Ketik disini

Giri Menang

Siapa bilang santri pondok pesantren tidak dapat berkiprah di dunia internasional. Terutama dalam hal kemanusiaan. Ini buktinya!

Bagikan

Cerdas,A� berkepribadian, dan humanis. Begitulah para santri Pondok Pesantren Nurul Haramain diarahkan. Tidak saja terampil mengaji, berpidato, atau bahkan menimba ilmu agama. Para santri ini juga terampil dalam menangani korban bencana maupun korban kecelakaan lainnya.

Itu terlihat ketika mereka beraksi dalam peringatan HUT ke-71 Palang Merah Indonesia (PMI). Santri yang tergabung dalam relawan dan palang merah remaja ini cukup lincah menangani korban bencana. Tangan-tangan kecil mereka cukup cekatan bagaimana merajut tali simpul. Membuka perban dan merawat korban bencana.

Begitu mendengar aba-aba, petugas medis dari palang merah pelajar ini langsung mendekati korban. Mengangkatnya dengan tandu yang sudah disiapkan, dan mengevakuasi. Semua teknik penyelamatan itu diajarkan sedemikian rupa oleh PMI Lombok Barat (Lobar).

Tidak sekadar menyelamatkan, mereka juga diajarkan bagaimana strategi menghindari ancaman. Seperti memadamkan api dalam musibah kebakaran. Mereka memanfaatkan karung goni yang dibasahkan sedemikian rupa untuk dapat memadamkan api.

a�?Haduh,a�? rintih seorang relawan begitu tangannya secara tidak sengaja tersentuh api.

Para santri ini belajar dari peristiwa-peristiwa kecil di sekeliling mereka. Tidak heran, dalam prosesnya mereka menjadi individu yang tangguh dan peka terhadap peristiwa sosial.

Ponpes Nurul Haramain yang dipimpin TGH Hasanain Juaini merupakan salah satu pondok pesantren di Indonesia yang punya relawan. Jumlahnya kini sudah mencapai 600 orang terdiri atas 300 santriwan dan 300 santriwati.

Mereka digerakkan untuk mendata golongan darah masyarakat sekaligus mencari pendonor potensial. Gerakan ini sudah berjalan sejak dilantik oleh Menteri Sosial Hj Khofifah Indar Parawangsa.

a�?Bayangkan potensinya kalau saja ada 2.500 santri dan setiap tiga bulannya mereka bersedia donor 25 cc saja, berapa kantung darah yang diperoleh,a�? kata Hasanain Juaini kepada Lombok Post kemarin (18/9).

Siapa yang tidak kenal Hasanain. Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo ini sudah banyak mengukir prestasi. Termasuk bagaimana menjadikan anak didiknya sebagai petarung sejati dalam konteks sosial kemasyarakatan.

Hingga saat ini, 50 santri Ponpes Nurul Haramain sudah berlaga di kancah Internasional. Mereka ikut jambore di Trengganu, Thailand, dan Singapura. Ya, mereka mengawali dengan latihan rutin sehingga lolos seleksi di tingkat nasional.

Bagi Hasanain, pondok pesantren itu merupakan tempat melatih anggota masyarakat yang baik. Mereka dihadapkan pada persoalan-persoalan sosial yang nyata dan selalu ditemui dalam masyarakat.

a�?Relawan ini dibentuk untuk mengabdi kepada masyarakat. Mereka merupakan siswa yang duduk di tingkat akhir,a�? papar dia.

Bukan itu saja, bangganya lagi adalah ketika salah seorang santrinya bernama Anisa Putri asal Lombok Timur menjadi guru relawan di Texas selama setahun. Dia terpilih lantaran dinilai berprestasi sebagai relawan. Salah satu modalnya adalah menguasai bahasa.

Bagi Ponpes Nurul Haramain, penguasaan minimal dua bahasa yakni Bahasa Arab dan Inggris merupakan kewajiban. Hasanain ingin melihat para santrinya benar-benar punya semangat untuk berkreasi. Semangat untuk membuat perubahan, tentu dengan mengandalkan ilmu yang mereka raih selama di pondok.

a�?Apapun kreativitas yang mereka punya, harus dilatih sedini mungkin. Jangan matikan kreativitas anak, tapi dukung mereka sehingga benar-benar bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak,a�? ungkap Hasanain. (Edy Gustian/Giri Menang/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka