Ketik disini

Giri Menang

Tetap Mentereng Meski Order Sepi

Bagikan

Dulu kawasan Banyumulek memang sangat dikenal sebagai centra gerabah. Perkembangan bisnis kerajinan gerabah pun berkembang pesat. Bahkan mendorong peningkatan perekonomian masyarakat. Bagaimana kondisinya kini.

***

Kondisi jalan menuju kawasan Banyumulek sangat memprihatinkan. Seolah lama tidak terawat, banyak jalan berlubang yang ditemukan. Tidak heran jika pengguna jalan harus berhati-hati ketika melintas kawasan itu. Apalagi pengguna kendaraan roda dua.

Begitu juga dengan gerbang yang berada tepat di depan Rumah Potong Hewan (RPH). Kondisinya juga seolah lama tidak dirawat. Meski begitu, nama Banyumulek hingga kini masih dikenal sebagai kawasan kerajinan gerabah.

Tidak heran jika salah satu galeri penjualan gerabah yang berada di Desa Lelede tampak sepi. Kondisi itu pun diperparah dengan aksi warga setempat yang memblokir jalan tersebut. Sejumlah bus pariwisata terpaksa harus balik arah. Meskipun lokasi galeri itu berada dipaling depan, tapi tetap tidak tersentuh.

Nurhasanah salah seorang pengerajin gerabah seolah tidak terpengaruh dengan kondisi itu. Tangannya tetap cekatan memoles sejumlah souvenir dengan kuas. Souvenir berbentuk nampan kecil itu tampak berkilau terkena plitur.

Souvenir itu adalah satu dari ratusan jenis kerajinan gerabah yang tertata rapi di galeri milik H Mustajab. Sudah 10 tahun ia menjalankan bisnis kerajinan gerabah. Hasilnya pun cukup mencengangkan. Bagaimana tidak, beberapa tahun lalu dia berhasil mengirim kerajinan gerabah kesejumlah negara-negara Eropa.

Sejumlah souvenir yang terpajang dalam galeri itu diantaranya kendi maling, tempat buah, guci, pernak-pernik dapur, asbak, hiasan dinding berbentuk kura-kura dan cicak. Termasuk juga ada gantungan kunci, tempat tissue, asbak, dan peralatan rumah tangga yang berbahan gerabah.

Bentuknya pun cukup unik dan menarik minat untuk memiliki salah satu kerajinan tangan itu. Harganya pun cukup terjangkau. Yakni Rp 25 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Tapi, bagi produk seperti guci dan lainnya, bisa mencapai harga jutaan rupiah. Tergantung jenisnya.

Kini, permintaan untuk kerajinan gerabah itu tidak seramai dulu lagi. Ada saja yang memesan dalam jumlah besar. Seperti wisatawan asal Australia, Denmark, Perancis, dan negara-negara asia lainnya. Tidak heran jika omset yang diperolehnya cukup besar. a�?Ada saja yang memesan dalam jumlah besar, tapi tidak seramai dulu,a�? kata Mustajab kepada Lombok Post.kemarin (21/9).

Kondisi infrastruktur kawasan itu menjadi salah satu kendala yang kerap dikeluhkan pebisnis seperti dia. Begitu juga dengan tingkat perekonomian masyarakat yang akhir-akhir ini mulai seret. Tapi, bagi Mustajab hal itu bagian dari seni berbisnis.

Saat ini, dia memiliki tiga galeri yang tersebar di kawasan Banyumulek. Dia tidak sendiri menjalankan bisnisnya itu. Dua galerinya dijalankan oleh anak-anaknya. Usahanya cukup lancar lantaran memanfaatkan tekhnologi informasi.

Mustajab yang memang seorang pebisnis itu tidak pernah menyerah dengan kondisi. Ya, diusianya yang mulai beranjak tua dia menyimpan semangat juang tinggi. Dalam kondisi sepi saja, dia mampu meraup jutaan rupiah. a�?Apalagi kalau dapat order besar, bisa-bisa memperoleh omset ratusan juta,a�? ungkap dia.

Dia berharap pemerintah terus membantu para pengerajin dan pengusaha gerabah di daerah itu. Syukur-sukur jika membantu menambah modal usaha bagi mereka yang pemula. Tapi, baginya yang terpenting pembenahan infrastruktur terlebih NTB sedang gencar mempromosikan pariwisata daerah. (Edy Gustan/Giri Menang/r6)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka