Ketik disini

Perspektif

Kurator

Bagikan

DI setiap rumah selalu ada tempat rahasia. Hanya penghuninya yang mengetahui. Tempat rahasia yang saya maksud semacam tempat penyimpanan benda-benda. Bisa jadi dalam bentuk kotak kayu, koper tua, atau dus-dus bekas. Saya menyebutnya kotak rahasia.

Di rumah saya ada beberapa. Begitu juga di rumah orang tua saya. Sewaktu kecil sampai remaja bahkan dewasa, saya kerap membuka kotak rahasia yang di simpan Inaq di belakang lemari kayu di ruang tengah. Meski rahasia, kali ini saya hendak berbagi tahu apa isinya.

Semasa remaja dulu saya masih mendapati baju-baju masa kecil kami yang tersimpan rapi. Yang paling awet adalah buku-buku tulis dan bacaan semasa kami duduk di bangku SD bahkan sampai SMA. Sampai kini masih tetap ada. Inaq tak membuangnya.

Suatu ketika saya bertanya, mengapa buku dan kertas-kertas lama tidak dijual kiloan saja? Karena kini pembeli kertas dan plastik gelas bekas acap kali bergeriliya ke kampung-kampung mencari pelanggan. Kertas-kertas dan plastik untuk di daur ulang.

Inaq bukannya tak mau menjual kertas-kertas tersebut, tapi menurutnya ia memilah dan memilih mana yang menumpuk dan tidak penting. Itulah yang dijual. Sementara buku-buku catatan kami sama sekali tak disentuhnya. Masih rapi.

Suatu kali, saya membuka dus besar bekas tempat televisi yang pertama kali kami miliki di tahun 90-an. Saya menemukan buku catatan sekolah semasa SD. Dalam satu buku bertulis tiga mata pelajaran. Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Pendidikan Moral Pancasila (yang kini telah berganti nama menjadi Pendidikan Kewarga Negaraan-PKN). Begitu pula dengan pelajaran seperti matematika ia kami satukan bukunya dengan Ilmu pengetahuan Alam.

Buku semasa SD saya dulu terbilang cukup irit. Itupun tak membeli karena setiap tahun kenaikan kelas, peringkat juara keas biasanya dihadiahkan buku dari sekolah.

Berbeda dengan buku catatan semenjak SMP sampai SMA, mengalami banyak perubahan. Setiap mata pelajaran dicatat terpisah. Masing-masing ada bukunya tersendiri. Begitu juga dengan tulisan-tulisan tangan yang terlihat lebih penuh di setiap buku. Bukan hanya buku saya, buku kakak-kakak saya masih tersimpan rapi pula. Nama-nama kami tertulis di sampul depan.

Tak hanya buku-buku. Raport, ijazah bahkan dokumen-dokumen berharga lainnya, inaq simpan begitu rapi. Hampir satu kali dalam setahun, saya kadang iseng memeriksa dokumen dan benda-benda tersebut.

Membuka catatan-demi catatan, saya seperti kembali pada berpuluh tahun lalu. Mengingat begitu banyak kenangan masa kecil dan melewati hari-hari, usia-demi usia. Di beberapa tempat, dan kotak rahasia dalam rumah, saya seperti masuk ke dalam museum. Menyentuh setiap benda yang ada seperti membawa kembali pada masa itu, masa dimana setiap benda tersebut menjadi bagian yang merekam setiap peristiwa pada masanya.

Kepada Inaq, kurator terbaik, membangun museum bagi anak-anaknya. Saya berterima kasih untuk ini semua ini. Pada akhirnya saya pun kini belajar untuk mendokumentasi beberapa hal, mengumpulkan catatan-catatan pelajaran si Nejad, anak saya yang kini duduk di bangku kelas III SD. Hasil menggambarnya sejak duduk di bangku TK saya simpan, juga buku-buku komik yang ia sukai. Termasuk beberapa barang seperti tas yang sudah tak ia pakai. Saya menyimpannya dalam koper di pojok ruangan.

Hanya saja ada yang berbeda. Suatu siang sepulang kerja, saya mendapati koper penyimpanan barang di kamarnya berantakan. Itu artinya, akan ada pekerjaan tambahan. Saya mengomel, bertanya apa yang dia cari sampai membongkar barang-barang. Ia hanya menjawab. a�?Nanti saya bersihkan kembali.a�?

Pertanyaan saya terjawab sekitar jam 13.00 wita, keesokan harinya. Ketika ia sedang bermain dengan teman-temannya di Berugaq belakang rumah. Tanpa sengaja saya mendengar percakapan sekelompok anak SD dalam Bahasa Sasak yang kira-kira artinya begini.a�?Kami masih ada nasi, kau makanlah di sini, jika nenekmu belum kembali tunggu saja di sini sambil kita bermain. Tas serta buku A�kemarin pakailah sekolah itu sudah menjadi milikmu sekarang.a�?

Saya penasaran, dan segera ingin mencari tahu. Sembari membawa semangka yang telah saya potong-potong saya meminta izin untuk bergabung di kelompok kecil itu. Si Nejad lantas memperkenalkan temannya itu. a�?Ini Zhulmi, Maka�� Ia kelas I SDa��a�? saya tersenyum.

Si Nejad lantas menarik saya masuk ke dapur. Setengah berbisik ia mengatakan, a�?Zhulmi yang pernah saya ceritakan dulu Mak. Ia dan kakaknya kini tinggal bersama neneknya. Ibunya sudah dua tahun ke Malaysia dan bapaknya ke Kalimantana��Inaq jangan bertanya apa-apa kalau ada makanan berikan saja, tas dan beberapa baju yang inaq simpan di koper sudah saya berikan padanya.a�? Lantas si Nejad meninggalkan saya yang masih diam tepekur di pojok dapur.

Ada desiran angin halus yang terasa menyentuh pori-pori. Sungai kecil yang airnya hangat mengalir di pipi saya. Rasanya sulit untuk tidak menulis semua ini. Tuhan seperti begitu banyak memberikan saya pelajaran hidup dari setiap hal dan peristiwa. Dari orang-orang terdekat saya, dari Inaq, bahkan anak-anak yang usianya baru delapan tahun.

Mengakhiri tulisan ini, saya berpikir, mungkin kelak anak-anak saya tak akan mengingat Ibunya sebagai kurator, pengumpul semua barang-barang mereka, untuk dikenang, untuk mengembalikan ingatan mereka pada masa kecilnya.

Sebab, mereka sejak dini telah memilih untuk membagi-berbagi apa yang menjadi hak miliknya kepada yang lain. Tapi setidaknya saya menuliskan semua pelajaran ini untuk mereka yang kelak ketika dewasa, mungkin akan masih bisa mereka baca. Bahwa tidak hanya anak yang belajar dari orang tuanya, bahkan seorang Ibu sekalipun belajar memaknai hidup dan kehidupan dari anak-anaknya. (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka