Ketik disini

Selong

Dianggap Mengganggu Aktivitas Pendakian

Bagikan

SELONG – Kondisi Gunung Rinjani saat ini sudah mulai normal. Meski demikian, pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) masih menutup pendakian akibat letusan yang terjadi Selasa (27/9) lalu.

Mengantisipasi letusan susulan serta hal yang tidak diinginkan. Penutupan pendakian ini ternyata membuat warga Sembalun khususnya para pemilik usaha Trekking Organisers A�(TO) kelimpungan. Lantaran, pendakian Rinjani yang menjadi mata pencaharian mereka terancam hilang untuk sementara.

“Banyak orang yang mencari makan dari Rinjani ini. Mulai dari guide, penginapan, poter dan warga sekitar sini. Kalau ditutup total, usaha kami di sini juga mati total,” ujar Muksin, salah seorang warga kepada Lombok Post.

Mereka menyayangkan keputusan TNGR yang menutup total pendakian. Mengingat, oleh pihak vulkanologi Sembalun, pendakian masih diperbolehkan namun dengan radius tiga kilometer dari A�Gunung Baru Jari.

“Makanya kami berharap tamu kami yang sudah datang diizinkan mendaki. Mereka sudah datang jauh-jauh dari Malaysia, Inggris dan negeri lainnya untuk melihat Rinjani. Kasihan mereka dan kami juga kalau dibuat ngambang seperti ini. Banyak warga yang akan kena dampak sosialnya,” keluh Muksin.

Muksin menjelaskan siap mengantarkan tamu naik hingga ke Pelawangan Rinjani. Dimana lokasi tersebut dikatakan cukup jauh dari Gunung Baru Jari. “Mereka mau tidak sampai ke danau, yang penting bisa naik sampai Pelawangan. Itu kan masih zona aman. Jangan ditutup total seperti ini,” pinta Armasih pemilik usaha TO lainnya.

Kepala Pos Vulkanologi Sembalun, Mutaharlin menjelaskan kondisi Rinjani saat ini cenderung normal. Namun, statusnya masih dalam kondisi waspada. Ia membenarkan kalau dari hasil pengamatannya dan tim Vulkanologi, radius tiga kilometer masih aman. Sehingga memungkinkan untuk pendakian.

A�”Kalau radius tiga kilometer memang masih aman. Tapi kami hanya menyampaikan hasil pengamatan dan A�aktivitas Gunung Baru Jari saja. Kewenangan untuk mengizinkan naik atau menutup total ada pada pihak TNGR,” jelasnya.

Mutaharlin menjelaskan, sebenarnya kondisi letusan pertama tidak terlalu mengkhawatirkan. Malah sekarang kondisinya cenderung menurun. Hanya saja pemberitaan di media massal menurutnya membuat heboh letusan yang terjadi Selasa (27/9) lalu. “Memang agak berlebihan menyikapinya. Karena letusan ini terjadi secara tiba-tiba makanya orang khawatir,” jelasnya.

Dengan kondisi seperti ini, Mutaharlin menerangkan status waspada kemungkinan bisa bertahan sampai satu bulan baru bisa diganti normal.

Sementara itu Kepala Resor TNGR Sembalun Zainudin menjelaskan alasan menutup total pendakian. Meskipun mereka sendiri mengaku dilema dengan kondisi saat ini.

“Kami tau dampak penutupan pendakian ini sangat besar terhadap masyarakat. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah kebijakan dari atasan kami. Kami hanya menjalankan saja,” jelasnya.

Dikatakannya, memang saat ini vulkanologi Sembalun menyatakan radius tiga kilometer masih aman. Tapi ia khawatir nanti para pendaki nekat ke tempat yang dinilai masuk dalam zona waspada tersebut.

“Pelawangan ini jaraknya 2,7 kilometer dari Gunung Baru Jari. Siapa yang bisa jamin, para pendaki ini juga nanti tidak masuk ke zona waspada. Malah bisa saja mereka turun ke Danau Segara Anak dekat lokasi Gunung Baru Jari. Itu yang kami antisipasi,” terangnya. Dengan kondisi ini, pihak TNGR mengaku serba salah.

Di satu sisi, mereka mengantisipasi kejadian hal yang tidak menginginkan, di sisi lain masyarakat sangat mengharapkan pendakian dibuka kembali.

“Saya akan laporkan kepada Kepala Balai TNGR dulu. Kami akan menunggu arahan beliau bagaimana kebijakannya,” tandasnya. (ton/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys