Ketik disini

Metropolis

Awas, Kemaluan Dipegang Mahluk Halus

Bagikan

Mata air Lingkoq Mas, tak pernah kering. Air jernih memancar dari sela-sela bebatuan. Menjadi saksi sejarah, tak terjamah. Tidak hanya tentang kesegaran airnya, tetapi cerita mistis yang mengiringi setiap gemericik airnya.

***

TIDAKA� sulit menemukan Lingkoq (Sumur) Mas ini. Jika sampai Kelurahan Sayang-Sayang, Cakranegara, maka cukup cari masjid besarnya. Di depan ada gang. Lurus saja, sampai mentok. Disanalah Lingkoq Mas berada.

Namun jika anda warga luar kota, gunakan saja layanan, google map. Cari dengan clue a�?Mata Air Sayang-Sayang Matarama��. Pasti ketemu. Cuma ada perbedaan caption di sana. Di google map, tertulis a�?Sumber Mata Air Lingkok Nununga��. Ikuti petunjuknya. Anda akan diarahkan ke Lingkoq Mas.

Saat koran ini mendatangi tempat itu, seorang pria langsung menunjuk Lingkoq Mas. Namanya Heri. Orang tuanyalah yang pertama kali membangun rumah di dekat itu.

a�?Hati-hati nanti ada orang mandi,a�? kata dia memperingatkan.

Beruntung, tempat itu masih kosong. Beberapa anak kecil, mengikuti. Tampaknya mereka tak lebih penasaran dari pada Koran ini.

Sampai di sana, jauh dari bayangan. Lingkoq dalam bahasa Sasak yang bermakna sumur, ternyata bukan sumur. Entahlah. Tapi warga setempat, memang sudah mewarisi nama Lingkoq Mas. Sejatinya, itu lebih mirip tiris. Yakni, lubang sedalam satu depa, atau lebih untuk menampung mata air.

a�?Di sini tempat mandi wanita,a�? kata seorang anak.

Air Lingkoq Mas, sangat jernih. Namun bebatuan di dasarnya, berlumut. Di sebelahnya lagi ada tanah wakaf untuk langgar. Tempat muslimah, melaksanakan ibadah solat. Biasanya setelah mandi.

Tapi sayang. Tempat selangka itu, kurang terawat dengan baik. Pemerintah kota sepertinya sudah ikut campur tangan, melestarikan tempat itu. Membantu perbaikan Lingkoq Mas, agar lebih representatif. Membangun tembok dan bak penampungan air biar lebih nyaman. Tapi dari segi kebersihan, masyarakat kurang merawatnya. Begitu juga, di tembok. Banyak coretan-coretan tak sedap dipandang mata.

a�?Kebersihannya saja yang kurang, tapi kalau airnya tidak pernah kering,a�? ujar Heri.

Pria bertubuh gemuk itu, lalu memperkenalkan Koran ini pada kakek tua. Ia biasa dipanggil Tuaq (paman) Hakim. Usianya cukup renta. 75 tahun. Tapi, terlihat masih segar bugar.

a�?Tidak ada yang tahu (sejarah Lingkoq Mas), tiba-tiba saja sudah ada,a�? kata Hakim.

Ia menekuk-nekuk pelipisnya. Seperti menguras, isi ingatannya. Sayang, lagi-lagi ia tak mengingat apapun termasuk cerita sumir Lingkoq Mas. Meski Koran ini dengan agak memaksa, meminta ia mengingat lagi.

a�?Ndak ada yang tahu. Kebanyakan orang-orang sepuh di tempat ini sudah meninggal. Memang masih ada satu lagi, tapi percuma. Anda perlu pakai speaker untuk bicara dengannya, baru ia dengar,a�? ujarnya. Hakim tak bercanda. Ia serius.

Namun ada beberapa fakta tentang lingloq itu yang bisa diceritakan Hakim. Pertama, lingkoq itu dulu adalah kebun. Banyak tumbuh tanaman ilalang, pisang, bambu danA� boroq duri besar di sana.

Namun, sejak pemerintah berupaya menyelamatkan mata air, dengan membangun bak, dinding dan atap, tempat itu kini terlihat lebih baik. Sayangnya fakta lain, justru dengan dibangunnya bak itu, debit air yang keluar dari mata air berkurang jauh. Tidak sederas saat tempat itu masih rimbun pepohonan.

a�?Airnya dulu sampai meluber kemana-mana. Tapi sekarang, kalau malam saja baru penuh,a�? timpal Heri.

Lalu fakta selanjutnya, tempat itu dua kali telah direnovasi. Di tahap awal, pengerjaan hanya untuk bak penampungan. Baru kemudian karena masyarakat menjadikan tempat itu pusat untuk mandi, nyuci, ambil air minum, untuk kedua kalinya, tempat itu dipugar lagi.

a�?Lingkoq itu, hanya untuk perempuan. Sementara laki-laki, boleh mandi pada hari Jumat saja,a�? terang dia.

Lalu kenapa laki-laki, hanya boleh mandi hari Jumat saja. Sementara di hari lain dilarang atau lebih tepatnya, tidak ada yang berani?

Ternyata ini, ada kaitanya dengan cerita mistis. Konon jika ada pria yang berani mandi di hari selain Jumat, maka kemaluannya akan ditarik tangan makhluk halus. Dari arah bawah.

a�?Loh kalau tidak percaya coba saja. Di sini, tidak ada laki-laki yang berani mandi kecuali hari Jumat,a�? kata Hakim. Lagi-lagi ekspresinya sangat serius.

Namun, tidak berarti kaum pria tidak bisa menggunakan air Lingkoq Mas. Di bawah Lingkok Mas ada saluran yang mengalirkan air menuju sebuah pancuran. Jaraknya sekitar 500 meter dari sumber air Lingkok Mas. Nah, di sanalah para laki-laki bisa mandi sepuasnya, tanpa perlu khawatir kemaluannya disentuh mahluk halus.

A�a�?Jadi perempuan di sini, sementara laki-laki di tempat lain. Ada pancoran yang jaraknya sekitar 500 meter, dari sini di sana biasanya laki-laki mandi,a�? sambut Hakim.

Lalu kenapa sumber mata air itu dinamakan Lingkoq Mas. Ternyata ini erat kaitannya dengan kisah sebuah gayung. Seperti apa? Baca lanjutannya edisi Senin besok(03/10). (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka