Ketik disini

Metropolis

Bom Waktu Itu Bernama Macet

Bagikan

MATARAM – Jumlah penduduk Kota Mataram tercatat hanya sekitar 450 ribu jiwa. Artinya, kota ini masih masuk kategori kota menengah. Namun, sejumlah masalah kronis khas kota besar sudah mulai menghinggapi ibu kota Provinsi NTB ini. Macet, adalah salah satunya yang harus ditemukan solusinya, agar tak menjadi bom waktu dikemudian hari.

Ketua Organda Kota Mataram Sutarman Hadi mengatakan mendorong masyarakat kembali berpindah menggunakan transportasi publik merupakan satu langkah yang harus dilakukan. Untuk itu, Bus Rapid Transport (BRT) harus segera dimanfaatkan.

a�?Bus itu tak boleh terus dibiarkan menganggur,a�? ujarnya.

Dia mengatakan angkutan massal harus mampu melayani masyarakat dengan nyaman, aman, dan yang tak kalah penting menawarkan harga yang terjangkau. Lebih jauh ia meyakini BRT bisa menjadi jalan menyelamatkan beragam angkutan yang sudah lebih dulu ada semisal bemo kuning. Dengan menjadikannya feeder alias penyuplai, angkutan umum lain bisa disebar ke pinggiran kota. a�?Buat jaringannya terkoneksi dengan BRT, jadilah angkutan yang terintegrasi,a�? ujarnya.

Selain itu, ia meyarankan pemerintah berpikir kreatif. Ragam pola dan cara harus dipertimbangkan sejak kini. Bahkan langkah ekstrim sejumlah kota besar lain di Indonesia juga harus mulai dikaji. Misalnya pembatasan alat transportasi pribadi berdasar plat, atau mewajibkan PNS pada hari tertentu menggunakan angkutan umum. Bahkan bisa juga dengan mencegah pelajar menggunakan kendaraan pribadi untuk ke sekolah.

Pengamat Kebijakan Publik dari Lingkaran Masyarakat Madani Akhmad Roji mengatakan kondisi lalu-lintas Mataram yang carut marut salah satunya disebabkan kurangnya area parkir kendaraan. Hal itu memaksa banyak pengendara untuk parkir di badan jalan.

a�?Sebenarnya ada area publik yang bisa dimaksimalkan,a�? katanya.

Menurut Roji, jika pemerintah tegas mengatasi penyerobotan area publik, kemacetan juga bisa dikurangi. Kenyataannya, sejumlah area publik justru digunakan pengusaha untuk memajang dagangannya. Dalam banyak kasus, sejumlah ruko justru kembali menyerobot area parkir yang ada di depannya.

a�?Padahal itu bukan bagian dari hak si pemilik ruko,a�? ujarnya mengkritisi.

Kadis Tata Kota Mataram HL Junaidi mengatakan penyerobotan area publik kini menjadi fokusnya. Lebih dari 100 pengusaha diakuinya sudah disurati. Mereka umumnya dengan sengaja mencaplok area parkir yang ada di depan tempatnya usaha. Bisa dengan memajang dagangan di area yang harusnya menjadi lokasi parkir, bisa dengan menyulap tempat itu menjadi kafe dan rumh makan, bisa juga dengan memagarnya.

a�?Akibatnya mobil parkir sembarangan di pinggir jalan,a�? katanya.

Jika ratusan area publik yang kini diserobot bisa kembali ke fungsi semula, ia meyakini parkir sembarangan di badan jalan akan sangat berkurang. Terkait surat teguran, kini yang dikirim adalah teguran kedua. Jika tak ada perubahan hingga surat ketiga, langkah tegas pasti dilakukan.

a�?Kalau tak nurut ya kami bongkar paksa,a�? ujarnya.

Sayangnya hingga kini langkah bongkar paksa itu baru sebatas gertak sambal. Tidak banyak bangunan melanggar yang ditertibkan. Kesannya pelanggaran seolah dibiarkan dan makin mempengaruhi kondisi lalu-lintas kota ini.

a�?Kalau soal tindakan, kami tergantung tata kota,a�? kata Kabid Trantibum Satpol PP Kota Mataram Bayu Pancapati.

Parkir sembarangan di badan jalan sebenarnya tak melulu akibat lahan parkir yang sempit. Kesadaran pengendara yang kurang juga menjadi pemicu. Sayangnya hingga kini tak ada ketegasan dari Dishubkominfo selaku pihak yang harusnya bertindak. 10 alat gembok roda kendaraan yang melanggar tak kunjung difungsikan. Dibiarkan begitu saja di gudang, alat itu seolah hanya menjadi pajangan.

a�?Sejumlah kendala membuat kita belum bisa terapkan sanksi gembok itu,a�? kilah Kabid Pengendalian Operasional dan Rekayasa Lalu-lintas Mahfudin Noor.

Jika aturan itu diterapkan, ia mengaku tak tahu langkah lanjutan apa yang hendak ditempuh. Lapangan untuk menampung kendaraan itu juga belum ada. a�?obil untuk tarik kendaraan yang parkir sembarangan itu belum ada,a�? katanya mengacu ketiadaan mobil derek yang seharusnya disiapkan sejak awal. (yuk/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka