Ketik disini

Giri Menang

Dewan Lamban, Fauzan Bisa Jomblo

Bagikan

Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid bakal lebih moncer untuk menghadapi pilkada serentak 2018. Apalagi, jika hingga saatnya nanti, dia tetap sendiri sehingga lebih leluasa bermanuver.

A�***

DPRD Lombok Barat masih menunggu draft revisi tata tertib pemilihan Wakil Bupati Lombok Barat dari Kementerian Dalam Negeri. Sedianya, tata tertib itu diputuskan pada 13 September 2016 sekaligus membentuk panitia pemilih.

Jauh panggang dari api, rencana itu meleset. Nyatanya hingga saat ini belum ada progres yang menggembirakan. Masing-masing saling menunggu.

Jika ada pihak yang berharap prosesnya cepat, mungkin tidak sedikit yang menginginkan prosesnya melambat. Tergantung kepentingan apakah ingin cepat, lambat, atau tidak sama sekali.

Ketua pansus tata tertib pemilihan Wakil Bupati Lobar Mariyadi menegaskan, akan bekerja setelah menerima draft revisi dari Mendagri. Tahapannya pun cukup panjang untuk sampai pada proses pemilihan Wabup Lobar.

Tidak sekadar membentuk panlih (panitia pemilih), ada proses lainnya seperti administrasi, test kesehatan, dan lainnya. Bukan itu saja, yang justru paling krusial adalahA� menunggu sikap lima partai politik pengusung.

Ke lima parpol pengusung itu harus mengusulkan dua calonA� Wabup Lobar melalui Bupati Lobar H Fauzan Khalid. Ternyata, hingga kini masih ada tiga nama yang beredar yakni Naufar Vurqoni Farinduan, Indra Jaya Usman, dan H Sardian.

“Semua sedang berproses, tunggu revisi tatib dari Mendagri,” ujar Mariyadi kepada wartawan di DPRD Lobar, kemarin (20/9).

Terlepas dari itu, proses selanjutnya harus melewati 45 anggota DPRD Lobar. Ada tujuh parpol non pengusung yang juga belum mengeluarkan sikap tegasnya. Tentu ini melatih kesabaran semua pihak menanti hasil final dari proses politik di Lobar.

Di satu sisi, kebutuhan posisi Wabup Lobar ini dinilai penting untuk keberlanjutan pembangunan di Lobar.

Pemerhati masalah sosial dan politik NTB Dr Ahyar Fadli menilai Bupati Fauzan akan rugi jika menyendiri hingga akhir jabatannya. “Seharusnya dia punya wakil yang menunjang kerjanya,” ujar Ahyar.

Meski begitu, secara politis dia menegaskan sangat besar kemungkinan Fauzan “jomblo” jika parpol pengusung mengulur-ulur waktu pelaksanaan pemilihan. Caranya tentu membiarkan proses berjalan baik dengan tiga calon wabup maupun dengan calon tunggal. Kecuali lima parpol pengusung ini mencapai kata sepakat untuk mengusung dua calon sesuai ketentuan undang-undang.

Munculnya wacana formula yang disiapkan kalangan DPRD Lobar, menurutnya belum tentu dapat diaplikasikan. Sebab, dewan dinilai tidakA� bisa menabrak aturan yang menjadi ranah partai politik dan sudah diatur dalam undang-undang.

Terkait dengan itu, partai politik seyogyanya memberikan pendidikan politik dengan mengutamakan kepentingan rakyat. Artinya, masing-masing partai politik pengusung harus segera menyatukan sikap untuk mendukung suksesnya proses pemilihan Wabup Lobar. “Mau jomblo itu merupakan pilihan politik” tegas dia. (Edy Gustan-Giri Menang/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka