Ketik disini

Giri Menang

Sampah Kebon Kongok Dilirik Pengusaha Swedia

Bagikan

GIRI MENANG – Kabupaten Lombok Barat (Lobar) menyimpan banyak potensi. Baik sumber daya alam, potensi pariwisata, dan pertanian. Tak heran, pengusaha asal Swedia pun sampai kepincut.

Uniknya, pengusaha asal Eropa itu melirik potensi sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Desa Sukamakmur, Gerung.

Kemarin, Thomas Krock dari biogas system Swedia dan Jesicca Magnuson dari pemerintah Kota Boras Swedia sudah melakukan survei lokasi. Mereka tampak sibuk mencatat data dan keterangan dari Kepala Dinas Tata Kota, Kebersihan dan Pertamanan Lobar, H Lalu Winengan.

Thomas yang berperawakan tinggi itu tidak henti-hentinya berkeliling kawasan TPA Kebon Kongok. Tumpukan sampah yang berbau dan berairpun diinjaknya. Tidak peduli dengan bau yang menyengat, tangan kanannya yang memegang pulpen terus mencatat data di atas buku tulis yang dibawanya. “This is good location (ini lokasi terbaik),” ujar Thomas sambil meninjau kawasan itu, kemarin (19/8).

Baginya, TPA Kebon Kongok punya potensi menjanjikan sebagai sumber daya listrik alternatif. Menurut dia, konstruksi tanah TPA itu sangat bagus. Dia kagum dengan pengaturan yang dilakukan Pemkab Lobar. TPA itu dinilai menyimpan kandungan gas metana yang luar biasa.

Perencanaan dalam sistem penyimpanan sampah di TPA Kebon Kongok itu dinilai sangat tepat. Bagaimana tidak, ternyata selama ini sampah di Kebon Kongok tersimpan berlapis. Ada tumpukan sampah berlapis tanah. Begitu seterusnya selama bertahun-tahun.

TPA Kebon Kongok akan menjadi lokasi biogas ketiga di Indonesia setelah Sukabumi dan Lampung. Bahkan menjadi yang terbaik dari dua lokasi sebelumnya.

Saat ini kedua orang Swedia itu masih mempelajari potensi yang ada. Setidaknya dibutuhkan waktu dua bulan sebelum memutuskan apakah lokasi itu akan menjadi tempat biogas yang dapat menjadi sumber listrik.

Project Manager Biogas Swedia-Indonesia Randi Lamadjido mengungkapkan kekagumannya terhadap TPA seluas 12 hektare itu. Lokasi itu diperkirakan  dapat menghasilkan tenaga listrik hingga 5 MW yang dapat dipasok untuk tiga kecamatan.

“Tapi masih butuh waktu untuk study sehingga mengetahui kapasitas yang diperoleh dari pengolahan sampah menjadi biogas,” ungkap dia.

Melihat semangat orang Swedia ini membuat Winengan  semringah. Betapa tidak, masyarakat Lobar akan ketimpa emas dari pengolahan sampah, jika proyek itu terealisasi. Tidak saja memperoleh pasokan listrik yang maksimal, para pemulung di TPA Kebon Kongok pun akan ketiban untung.

Menurut Winengan, para pemulung ini akan mendapat rumah dari dana CSR perusahaan pengolah sampah. Pemanfaatan gas metan ini dinilai sangat membantu pemerintah Lobar.

Artinya, dengan kapasitas listrik yang memadai akan berdampak pada sektor lainnya. Bahkan, dia menggambarkan bagaimana sektor ekonomi masyarakat bergerak signifikan. “Sampah ini akan menjadi timbunan emas jika program kerjasama ini terealisasi. Tentu kami bersama Pemkot Mataram akan membahas hal ini dengan serius,” papar Winengan.

Kerjasama dengan Pemerintah Swedia ini diinisiasi selama dua bulan. Ini yang ketiga kalinya tim dari Swedia datang ke Lobar untuk menjajaki kerjasama dalam hal energi terbarukan itu. Impian itu akan menjadi nyata setelah peralatan untuk pengolahan sampah itu tiba.

Tidak tanggung-tanggung tiga SKPD mengawal rencana proyek tersebut. Ketiga SKPD itu adalah Dinas PU dan Badan Lingkungan Hidup Lobar. Plh Kadis PU Lobar Made Artadinata dan Kepala BLH Lalu Eddy Sadikin juga tampak diantara rombongan.  (tan/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka