Ketik disini

Headline Metropolis

Marwah Memang Tak Murah

Bagikan

Jauh di Tanah Pasundan, para atlet Bumi Gora tengah berjuang meretas jalan. Pulang membawa 15 medali emas, adalah ikrar yang mesti dibayar lunas. Tak jadi soal dana miliaran habis. Karena seharusnya memang marwah NTB tak boleh kempis. Meski tak mudah, sekali target LIBAS berkumandang, surut para atlet berpantang. Di nadi mereka, doa seluruh NTB berada.

***

DI SASANA Budaya Ganesa, kompleks kampus Intitut Teknologi Bandung, bintang Ahmad Zigi Zaresta Yuda bersinar. Dalam tatap ribuan penonton, atlet asal Lombok Barat itu mempersembahkan medali perunggu untuk NTB di ajang PON XIX/2016 Jawa Barat.

Itulah medali pertama yang dikantogi kontingen NTB yang berjumlah 112 atlet dan 56 offisial yang kini tengah berlaga di Tanah Parahiangan. Meski bukan emas atau perak, medali dari Zigi disambut sukacita.

Zigi masih muda. Perjalanannya sebagai atlet andalan NTB masih panjang. Tentu saja, di PON 2020 Papua, juara dunia WKF Junior itu akan bisa mempersembahkan lebih. Terutama dari kelas kata perorangan putra, yang menjadi andalannya.

Medali pertama, selalu menjadi pertanda baik. Semisal deretan angka, setelah angka satu, maka berikutnya ada angka dua, tiga dan seterusnya. Begitulah NTB berikhtiar. Dan bila perlu melampaui target lima belas medali emas (LIBAS) yang telah dicanangkan.

Sedari mula, NTB sadar bahwa target LIBAS bukanlah perkara mudah. Itu sebabnya, target ini diperjuangkan dengan kerja keras tiada henti. Apalagi ini, tidak lagi melulu soal prestasi para atlet. Melainkan menjadi prestise atau marwah bagi daerah kontestan.A� Di arena inilah, harga diri daerah dipertaruhkan. Sehingga muncul ungkapan, bahwa gengsi PON tak ubahnya gengsi juara di ajang Olimpiade.

NTB pun telah memulai perjuangan itu dengan standar tinggi. Apalagi kalau bukan raihan 11 medali emas, lima medali perak dan tujuh medali perunggu pada PON 2012 di Riau. Semenjak itu, target dicanangkan. Lima belas medali emas, harus ada di tangan sepulang dari Jawa Barat.

Maka NTB berkemas. Boleh dikata, tak ada waktu berbulan madu, selepas perhelatan dan hati penuh kebahagiaan sepulang dari ajang PON 2012. Seolah berjibaku dengan waktu, kerja keras dimulai. Aneka pemusatan latihan di bawah payung Pelatda disiapkan.

Dimulai dari Pelatda Sangeang pada 2014. Lalu berlanjut dengan Pelatda Sentraliasi Tambora pada 2015, dan diakhiri Pelatda Sentralisasi Rinjani Tahun 2016. Di sana, para atlet NTB digembleng. Semacam empu yang mencipta keris, para pelatih menempa mereka. Semua agar para atlet memiliki pamor dan kekuatan untuk menjadi juara.

Aneka kejuaraan diikuti. Ke sanalah para atlet andalan itu dikirim. Mencicipi atmosfer pertandingan, sekaligus ajang mengevaluasi hasil sebuah pembinaan yang terpusat. Termasuk juga mengintip kekuatan lawan.

Tak ada nilai murah untuk semua itu. Bahkan seluruhnya sungguh mahal. Pelatda Sangeang dan Sentralisasi Tambora, masing-masing menelan anggaran Rp 5 miliar. Sementara Pelatda Sentralisasi Rinjani pada 2016, menelan dana Rp 22,5 miliar.

Tapi bagi daerah, apalah artinya semua uang itu. Kalau hendak menghitung, pengeluaran NTB itu belumlah ada apa-apanya, jika membandingkannya dengan pengeluaran sejumlah provinsi yang juga memiliki hasrat juara nan membara di ajang PON Jabar. Sebut saja Kalimantan Timur. Mereka merogoh kocek hingga Rp 114 miliar demi menggalang prestasi. Atau juga Jawa Tengah yang menggelontorkan dana hingga Rp 50 miliar setahun.

Bahkan, ada salah satu provinsi yang menyiapkan bonus Rp 1 miliar untuk satu atlet mereka yang berhasil meggondol medali emas. Angka yang sungguh fantastis. Terutama kalau mengingat NTB yang cuma mempersiapkan Rp 150 juta untuk satu keping medali emas yang serupa.

Total 112 atlet NTB akan berlaga di 23 cabang olahraga. Sementara jumlah pelatih yang terlibat sebanyak 36 orang ditambah offisial 56 orang. Biaya untuk memboyong para atlet, pelatih dan offisial ke PON Jabar, kata Ketua KONI NTB Andy Hadianto, sudah termasuk dalam biaya Pelatda Sentralisasi Rinjani 2016 yang mencapai Rp 22,5 miliar. Pelatda berlangsung sejak Januari tahun ini.

a�?Jadi semua sudah tercover di anggaran yang Rp 22,5 miliar itu,a�? jelas Andy pada Lombok Post selepas menonton pertandingan voli pasir di GOR Arcamanik, Jumat (16/9).

Aneka macam pemanfaatan dana Pelatda itu. Namun, sudah pasti sebagian besar bagi kepentingan para atlet. Mulai dari biaya mereka bertanding. Kebutuhan akomodasi, hingga juga asupan gizi dan nutrisi. Sampai pula untuk uang saku.

Untuk memotivasi para atlet, KONI NTB menyediakan uang saku per bulan sebesar Rp 1,5 juta. Sementara untuk pelatih Rp 3 juta. Selain atlet dan pelatih, delapan satgas pelatda juga mendapat uang saku perbulan Rp 3 juta.

Pada Pelatda Sangeang 2014 terdapat pemusatan atlet untuk delapan cabang olahraga (cabor). Yakni atletik, pencak silat, tarung derajat, tinju, kempo, voli pasir, menembak dan BMX.A� Sementara pada Pelatda Sentraliasi Tambora Tahun 2015 dihajatkan untuk mempersiapkan atlet unggulan menghadapi babak kualifikasi PON 2016 Jabar.

Sebanyak 37 atlet dari sembilan cabor diinapkan di Asrama GOR 17 Desember.A� Sembilan cabor masuk binaan Pelatda Sentralisasi Tambora yakni, atletik, pencak silat, tarung derajat, tinju, kempo, voli pasir, menembak, sepeda BMX, dan panjat tebing.

Berbagai macam try out diikuti.A� Setiap cabor paling minim mendapat jatah sekali. Ada pula yang lebih. Bergantung cabornya. Seluruhnya adalah try out dalam negeri. NTB memilih tak mengikuti jejak provinsi lain, yang melakukan try out hingga ke luar negeri.

Anggaran try out per cabor tergantung jumlah atlet. Semakin banyak atlet, semakin banyak pula anggaran yang dikeluarkan.

Toh, meski tak mengikuti jejak provinsi di Pulau Jawa, keberadaan Pelatda 2015 boleh dibilang gemilang. Acuannya adalah jumlah atlet yang lolos kualifikasi PON Jabar. Dari 38 atlet yang ikut Pelatda kala itu, hanya tiga atlet yang gagal meraih tiket PON. Tiga atlet itu yakni satu atlet pencak silat dan dua atlet tinju.

Pelatda 2016

Atlet-atlet itulah modal paling berharga NTB menapak PON Jabar. Saat matahari pertama Masuk 2016, kerja keras kian ditingkatkan. Di Pelatda 2016, sebanyak 23 cabor tercatat berhasil meloloskan atlet mereka ke PON Jabar.

Koordinator Satgas Pelatda Rinjani Wibowo Budi Santoso mengatakan, semenjak Pelatda dikukuhkan 15 Januari 2016, KONI NTB memberi jadwal kepada seluruh cabor ikut try outA�ke luar daerah. Jatah setiap cabor sekali.

Maka jadilah seluruh cabor dapat menggunakan latihan tanding ini untuk mengevaluasi hasil sentralisasi. a�?Kami beri waktu khusus, bilamana memang memungkinkan untukA�try out,a�? kata Wibowo.

Pria yang bertanggung jawab pada pelatda ini menambahkan, tidak semua cabor yang mengikuti sentralisasi harusA�try outA�ke luar daerah. Sebab, ada beberapa cabor yang memilih menggelar try in alias mengundang daerah lain latihan bersama.

a�?Memang tergantung cabor mau ikut kejurnas yang diikuti,a�? katanya.

Bagi cabor unggulan, jumlah try out lebih banyak. Antara lain cabor atletik, pencak silat dan tarung derajat diberikan jatah dua kali try out. Sementara cabor non unggulan seperti balap motor, gantole dan tenis diberikan jatah sekali.

Bonus Menanti

Dan sampailah kini, manakala para atlet NTB itu sudah berada di Jabar untuk bertanding. Dan motivasi dari pemerintah pun tak berhenti. Bonus ratusan juta menanti para atlet NTB yang berhasil menggondol medali.

Kepala Biro Administrasi Kesejahteraan Rakyat Pemprov NTB pada Lombok Post H Fathurrahman mengatakan, bonus telah siap berupa uang tunai.

Dia menyebutkan, jumlah bonus masing-masing atlet akan berbeda tergantung dari mendali yang didapatkan. UntukA� mendali emas perorangan akan mendapat bonus Rp 150 juta, emas beregu Rp 100 juta, mendali perak perorangan Rp 75 juta, perak beregu Rp 60 juta, mendali perunggu perorangan Rp 60 juta dan perunggu beregu Rp 40 juta.

Bonus bukan semata hak para atlet. Para pelatih juga akan kecipratan bonus pula. Yakni sebesar Rp 150 juta untuk setiap emas yang didapat anak asuh mereka di nomor perorangan. Sementara untuk pelatih peraih medali emas di nomor beregu, akan mendapat Rp 100 juta. A�a�?Kita tetap anggarkan sesuai target, total anggarannya tinggal dikalikan saja,a�? ujarnya.

Menurut Fathurrahman, jumlah bonus tahun ini lebih besar dari PON tahun 2012 yang kala itu hanya Rp 100 juta untuk sekeping mendali emas. Artinya pemerintah tahun ini kata dia memberikan penghargaan yang lebih bagi atlet berprestasi. Dengan harapan mereka bisa lebih memacu semangat untuk menjadi yang terbaik dan mengharumkan nama NTB.

Pengajuan anggaran bonus peraih medali PON sudah disahkan oleh DPRD NTB. Tadinya memang diajukan Rp 12,5 miliar oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga NTB. Namun, DPRD NTB menyetujui besarannya Rp 10,5 miliar. Kesiapan anggaran ini ada di APBD Perubahan 2016 yang saat ini sedang dalam proses pembahasan untuk segera disahkan

Tak cuma dari Pemprov NTB. Bonus menanti pula dari kabupaten/kota. Memang belum pasti. Tapi seperti Bupati Lombok Timur H Ali Bin Dahlan sudah menyebut siap memberikan Rp 50 juta bagi para atlet peraih medali emas dari Lombok Timur.

Mataram pun siap memberi bonus. Namun, KONI Mataram belum berani menyebut angka.a�?Soal berapa-berapa itu, kita belum sapai sana,a�? ujar Sekretaris KONI Mataram Mansur, kemarin.

Dia menegaskan, sesuai komitmen pengembangan atlet, bonus memang sudah menjadi kewajiban. Keterbatasan dana milik KONI rencananya diatasi dengan meminta langsung pada Pemkot Mataram.Soal berapa jumlahnya, pihaknya tengah menunggu dari Pemkot Mataram. a�?Pemerintah belum ada jawaban, kita juga tak bisa mendahului,a�? ujarnya.

Selain mengukur kemampuan diri, ia juga beralasan harus mengetahui terlebih dulu berapa jumlah medali yang diperoleh atlet Mataram nantinya. Apa-apa saja itu, dari cabor mana saja, berapa jumlah pelatihnya, berapa biaya yang dikeluarkan untuk berlatih reguler, dan sejumlah variabel lain. Dari sana baru kemudian disiapkan formulasi untuk menentukan nominal. a�?Pastinya kita tak lupa pada atlet daerah,a�? tegasnya.

Disambut Antusias

Tentu saja kenaikan bonus itu disambut suka cita oleh para atlet. Salah satunya atlet atletik Abdul Razak. Atlet yang turun di nomor lari 400 meter dan estafet 4×400 meter itu menuturkan, apabila rencana tersebut benar terealisasi, sudah pasti dia dan kawan-kawannya bakal tampil lebih maksimal PON Jabar 2016.

Kendati demikian, Razak enggan terlalu memikirkan soal bonus. Terpenting menurutnya saat ini fokus berlatih dan mempersiapkan diri maksimal kala bertanding. a�?Bonus akan datang dengan sendirinya ketika sudah berprestasi,a�? katanya.

Sama halnya dengan atlet atletik lainnya Ridwan. Dalam kesempatan berbincang-bincang dengan koran ini, Ridwan mendukung penuh penambahan bonus peraih medali PON. a�?Daerah lain juga saya dengar (bonus) lebih banyak. Tentu kita sangat bersyukur dan akan lebih berjuang lagi,a�? akunya.

A�Yakin LIBAS

Dan inilah lumbung medali emas NTB di PON Jabar 2016 yang dibidik. Yang berarti atletnya juga akan berpotensi ketiban bonus pula.Telah lama, target 15 medali emas itu dianalisis. Penetapannya memang bukanlah serampangan. Telah melalui kajian mendalam. Karenanya disebut target realistis. Cabor unggulan yang menjadi prioritas tersebut yakni atletik delapan emas, pencak silat tiga emas, tarung derajat dua emas, kempo satu emas, sepeda BMX satu emas, menembak satu emas, voli pasir dua emas, dan tinju satu emas.

Sementara cabor non unggulan yang berpotensi memberikan kejutan seperti karate, wushu,A� dan taekwondo.A� Dan seperti diketahui, karate, telah menyumbang medali perunggu.

Kini setelah kepastian bonus di tangan, para atlet didorong untuk bertanding dengan penuh pecaya diri. Menurut Ketua KONI NTB Andy Hadianto, semua atlet punya kans meraih medali. Sehingga diharapkan turun di arena pertandingan dengan motivasi tinggi.

a�?Semua sudah diperhitungkan secara matang, tinggal menjalankan dan melihat hasil akhir,a�? kata dia.

Koordinator Satuan tugas Pelatda Wibowo Budi Santoso menilai target medali NTB di PON bisa saja berubah sesuai hasil pemantauan dan kondisi atlet saat ini. Hasil latihan atlet pelatda setiap bulan terus mengalami peningkatan. Sehingga ada kemungkinan target 15 medali emas bisa bertambah.

Bowo, bahkan menyebut sejumlah nama atlet yang potensial meraih medali emas. Hingga kemarin, cabor voli pasir sudah menembus final dan akan melawan Jawa Timur untuk perebutan medali tertinggi. Sementara satu wakil NTB lainnya di voli pasir putri akan memperebutkan medali perunggu.

Cabor unggulan NTB lainnya juga baru melangsungkan babak penyisiahan seperti tinju dan pencak silat. Sementara cabor unggulan atletik akan mulai turun gelanggang mulai Rabu 21 September 2016 hari ini.

Akan seberapa membanggakan NTB di ajang PON Jabar ini? Menarik ditunggu. Yang pasti, semua ogah kalau NTB terus berada di posisi buncit melulu. (zen/ili/yuk/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka