Ketik disini

Metropolis

Pahlawan Budaya Sasak Bernada Dering Musik DJ

Bagikan

Hanya untuk mendapat dukungan, setiap orang rela mengumbar janji manis asal terpilih jadi kepala daerah atau dewan terhormat. Tak hanya pada rakyat jelata, bahkan budayawan yang tulus mempertahankan identitas daerah, tak luput jadi a�?jualana�� mereka meraih kuasa!

***

WAJAH Nasib berubah masam. Suaranya menghentak menggelagar. Kesal!

Ia tak segan memaki para pemegang kuasa yang tak tahu malu. Merayu para rakyat hingga budayawan. Menjanjikan masa depan yang manis. Mengkritik pemerintah yang ada, seolah-olah mulut mereka setara kitab suci.

Hanya merekalah yang paling benar dan yang lain salah. Hanya merekalah yang paling peduli, sementara yang lain hanya ngibuli. Tetapi ketika rakyat mulai percaya, menaruh harapan besar pada mereka, lalu sukses jadi kepala daerah atau dewan, prilaku ternyata tak kalah busuk dengan pejabat lama.

a�?Mau tau perbedaan antara pemerintah dan Pil KB, kalau Pil KB jika lupa diminum baru jadi (hamil), tapi kalau pemerintah setelah jadi (kepala daerah atau dewan) baru lupa (pada rakyat),a�? kritiknya pedas.

Kemarahan Nasib, beralasan. Ia berulang kali menyuarakan, bersama budayawan lain, agar budaya Sasak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Diberi kesempatan dan panggung-panggung untuk lebih sering pentas.

Tujuannya bukan uang. Tapi, agar budaya Sasak semakin mengakar di tengah masyarakat. Jika sudah mengakar, tentu budaya sendiri akan lebih dicintai, dihormati dan menjadi kebanggan identitas daerah.

a�?Tapi ini ape! Sekarang saja Gubernur kita lebih ke timur tengahan!a�? ketusnya dengan nada marah.

Para budayawan dibiarkan berperang dan bergerilia sendiri, menakar serbuan budaya luar. Tak hanya budaya barat, tetapi juga budaya arab.

Seolah-olah apa yang datang dari arab, semua a�?berpahalaa�?, sementara apa yang lahir dari kearifan lokal semua a�?dosaa�?. Alhasil, membawa budaya luar masuk ke Lombok seperti mewarnai Lombok dengan warna baru. Bukan memugar agar warna yang sudah mulai tua dan luntur lebih segar dan kuat, tetapi memilih memolesi dengan budaya baru yang tentu saja harus dimulai dari nol.

a�?KalauA� begini kan seperti mulai dari nol lagi. membumikan, budaya baru dan menghapus budaya lama yang dinilai kuno dan tidak syara��i, apa harus seperti ini,a�? keluhnya.

Tentu saja, Nasib mengaku bangga dengan predikat baru Lombok sebagai tujuan dan destinasi wisata halal terbaik dunia. Di samping juga disebut sebagai tempat bulan madu halal terbaik dunia.

Tapi, tentu bukan dengan menghilangkan budaya yang sudah mengakar baik di tengah masyarakat. a�?Apa pemerintah tidak bisa membedakan antara produk budaya dengan nilai-nilai Islami ya?a�? sindirnya.

Ia pun kembali mengulas bagaimana wayang Lombok, sebenarnya membawa nilai-nilai dakwah Islam. Hanya a�?kemasana�� saja berbeda. Ada yang menggunakan kemasan Timur Tengah (ke Arab-araban) ada pula yang menggunakan kemasan kedaerahan. Ini lanjut Nasib, bisa dibuktikan dengan menelusuri filosofi dan nilai-nilai budaya.

Sebut saja misalnya seperti rudat, drama, baca daun lontar (mace), wayang kulit dan berbagai rupa budaya sasak. a�?Kalau di Yogyakarta itu, luar biasa dukungan pemerintah untuk mempertahankan budaya, tetapi kita ini kok hanya CCD saja, Cucuk-Cucuk Doang (ngomong-ngomong saja),a�? ketusnya.

Ia mengaku berulang kali dijanjikan Dewan ada upaya konkrit untuk mempertahankan seni pertunjukan Wayang. Tapi ternyata itu hanya omong kosong saja. berbagai alasan didengar hingga membuat ia sendiri merasa muak dengan janji yang tak kunjung nyata.

a�?Tapi dia lekak (bohong), saja itu. We..A� katanya akan memback up, akan kita lestarikan, itu hanya sekedar kata-kata. Buktinya saya sejak tahun 1969 mendalang, sudah 43 tahun lebih, belum ada kontribusi kita membuat kader atau mengumpulkan dalang remaja, untuk melakukan pencerahan agar mau melestarikan budaya,a�? ungkapnya.

Persoalan ini pun berulang kali diangkat media. Di bahas dalam berbagai forum. Tapi, karena memang keinginan melestarikan identitas asli daerah hanya sebatas jualan politik, hasilnya pun nihil. a�?Dia kedok tapi dia bute (Dia tuli tapi dia buta)!,a�? suara Nasib meninggi. Ia masih kesal.

Ia heran, selalu saja ada alasan untuk menolak melestariakan budaya. Tetapi, jika untuk kepentingan mereka, uangnya selalu ada. Maka sebagai budayawan dan rakyat, wajar Nasib menilai, masyarakat sudah mulai muak dengan prilaku para pejabat saat ini.

Bagi dia, ada atau tidak adanya pemerintah, para pembela budaya Sasak, tetap berjuang sendiri menghadapi gempuran budaya luar yang belum tentu bagus untuk daerah ini.

Sesaat perbincangan kami terhenti. Wajah serius dan tegang terlihat lebih santai. Orasi Nasib yang berapi-api mengendur. HP miliknya, berdering sangat nyaring membuat semua yang duduk di amben hingga teras rumah, tertawa kecil, mendengar nada dering HP budayawan senior itu khas musik DJ.

a�?Ndot juluq, araq bae ngorayang neh (sebentar dulu ada saja yang menganggu),a�? celetuknya, spontan.

Untuk kesekian kalinya, kami kembali tersenyum. Iya. Serasa tengah berhadapan-hadapan dengan Amaq Eceq versi Manusia. Banyak mengkritik, celetukan-celetukan khas. Hingga, logat sasak yang sangat kental. Tentu saja ia sangat menguasai itu. Dialah dalangnya.

Kritik Menteri Era Soeharto

Malam, masih merayap pelan. Udara makin dingin. Beberapa dalang memilih a�?menghangatkana�� diri dengan minuman tradisional. Lalu dari balik tembok teras, masih mengutil perbincangan kami yang semakin seru.

a�?Tiang memang bukan dari keturunan dalang,a�? kata Nasib memulai kisah tentang dirinya.

Namun sejak kecil, ketika masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Rakyat (SR) di Mataram ia sudah mengenal Wayang. Saat melanjutkan di SMP Gerung, kegemaran menonton wayang pun tak luntur. Setiap ada pertunjukan, Nasib kecil, nyaris selalu hadir di sana. Kesan positif dan nilai pelajaran yang tinggi dalam seni pertunjukan dalang, membuat Nasib kecil sangat mencintai wayang kulit.

“Saya pun mulai tanya-tanya kesana kemari arti cerita hingga belajar cara mendalang,a�? ulasnya.

Tapi, modal itu ternyata tidak cukup. Nasib kecil yang berkeinginan untuk melakukan perubahan seni pertunjukan menginginkan ada yang lebih dari wayang yang dimainkannya.

Maka, ia pun banyak memadukan cerita wayang dengan pengalamannya bertemu banyak orang. Lintas suku dan Budaya. Sehingga lahirlah, wayang kulit ala HL Nasib AR yang dikenal selama ini.

Namun peristiwa luar biasa yang dilakukan Nasib adalah ketika berani mengkritik Menteri era Orde Baru. Yakni Menteri Penerangan. Saat itu dijabat oleh Boediharjo. Melalui media massa, Nasib lalu melontarkan kritiknya.

a�?Saya marah karena pemerintah, memandang sebelah mata Lombok, kita dianggap ndak ada. Sama Senawangi pusat, saya sampaikan kekecewaan pada Kompas dan harian Berita Yudha,a�? tuturnya.

Senawangi adalah singkatan dari Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia. Untuk diketahui, pewayangan nusantara mempunyai dua organsasi. Senawangi mengakomodir pewayangan nasional. Sementara, Pepadi atau Persatuan Pedalangan Indonesia, menghimpun dalangnya.

Sejak kritik yang bernada kemarahan itu dilontarkan, wayang Lombok akihrnya diakui dan diterima masuk dalambagian keluarga besar Senawangi.(L.M.ZAENUDIN/Lobar/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka