Ketik disini

Sudut Pandang

Bela Negara ala Sipil

Bagikan

TULISAN tentang bela Negara ala sipil ini sengaja dibuat menjelang peringatan hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dengan maksud agar semangat bela negara dari TNI yang tidak diragukan lagi kekaratannya dapat diadopsi dengan cara sipil oleh warga bangsa. Hal ini penting untuk terus mendorong semangat bela negara dari anak bangsa yang akhir-akhir ini tidak terlalu maksimal.

Bela negara adalah kewajiban dasar manusia, dan juga kehormatan bagi tiap warga negara yang penuh kesadaran, tanggung jawab dan rela berkorban kepada negara dan bangsa. Pada hakekatnya bela negara adalah kesediaan berbakti pada negara da kesediaan berkorban membela negara. Model bela negara bisa dalam bentuk yang paling halus (soft) sampai yang paling keras.

Bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya.

Bela negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara Republik Indonesia. Bela negara adalah upaya setiap warga negara untuk mempertahankan Republik Indonesia terhadap ancaman baik dari luar maupun dari dalam negeri.

Negara tidak hanya dibela dari ancaman kedaulatan oleh negara lain, tetapi juga harus dijaga dari kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, konflik horizontal, dan berbagai hal negatif lainnya. Oleh karena itu, ada aksi bela negara yang setiap saat harus dilakukan, dan ada action bela negara yang dalam keadaan tertentu baru dipersembahkan.

Mempertahankan kedaulatan negara dari ancaman negara lain adalah kewajiban bela negara yang harus diberikan oleh setiap warga negara (disesuaikan dengan ketentuan dan aturan yang ada). Bentuk bela negara seperti ini termasuk dalam kategori bela negara dalam kondisi/keadaanA� tertentu (tidak rutin atau permanen dilakukan). Aksi bela negara yang serta-merta dan setiap saat harus dilakukan adalah membela negara dari ancaman kebodohan, ketertinggalan, kemiskinan, dan ancaman terhadap kesatuan serta kebersamaan.

Gerakan reformasi 1998 yang dimotori mahasiswa dan pemuda telah tercatat dalam tinta emas sejarah pergerakan di Indonesia. Sejarah tersebut harus terus dijadikan sebagai spirit bagi pemuda dan mahasiswa dalam mengisi dan berkontribusi serta mengawal agenda-agenda reformasi. Sejarah perjuangan reformasi adalah sejarah bela negara yang dipersembahkan oleh pemuda. Namun, perjuangan tidak boleh berhenti. Kontrol dan pengawalan agenda reformasi harus tetap dilakukan agar semangat bela negara tetap dikobarkan.

Menurut hemat saya, esensi dari jiwa dan sikap nasionalisme ada pada upaya menginternalisasi nilai-nilai yang ada dalam Pancasila untuk diamalkan kehidupan sehari-hari. Nasionalisme juga harus ditunjukkan dengan membudayakan tradisi musyawarah dan berdemokrasi. Akhir-akhir ini, seringkali pesta demokrasi dikotori oleh aksi-aksi anarki dan pertikaian antarpendukung pasangan calon kepala daerah. Fenomena ini selain bertentangan dengan nilai demokrasi, juga tidak mendukung upaya bela negara yang harus dilakukan oleh warga bangsa.

Memang sudah banyak yang dilakukan generasi muda dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Tapi masih ada beberapa perilaku oknum pemuda yang perlu dikritisi. Dalam beberapa konflik dan kerusuhan sosial yang terjadi di beberapa daerah, ada banyak pemuda yang terlibat sebagai aktor dalam konflik tersebut. Perilaku oknum pemuda seperti ini bertentangan dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan, dan nilai musyawarah yang ada dalam Pancasila.

Bangsa kita saat ini menurut saya minim keteladanan. Perilaku oknum elit (pejabat) terkadang kontraproduktif dengan nilai-nilai Pancasila. Elit yang seharusnya menjadi referensi bagi generasi muda atau anak-anak, justru masih ada yang memperlihatkan sikap tidak terpuji seperti korupsi, bertikai, dan lain sebagainya.

Guru dan pendidik yang diharapkan jadi pendidik, ternyata banyak yang terjebak pada praktik politik praktis (karena politisasi pendidik yang dilakukan oleh elit politik) dan terkadang mempraktikkan perilaku curang dan tidak jujur. Tokoh agama dan tokoh masyarakat yang idealnya menjadi benteng etika dan moral, terkadang banyak terkontaminasi politik praktis, sehingga susah diharapkan ada petuah bijak yang objektif dari mereka.

Nilai keadilan sosial adalah menjadi komitmen untuk tegaknya sikap kesetaraan dan antidiskriminasi. Prinsip keadilan menjadi modal dasar bagi munculnya semangat bela negara. Bahkan menegakkan keadilan adalah bagian dari wujud bela Negara. Cinta yang ideal adalah cinta yang total.

Pertama, ditandai dengan perhatian dan kepedulian maksimal, memahami apa kebutuhan dan memenuhinya. Kedua, mempersembahkan atau memberi yang terbaik dari kemampuan yang kita miliki. Dan ketiga, melindungi dari ancaman dan gangguan apapun, sehingga yang kita cintai merasa aman dan kita pun menikmatinya dengan penuh kenyamanan.

Bila filosofi cinta seperti ini dikaitkan dengan cinta pada tanah air, maka cinta kita pada tanah air harus totalitas, mulai dari memahami dan peduli terhadap cita-cita dan peduli terhadap persoalan bangsa, kemudian memberikan sumbangsih apapun yang kita miliki untuk perkembangannya, serta bersedia membelanya bila negara dalam ancaman dari dan oleh apapun dan siapapun.

Kita harus menjadikan ancaman dan sakit yang dirasakan bangsa menjadi ancaman dan sakit bagi diri kita masing-masing. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membela bangsa ini.

Kekuatan negara tidak hanya karena kuat dan solidnya TNI dan juga POLRI, tetapi lebih banyak dikontribusi oleh kekuatan sipil. Energi kekuatan sipil yang antara lain diorientasikan untuk membela negara dapat memperkuat ketahanan nasional. RakyatA� dan TNI yang solid dan kuat akan terakumulasi menjadi barisan pembela Negara yang handal, sekaligus negara akan kuat karena terimun dari ancaman apapun. Semogaa��A� (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka