Ketik disini

Metropolis

Terkenang Saat Diajak Makan Dekat Sampah

Bagikan

Mutasi kemarin (30/9), menyisakan sejumlah cerita. Salah satunya aksi para supir truk sampah yang melepas atasannya.

***

SELEPAS  salat Jumat kemarin (30/9), sejumlah pria dan wanita dengan setelan jas lengkap memadati Kantor Wali Kota Mataram. Mereka bergegas naik ke lantai tiga. ”Ada mutasi, lokasinya di aula,” kata Kabag Humas Pemkot Mataram L Alwan Basri yang terlihat berjalan cepat.

Selain di dalam kantor pemkot, tak jauh dari lokasi itu, tepatnya di Lapangan Sangkareang, ada keramaian lain. Puluhan truk pengangkut sampah berjajar rapi. Para sopir dan pegawai kebersihan yang sehari-hari bertugas mengangkut sampah, lantas keluar satu demi satu dari kendaraannya. Jumlah mereka cukup banyak.

”Kami hanya perwakilan,” kata Aidi, salah seorang sopir.

Bukan hendak berdemo, kedatangan mereka ternyata terkait dengan mutasi. Pimpinannya, Kadis Kebersihan Dedy Supriady tak lagi memimpin dinas yang mengurusi sampah tersebut. Ia kini dipercaya memimpin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mataram.

”Kami mau iringi kepindahan bapak,” kata Yek, sopir lainnya.

Semua kompak mengatakan tak ada yang menyuruh mereka untuk berkumpul. Tak ada pula rekayasa apa lagi setingan. Kedatangan mereka semata karena rasa hormatnya pada Dedy yang dianggap sudah memimpin dengan baik.

Menurut mereka, Dedy adalah contoh pimpinan yang sangat mengerti akan kemauan bawahannya. Tak segan turun langsung mengangkat sampah, pria berkumis tebal itu dianggap sosok yang hebat.

”Kami ini baru pulang angkut sampah, langsung kemari,” katanya.

Ali, sopir yang sudah lima tahun lebih bekerja mengangkut sampah menceritakan ragam pengalamannya bersama Dedy. Sangat bersahaja menurutnya gambaran yang paling pas atas sosok berkaca mata tersebut. Demi melihat keadaan kota yang lebih bersih, ia tak segan turun langsung. Tak hanya perintah yang diberikan. Ia bahkan ikut mengambil sekop dan cangkul untuk membersihkan sampah.

”Saya ingat dia pernah sampai sangat kelelahan, akhirnya ramai-ramai kami makan nasi bungkus dekat tumpukan sampah,” kenangnya.

Belum usai cerita para sopir, Dedi lantas berjalan keluar dari kantor wali kota. Spontan semua berlari ke arahnya. Diapun lantas diangkat tinggi-tinggi, digendong seperti atlet yang baru mendapat medali.

Mata Dedy tampak berkaca-kaca melihat sambutan itu. Ia yang  oleh sejumlah sopir diminta bertahan hanya bisa tersenyum. Kepada penerusnya, pria murah senyum itu meminta agar seluruh elemen terkecil dalam dinas kebersihan diperhatikan. Sopir dan pemungut sampah di jalan adalah pihak paling berjasa dalam menjaga kebersihan kota. Dengan segala kekurangannya, ia menganggap seluruh anak buahnya itu sudah bekerja maksimal.

”Mudah-mudahan penerus saya bisa lebih memperhatikan nasib mereka,” harapnya.

Beberapa saat kemudian, ia diarak keliling Kota Mataram. Semua tampak terharu kala itu. Laki-laki berbadan kekar yang biasa berjibaku dengan truknya kali ini terlihat melo. Melo karena ditinggal sosok pimpinan yang dianggap mau mendengarkan dan memahami mereka. (WAHYU PRIHADI, Mataram./r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka