Ketik disini

Feature

Mengabarkan Kebaikan NTB, Pemerintah Banyak Belajar dari Komunitas

Bagikan

Keberadaan komunitas travelling membantu mengenalkan potensi pariwisata NTB. Tidak sedikit destinasi baru pariwisata terkenal hingga mancanegara berkat a�?kecerewetana�? mereka di media sosial. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) NTB pun melirik potensi besar komunitas ini.

***

DI jagat media sosial tempat itu digambarkan sebagai satu-satunya air terjun yang airnya asin. Air itu jatuh dari bukit karang. Membentuk kolam di bawahnya. Untuk lebih meyakinkan jika itu air terjun, beberapa video postingan netizen membuktikan bahwa itu memang benar-benar air terjun.

Video dan foto itu menjadi viral di dunia maya. Tak butuh waktu lama tempat itu menjadi buah bibir. Tidak hanya wisatawan lokal NTB yang datang. Wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara datang menjawab penasaran mereka tentang air terjun asin.

Tempat itulah yang kemudian dikenal sebagai Pantai Nambung. Pantai yang setelah mendadak terkenal menjadi perebutan klaim kampung yang ada di Lombok Barat dan Lombok Tengah. Masalah baru muncul. Ramainya wisatawan rupanya diintip para pelaku kejahatan. Nambung kemudian mendadak terkenal sebagai tempat wisata yang tidak aman. Wisatawan berpikir dua kali untuk ke tempat itu. Dan ketika tidak lagi menjadi buah bibir di media sosial, pemerintah perlahan meninggalkan tempat itu. Pantai Nambung kembali dilupakan.

Kejadian serupa terjadi di Pantai Bloam, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Dikenalkan para netizen, lalu berbondong bondong wisatawan datang. Ketika ada masalah di tempat itu, pemerintah bukannya memperbaiki kondisi agar lebih aman. Tapi mengeluarkan peringatan agar tidak ke tempat itu. Bloam mulai dilupakan.

Di era media sosial, hampir semua destinasi baru pariwisata di NTB dikenalkan lebih dulu oleh netizen dan komunitas. Mereka menjelajah hutan, gunung, laut, air terjun, kampung-kampung tradisional. Mereka berburu tradisi-tradisi unik. Mereka merekam dalam bentuk video, foto, menulis lengkap. Memposting karya mereka di blog, instagram, facebook, twitter, path. Foto dan video menyebar dari grup WhatsApp yang satu ke grup yang lain. Orang tertarik dan berkunjung ke tempat itu. Barulah pemerintah datang memasukkan destinasi pariwisata itu dalam publikasi resmi mereka.

a�?Sebenarnya potensi kita lebih bagus, tapi memang kita kalah cara mengemas,a��a�� kata Sukarno, salah satu pegiat di komunitas PASIR saat diskusi di Gili Sudak, Sekotong, Lombok Barat dalam kegiatan a�?Social Media Camp 2016: Komunitas Bertanya Budpar Menjawaba�?.

PASIR adalah komunitas yang aktif kampanye menjaga kebersihan gunung dan juga menjadi brand baru oleh-oleh pariwisata Lombok. Dalam acara tersebut hadir Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Hartati didampingi Utria Salim.

Sukarno yang berprofesi sebagai perawat di Lombok Barat ini menuturkan pengalamannya ke berbagai destinasi di Indonesia. Dia melihat dari sisi keindahan alam dan budaya, NTB jauh lebih bagus. Tapi potensi itu belum maksimal untuk dijual. Pengemasan paket wisata masih a�?konvensionala�?. Wisatawan datang, mengambil foto, dan pulang. Semuanya gratis. Pengalaman Sukarno di salah satu daerah di Sumatera, wisatawan mau merogoh kocek puluhan ribu untuk sebuah foto yang unik.

a�?Misalnya kalau kita berkunjung ke wisata adat, wisatawan hanya melihat rumah tradisonal. Tidak ada yang benar-benar bisa membuat wisatawan lama tinggal,a��a�� katanya.

Bersama komunitasnya Sukarno mulai menggagas, wisatawan datang ke desa-desa tradisional untuk mengikuti aktivitas keseharian. Menginap di rumah tradisional. Mengenakan pakaian adat Sasak. Ikut ke ladang, sawah, ikut acara-acara adat. a�?Sekarang lagi trend konsep ekowisata seperti ini,a��a�� katanya.

Lain lagi pengalaman Fathurrahman. PNS di Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Barat ini di media sosial dikenal sebagai Duta Here Lombok. Di kalangan komunitas backpacker, Duta dikenal sebagai a�?ensiklopediaa�? pariwisata Lombok. Dia mengenali detail akses jalur ke tempat wisata. Dia tahu kontak-kontak pemandu lokal, akomodasi, tempat mencari logistik. Termasuk status aman-rawan-bahaya di tempat wisata itu.

Dia tahu nomor kontak ojek, penyewaan motor, penyewaan perahu, dimana tempat menginap berbiaya murah, bahkan tempat menginap gratisan. Di kalangan backpacker, Duta adalah tempat bertanya. Duta pun rutin memposting berbagai kondisi wisata di Lombok. Tips-tips berwisata aman dan murah di Lombok pun ada di postingan facebook pribadinya maupun grup yang dikelolanya : Lombok Backpacker.

Di Pulau Sumbawa, komunitas Adventurous Sumbawa, Jelajah Sumbawa, Sumbawa Explorer malahan bekerja melebihi pemerintah. Katalog destinasi pariwisata yang mereka miliki melebihi milik pemerintah. Tak sedikit katalog yang dibuat pemerintah mengutip dari milik mereka. Bahan promosi seperti video, foto, poster dibuat mandiri. Jauh lebih bagus dan lebih banyak dibandingkan produk yang dikeluarkan pemerintah. Jika pemerintah hanya memiliki even a�?Festival Moyoa�? yang dihelat sekali setahun, komunitas ini setiap bulan memiliki acara. Tak hanya untuk komunitas internal mereka, tapi juga mengajak komunitas lain dan wisatawan dari luar NTB.

Beberapa acara televisi tentang pariwisata yang mengambil lokasi di Lombok, pihak televisi memanfaatkan jasa komunitas. Pengetahuan yang lengkap tentang seluk beluk wisata, plus tidak ribet urusan birokrasi, wajar jika hampir semua stasiun televisi itu mengajak mereka.

Begitu juga para pegiat musik yang mengambil lokasi pengambilan video klip di Lombok, komunitas ini adalah gandengan mereka. Sepintas para komunitas ini seperti menggantikan posisi pemerintah yang terlambat merespon perubahan. Promosi pariwisata tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional. Promosi digital adalah jawabannya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB H Lalu Mohammad Faozal menyadari kekuatan media sosial. Berbagai pro kontra tentang pariwisata juga terpantau di media sosial. Begitu juga destinasi-destinasi baru wisata berasal dari komunitas itu.

a�?Kalau semua pegiat media sosial dan blogger ini mengabarkan hal baik tentang pariwisata NTB tentu saja ini jadi citra positif,a��a�� A�kata Faozal.

Merangkul komunitas itu, Budpar NTB mengundang mereka dalam dua acara. Workshop dan temu blogger digelar pada 10 September lalu. Akhir pekan kemarin, 17-18 September, kembali Budpar NTB mengundang mereka untuk berdiskusi di Gili Sudak, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Acara piknik bersama itu sekaligus menjadi ajang perkenalan Budpar NTB dengan para komunitas, dan perkenalan antarkomunitas.

Dua momen itu dijadikan Budpar NTB sebagai forum dialog dengan komunitas media sosial dan blogger. Dalam kegiatan itu Budpar NTB banyak mendapat masukan untuk pengembangan pariwisata NTB. Begitu juga Budpar NTB menjadikan momen itu menyampaikan berbagai kegiatan dan kebijakan di Budpar. Salah satunya kebijakan untuk merangkul komunitas dalam memajukan pariwisata.

Dalam diskusi yang digelar di Gili Sudak, 17-18 September, Kabid Pemasaran Budpar NTB Hartati banyak belajar dari komunitas. Strategi komunitas dalam mempromosikan pariwisata. Kegiatan yang dilakukan komunitas untuk membangun citra pariwisata. Termasuk juga kegiatan sosial yang dilakukan komunitas. Kegiatan yang beragam dan bermanfaat itu, kata Hartati, membantu langsung tugas-tugas pemerintah.

a�?Pariwisata bukan hanya tanggung jawab Budpar semata, tapi tanggung jawab kita bersama,a��a��katanya.

Diskusi itu juga menjadi ajang curhat komunitas. Berbagai persoalan pariwisata seperti keamanan, sampah, tarif yang tidak jelas, infrastruktur yang masih jelek, fasilitas di destinasi yang tidak lengkap disampaikan komunitas. Masalah itu mereka ketahui karena rutin berkunjung ke lokasi wisata. Informasi itu sangat berguna bagi Budpar NTB karena tahu kondisi lapangan yang sebenarnya. a�?InsyaAllah kita akan lebih sering berkumpul bersama komunitas,a��a�� katanya. (Fathul Rakhman/Lombok Barat/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka