Ketik disini

Metropolis

Siapa Bisa Menjamin?

Bagikan

MATARAM – Nilai investasi yang masuk ke Kota Mataram, cukup bagus. Sedikit lagi angkanya akan tembus Rp 15 triliun. Detail angkanya saat ini di kisaran Rp 14,854 triliun.

Angka yang sangat menjanjikan untuk membangun usaha di bidang perdagangan dan jasa. Bak gula yang dikerubung semut, investasi jumbo itu ternyata telah menarik ribuan tenaga kerja.

Tidak hanya warga Kota Mataram, tapi kaum urban pun melihat peluang besar dengan geliat investasi yang tumbuh bak jamur di musim hujan. a�?Memang tidak bisa kita nafikan, investasi telah memberi harapan pada banyak orang, termasuk warga luar kota masuk ke Kota Mataram,a�? kata Wakil Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana, Selasa (4/10) kemarin.

Mau tidak mau, jika warga kota asli Mataram, tidak ingin tersisih dan terpinggirkan, maka mereka harus siap berebut kembang gula investasi yang semakin manis.

Memang ada persoalan yang timbul di sini. Banyak kaum urban yang datang ke Kota Mataram, adalah orang-orang yang sudah siap. Baik dari skill dan kompetensi mengadu nasib.

Di sisi lain, perusahaan juga tidak mungkin mempekerjakan tenaga kerja yang tidak kompeten. Mereka berinvestasi tentu tujuannya adalah untuk meraih laba sebeasar-besarnya. Karena tingginya laba sama dengan meningkatnya kesejahteraan.

Itu juga bisa bermakna, ekspansi usaha bisa merambah lebih luas lagi. Karena itu, meski kebijakan pemerintah mengharuskan 70 persen dari tenaga kerja yang ada di suatu perusahaan adalah warga lokal, namun porsi itu untuk pekerjaan buruh. Di luar manajemen.

a�?Kita sudah buat kesepakatan dengan para pengusaha. 70 persen harus diisi tenaga kerja lokal. Ya, kecuali di tataran manajemen (kita memang tidak bisa jamin),a�? imbuhnya.

Tapi bukan berarti 70 persen itu sudah milik murni warga kota. Realitanya, kaum urban banyak juga yang memanfaatkan kemudahan mendapatkan administrasi kependudukan Kota Mataram. Sehingga, dengan sendirinya, ketika mereka tercatat sebagai warga kota, tentu ikut menjadi tanggung jawab pemerintah untuk dientaskan persoalan sosialnya.

Namun, Mohan mengaku tidak mau ambil pusing soal itu. Selama mereka tercatat sebagai warga kota, tentu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah mengatasi persoalan sosialnya.

Dalam pandangannya, warga Kota Mataram, bukan hanya warga yang lahir dan besar di daerah ini. Tetapi siapapun yang ingin menggantungkan hidup dan telah terdata sebagai di tempat ini.

a�?Ya, ya, nggak tahulah. Tapi saya lihat secara faktualah, cukup terakomdir dimana investasi yang ada telah memberi harapan pada banyak orang yang ingin menggantungkan hidup di Kota Mataram,a�? ulasnya.

Ia menambahkan, pemerintah punya kewajiban memastikan investasi yang ada, benar-benar memberi kemanfaatan bagi masyarakat sekitar. Terutama, di tempat perusahaan itu berdomisili.

Disanalah pemerintah berperan memastikan, duit dari para pemodal dapat memberi efek kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

a�?Intinya political will kita, siapapun yang berinvestasi, agar mempekerjakan warga yang ada disekitarnya,a�? tandasnya.

Terpisah, Kepala Bappeda Kota Mataram, Lalu Martawang menyebut lumrah jika kaum urban menyerbu kota. Tidak hanya mereka yang memiliki kompetensi mumpuni untuk bekerja dan bersaing. Bahkan mereka yang hanya modal dengkul pun masuk lalu mengadu nasib di kota.

a�?Selama mereka memiliki tanda adiministrasi kependudukan, ya kita tidak boleh menolak mereka,a�? kata Martawang.

Namun terkait warga asli penduduk Mataram, pemkot tidak pernah membiarkan mereka tersisih begitu saja. Berbagai program dan pelatihan diberikan, agar skill dan kompetensi lebih bersaing.

a�?Kami memptoteksi masyarakat Mataram, supaya mereka menjadi penerima manfaat yang pertama atas investasi di sini,a�? imbuhnya.

Perusahaan tentu menginginkan agar Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimilikinya adalah tenaga-tenaga terampil dan memadai. Pemerintah pun mengambil ruangA� itu untuk berperan meningkatkan daya tawar penduduk asli.

Namun, jika upaya meningkatkan kompetensi tidak mendongkrak daya tawarnya, tentu keputusan tetap menjadi kewenangan pemilik perusahaan. a�?Yang jelas, mereka (para pengusaha) tidak mungkin mau rugi. Wajar jika mereka mencari yang terbaik,a�? tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka