umumnya ingin membuktikan langsung kebenaran berita bahwa Masjid Rahmatullah selamat dari tsunami seperti yang tergambar dalam foto-foto yang beredar di media dan internet.

a��a��Masjid ini sekarang menjadi objek wisata. Pengunjung datang untuk salat dan melihat langsung kondisi masjid,a��a�� jelasnya.

Memang, ada satu bagian di pojok tenggara masjid yang dibiarkan apa adanya. Bagian itu hanya ditutupi dinding kaca yang ditempeli foto-foto kondisi masjid sesaat setelah terkena tsunami. Di dalamnya tampak masih ada bongkahan batu karang dan batu-batu koral yang berserakan di atas pasir. Ada pula satu tiang masjid yang dibiarkan roboh. Semua itu bertujuan untuk menjadi pengingat bahwa masjid tersebut pernah selamat dari hantaman tsunami.

Terpisah sekitar 20 meter dari bangunan utama, pengurus takmir sedang membuat bangunan baru.

a��a��(Bangunan) itu mau dijadikan galeri tentang masjid ini agar wisatawan nonmuslim juga bisa menyaksikan dari dekat. Sebab, selama ini wisatawan nonmuslim tidak diizinkan masuk ke ruang utama masjid,a��a�� lanjut dia.

Syahrizal menuturkan, Masjid Rahmatullah dibangun secara swadaya dan bertahap pada 1990. Biayanya mencapai Rp 500 juta. Dari dana sebesar itu, Rp 150 juta hasil urunan warga. Selebihnya menggunakan uang hasil lelang sarang walet milik desa. Sarang tersebut berada di sebuah gua tepi laut di kawasan perbukitan sebelah desa.

a��a��Gua itu disewakan Rp 70 juta setahun. Pemenangnya bisa memanfaatkan gua itu untuk sarang walet selama masa sewa. Jadi, setiap tahun gua itu dilelang agar dapat harga yang terus naik,a��a�� tuturnya.

Masjid tersebut diresmikan pada 1998 dan mampu menampung 4.000 jamaah. Namun, pada hari-hari biasa, masjid hanya terisi tak lebih dari setengahnya. Jamaah baru penuh bila salat Jumat atau salat Idul Fitri dan Idul Adha.

Salah satu keunggulan masjid seluas 1.600 meter persegi itu adalah tiang-tiang betonnya yang tebal dan kuat. Begitu pula temboknya. a�?Temboknya menggunakan bata dua susun yang dijajar,a�? ucap ayah satu anak tersebut.

Satu perubahan mendasar di masjid itu adalah arah kiblat. Dari karpet yang dipasang, tampak arah kiblat digeser sekitar 30 derajat ke kanan. Perubahan tersebut dilakukan setelah Dinas Syariat Islam setempat turun dan meninjau masjid. Setelah dilakukan pengukuran, rupanya arah kiblat masjid itu belum tepat.

Dengan digeser sekitar 30 derajat tersebut, kini arah kiblat Masjid Rahmatullah dipastikan pas mengarah ke Kakbah. a�?Sudah disertifikasi tim Badan Hisab Rukyat (BHR) tahun lalu,a�? kata Syahrizah seraya menunjukkan sertifikat dari BHR. (Bayu Putra/Aceh Besar/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka