Ketik disini

Headline Metropolis

Geopark Sampah Kelas Dunia

Bagikan

Gunung Rinjani menyongsong predikat Geopark Dunia. Tapi, gunung indah itu dibiarkan merana. Para pendaki, para petualang, seakan a�?berlombaa�? menjadikan Rinjani sebagai tong sampah raksasa. Mendaki membawa sampah serombong, tapi turun dengan tangan kosong melompong. Saatnya malu mempromosikan Rinjani pada dunia, kalau mengurus sampahnya saja, para pemangku kepentingan tak kuasa.

***

SUKA CITA membelit delegasi NTB di Kota Torquay, Inggris Raya. Kota kecil di tepian laut Mediterania itu, menjadi saksi Gunung Rinjani, gunung kebanggaan NTB, gunung kebanggan Indonesia, masuk dalam 18 nominasi kandidat Geopark Dunia dari UNESCO tahun 2017.

Pada 30 September 2016, di hadapan delegasi dari berbagai penjuru dunia yang datang untuk ikut konferensi internasional geopark dunia, tim asesor UNESCO Maurizio Burlando dari Italia dan Soo-Jae Lee dari Korea Selatan, menyerahkan hasil penilaian mereka terhadap kelayakan Gunung Rinjani. Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi memimpin delegasi NTB yang terdiri dari sejumlah kepala SKPD untuk menjadi saksi atas nominasi Rinjani di forum dunia tersebut.

Jika seluruhnya berjalan mulus, pada Mareta��April 2017, UNESCO akan menerbitkan rekomendasi seberapa layak Rinjani sahih menyandang status Geopark Dunia atau tidak. Kala rekomendasi keluar, hanya dua bulan waktu bagi NTB untuk berkemas memberesi apa saja yang kurang.

Tentu saja, kabar dari Inggris Raya itu disambut suka cita pula di sini. Siapa tak bangga, Rinjani mendapat pengakuan dunia. Sampai di sini, semua tampak biasa saja. Sampai kemudian datang kabar bertubi-tubi dari Rinjani.

Masya Allah. Gunung yang tengah dipromosikan dengan kebanggaan tak terkira hingga ke seluruh penjuru dunia itu, kini tengah merana. Promosi yang demikian hebat, rupanya tak sebanding dengan cara NTB merawat dan menjaga Rinjani secara cermat.

Pelan dan pasti, keindahan Rinjani telah digerus oleh tumpukan sampah. Hitungan sementara jumlahnya telah berton-ton. Dan ini yang bikin risau. Tumpukan sampah itu bukannya berkurang. Namun, terus bertambah. Tiap hari, tiap pekan, tiap bulan dan tiap tahun.

Belum lama Lombok Post ke menyapa Rinjani dari dekat. Sejak dari pos satu jalur pendakian Sembalun, sampah sudah menjadi pemandangan nan lumrah. Sampahlah yang menyambut para pendaki. Aneka sampah kantong plastik mendominasi. Di jalur ini memang ada tong-tong sampah yang terbuat dari drum bekas. Namun, tong sampah itu sudah penuh sesak. Tak kuat lagi menampung beban sampah yang datang bertubi-tubi. Alhasil sampah tercecer di mana-mana. Jorok sudah pasti. Mungkin, kalau Rinjani tak bersuhu dingin, minta ampun sudah akan bau tak sedapnya.

Para pembuang sampah di Rinjani pintar pula. Sampah-sampah itu tak dibiarkan berserakan di jalan jalur pendakian. Namun dibuang beberapa meter di samping kiri kanan jalur pendakian. Sehingga sepintas, jalur pendakian tampak bersih nan rapi. Macam jalan yang disapu saban hari.

Tapi tengoklah ke samping kiri kanan jalur pendakian. Di situlah sampah-sampah bercokol. Aneka macam rupanya. Tapi paling banyak sampah tisu bekas buang air baik besar maupun kecil. Inilah yang banyak berserakan. Dari para pendaki dan pengunjung Rinjani-lah sampah-sampah itu berasal.

Sampai di pos dua, sampah terlihat kian banyak. Di sekitar shelter, yang dominan adalah sampah plastik bekas bungkus mie instan dan makanan ringan. Di sini, para pendaki beristirahat bersisian dengan sampah-sampah tersebut.

a�?Di tempat ambil air di pos dua (pos tengengean) tepat di bawah jembatan, sampah mengotori sumber air,a�? kata Rizqi, pendaki yang bersama Lombok Post kala itu.

Pria yang kerap disapa Otoel ini merasa enggan meminum air tersebut. Namun karena hanya itulah satu-satunya sumber air yang ia ketahui, membuatnya terpaksa menenggak air becampur jentik nyamuk tersebut.

Di pos tiga, meskipun tidak separah di pos dua sampah masih menjadi pemandangan. Pos yang berada tepat di bawah Bukit Penyesalan tersebut menjadi salah satu nominasi tempat terkotor di jalur pendakian Sembalun. a�?Pendaki juga cuek aja, karena mungkin mereka juga merasa bertanggung jawab sama sampah mereka masing masing,a�? cetus Otoel.

Lalu, lima jam setelah mendaki Bukit Penyesalan, pemandangan sampah terlihat lebih mengerikan. Tepatya di Pelawangan Sembalun. Tempat tersebut paling favorit bagi para pendaki lantaran tempat peristirahatan terdekat dengan puncak.

Tempat tersebut juga salah satu spot terbaik untuk menyaksikan keindahan Rinjani.

Pun begitu Danau Segara Anak. Sampah di sana juga telah merajalela. Sampah bahkan menumpuk di tempat yang seharusnya menjadi tempat yang menenangkan bagi para pendaki. Di shelter pinggir danau, tong sampah yang sudah membeludak menjadi pemandangan sehari-hari.

Di jalur menuju tempat pemandian air panas alami Aik Kalak, rumput juga telah berganti sampah. Rumput-rumput itu mengalah pada sampah. Keduanya kini tengah berebut menjadi penguasa, dan rumput telah kalah.

Tak Berdaya

Sampah-sampah itu tentu saja tak datang sendiri. Tidak pula dibawa angin. Dari tangan pendaki dan para penikmat Rinjanilah sampah itu berdatangan. Aneh bin ajaib tentu saja. Mengingat sebagian dari mereka bahkan dengan bangga mengklaim dirinya sebagai pencinta alam.

Rinjani memang telah menjadi impian banyak orang. Tak ada petualang yang tak ingin menjejakkan kakinya ke sana. Sepanjang tahun 2015 saja, Rinjani telah dikunjungi sedikitnya 71.000 pendaki. Sementara sepanjang 2016 semenjak pendakian dibuka 1 April, jumlah pendaki telah mencapai 87.645 orang. Saat ini, pendakian tengah ditutup, menyusul meletusnya Gunung Barujari pekan lalu. Status Anak Rinjani masih Waspada Level II, sehingga radius tiga kilometer dari kawah, zona terlarang dan mesti steril dari aktivitas manusia.

Begini hitungan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Jika satu pendaki saja membawa 1 kg sampah. Maka sepanjang 2016 ini saja, sudah ada 87.645 kilogram sampah dibawa ke Rinjani. Anda tahu itu artinya apa? Sampahnya setara dengan 87 ton.

Sampah yang ditinggal dan dibawa kembali tak sebanding. a�?Kami memang tak tak mampu menangani,a�? kata Kepala Seksi Wilayah II TNGR, Gustoni pada Lombok Post.

Sebagai pengelola taman nasional, TNGR memang punya program clean up sampah di Rinjani. Secara rutin sampah diangkut empat sampai enam kali dalam sebulan. Sekali berangkat hanya sepuluh petugas menyisir sampah. Jika satu petugas mampu mengangkat sampah 50 kilogram, maka itu berarti hanya setengah ton sampah mampu diangkut dan dibawa turun dalam sekali pembersihan. Dalam sebulan berarti hanya mampu membawa tiga ton.

Dan selalu para petugas ini kalah cepat dengan para pendaki yang seenaknya saja buang sampah sembarang. a�?Sekarang kami bersihkan, tidak perlu menunggu seminggu atau tiga hari, besok pagi malah sudah numpuk lagi sampahnya,a�? kata Zainudin, Kepala Resor TNGR Sembalun menambahkan.

TNGR sempat mencari akal. Dibuatkan pula program pack in-pack out untuk setiap pendaki. Program ini mengharuskan para pendaki mengisi listing barang bawaan mereka. Sehingga saat turun nanti juga dicek apakah mereka membawa turun kembali sampah bekal yang dibawa naik ke gunung. Sayangnya, program ini gagal total.

Masalahnya para pendaki tersebut juga a�?licik.a�? Mereka memilih turun di jalur pendakian yang berbeda ketika mereka datang. Misalnya, mereka naik dari Sembalun kemudian turun lewat Senaru, Sajang, Bawaq Nao hingga Dapur Beleq. Yang bikin petugas kesulitan juga waktu turunnya tidak sesuai jam kerja. Kadang ada yang turun malam hari hingga subuh. a�?Padahal saat itu kan gak ada petugas jaga,a�? katanya.

Tak cuma di Sembalun. Pun begitu di pintu pendakian Senaru. Kesulitan juga membelit para petugas di sana. a�?Kita lakukan terus seminggu sekali pembersihan. Tapi tak cukup,a�? ujar Kepala Seksi Wilayah I TNGR Seno Pramudita, kemarin.

Menurutnya, meski telah dibersihkan tetapi sampah yang tertinggal masih lebih banyak. Padahal, estimasi volume sampah dalam sekali kegiatan bersih gunung mencapai 5 hingga 10 ton. a�?Kalau tidak diimbangi dengan kesadaran para pendaki masalah sampah di Rinjani ini memang tidak akan tuntas,a�? tandasnya.

Pihaknya berharap, tidak hanya TNGR saja yang aktif untuk membersihkan kawasan Gunung Rinjani dari tumpukan sampah. Kalangan pelaku pariwisata seperti pengusaha trekker maupun komunitas lain juga bisa ikut ambil bagian.

a�?Memang itu tugas kami, tetapi kalau hanya TNGR saja tentu sangat berat. Kita berharap peran pelaku juga maksimal,a�? cetusnya.

Gustoni menambahkan, urusan membuang sampah sembarang ini sebanding antara pendaki nusantara ataupun pendaki asing. Bahkan kata dia, dari jenis sampah plastik yang kini banyak di sana, banyak makanan-makanan yang memang dibawa oleh para pendaki asing. a�?Kalau pendaki lokal akan berpikir dua kali membawa beban yang terlalu banyak naik ke Rinjani,a�? katanya.

TNGR pun menuding, peran pemilik usaha Trekking Organizer (TO) juga belum terlihat maksimal dalam hal penanganan sampah. Sebab, biasanya para pendaki naik Rinjani dengan porter dan juga pemandu dari TO. Sehingga, harusnya jika para porter, pemandu dan TO bertanggung jawab bersama, maka mestinya sampah di Rinjani tak akan separah sekarang.

Namun, tudingan TNGR ini ditampik mentah-mentah pemilik TO. Armasih, pemilik TO Rinjani Family Home Stay mengaku himpunan TO telah menyepakati untuk pembuatan program kebersihan. Dimana setiap TO pendakian Rinjani akan membayar Rp 25 ribu untuk para poter yang turun membawa sampahnya per kilogram.

a�?Jadi porter-porter itu turun bawa sampah. Malah, kalau ada tamu yang melapor ada poter yang membuang sampah sembarangan, kami akan potong honor poter tersebut. Selain itu kami juga tidak akan memanfaatkan jasa porter itu lagi,a�? jelas dia.

Sehingga, dalam hal ini ia merasa tidak terima jika TO dianggap tidak berkontribusi terhadap kebersihan Rinjani. a�?Kami makan dan hidup dari Rinjani. Kalau kami biarkan Rinjani terus dipenuhi sampah, otomatis dampaknya akan berimbas terhadap usaha kami juga. Terus terang, wisatawan asing itu sangat tidak suka dengan sampah,a�? tegasnya.

Entahlah siapa yang benar. Faktanya, Rinjani kini dipenuhi sampah yang kian hari-kian menggila.

Masalah Pelik

Kasubag Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani Mustafa Imran Lubis mengatakan, sebetulnya TNGR punya mimpi besar pada Rinjani. Gunung itu dihajatkan akan menjadi tempat pendakian terbaik di dunia. Namun ia mengakui, tumpukan sampah masih menjadi persoalan pelik. Dan belum ada jurus mujarab untuk mengatasinya hingga kini.

Ia memberi contoh. Saat pembersihan beberapa waktu lalu, hanya 8 ton sampah yang bisa diangkut dari gunung. Sementara sisanya belum bisa turunkan.

Beberapa program yang sudah dan sedang dilakukan Balai TNGR di antaranya membentuk forum yang di dalamnya terdiri dari para pelaku wisata seperti TO. Tujuan pembentukan forum ini adalah untuk menjadikan mereka sebagai mitra dalam menjaga kebersihan Gunung Rinjani. Menurutnya masalah sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada Balai TNGR. Tetapi tanggung jawab besar ada pada para penyelenggaran pendakian pula.

Sebab, merekalah yang membawa dan membimbing pengunjung untuk naik. Mereka banyak mendapat keuntungan dari pendakian tersebut. Sehingga mestinya mereka bisa menyisihkan penghasilannya untuk kebersihan, atau bertanggung jawab penuh terhadap kebersihan.

Tapi sampai saat ini, baru tiga TO yang menyatakan komitmen untuk kebersihan yakni Rudi Trekking, Green Rinjani, dan Rinjani Trekking Center. Sementara yang lain belum menguatkan komitmennya untuk menjaga kebersihan.

Jika terus begini, maka TNGR akan mengambil langkah tegas. Tahun 2017, TNGR juga sudah menyiapkan beberapa langkah untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. Termasuk di dalamnya mengurangi volume sampah.

Di antaranya dengan membatasi jumlah pengunjung yang boleh naik. Dengan pola saat ini, kenyamanan dan keamanan pendaki dikhawatirkan akan terganggu. Terlalu ramai juga tidak bagus, karena pengunjung tidak bisa menikmati alam yang lebih leluasa. Selain itu, tingginya jumlah pendaki juga berdampak pada tingginya volume sampah yang dihasilkan.

a�?Kita akan coba batasi jumlah pengunjung, dalam artrean mereka akan antre menunggu giliran mendaki,a�? katanya.

Untuk mendukung hal ini, Balai TNGR juga akan menyiapkan sistem online booking. Bagi para pengunjung yang ingin mendaki, mereka terlebih dahulu bisa memesan sehingga lebih tertib. Dengan demikian tidak terjadi penumpukan pengunjung di atas gunung.

Lubis menyebutkan, jumlah pengunjung dari April-September 2016 sebanyak 87.645 orang, terdiri dari 29.458 orang wisatawan mancanegara danA� 58.187 orang wisatawan nusantara. Tahun lalu, total pendapatan negara bukan pajak dari Gunung Rinjani sebesar sedikitnya Rp 4 miliar. Uang tersebut langsung disetor ke kas negara. Saat ini biaya pendakian untuk wisatawan asing Rp 150 ribu sementara untuk wisatawan lokal Rp 5 ribu.

Untuk memudahkan pemantauan, pihaknya juga akan memasang cctv di kawasan Gunung Rinjani, sehingga 75 persen kawasan bisa terpantau dari kamera tersebut. a�?Ini masih kita rencanakan di 2017,a�? katanya.A� (ili/van/ton/puj/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka