Ketik disini

Metropolis

Jumlah Pengunjung Terus Bertambah

Bagikan

MATARAM – Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Provinsi NTB dr Elly Rosila Wijaya mengungkapkan, tren kunjungan ke RSJ terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Baik pasien yang rawat inap maupun rawat jalan.

Ia menyebutkan, tahun 2014 jumlah pasien rawat inap di RSJ sebanyak 1.270 orang dan rawat jalan 21.927 orang. Angka ini meningkat tahun 2015 menjadi 1.296 untuk pasien rawat inap dan 36.740 orang rawat jalan. Dan hingga Agustus 2016, jumlah pasien gangguan jiwa yang rawat inap sebanyak 749 orang dan 29.021 orang gangguan jiwa yang rawat jalan. Bahkan, tingkat kunjungan ke poli anak RSJ juga cukup tinggi yakni 77.604 kunjungan.

”Bukan berarti jumlah gangguan jiwa meningkat, tapi kesadaran masyarakat yang meningkat,” kata Elly dalam konferensi pers, kemarin (10/10).

Sementara, berdasarkan, hasil pemeriksaan kesehatan dasar tahun 2013, jumlah penderita gangguan jiwa di NTB sebanyak 0,21 persen dari 4,6 juta jiwa penduduk atau sama dengan 9.855 orang mengalami gangguan jiwa. Dari jumlah itu, 1.409 orang diantaranya dipasung, 568 orang sudah ditemukan, tetapi 127 orang belum dilepaskan dari pemasungan.

Menurutnya, masih banyak penderita gangguan jiwa yang belum ditemukan. Untuk itu ia berharap warga melapor bila ada penderita gangguan jiwa dipasung.

Elly mengatakan, momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) atau World Mental Health Day  tanggal 10 Oktober, harus dijadikan ajang kampanye. Salah satunya untuk penyadaran dan advokasi tentang kesehatan jiwa.

Tahun ini, peringatan HKJS mengangkat tema “Martabat dalam Kesehatan Jiwa, Pertolongan Pertama Psikologis dan Kesehatan Jiwa untuk Semua”. Tema ini diangkat karena penderita kerap mendapat perlakuan diskriminatif. Mereka tidak mendapatkan martabatnya sebagai manusia biasa ketika berhadapan dengan masyarakat luas. Mereka malah mendapat penghinaan.

Banyak orang mengabaikan masalah kesehatan jiwa karena menganggapnya remeh. Di sisi lain, penyedia anggaran di berbagai tingkat pemerintahan belum memprioritaskan untuk pencegahan gangguan jiwa. Akibatnya, orang dengan gangguan jiwa tidak mendapatkan layanan dengan maksimal.

Hal ini berdampak pada pengabaian kesehatan umum dan akhirnya memendeknya rentang usia orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Dampak kesehatan jiwa dan psikososial pada mereka yang terpapar pada peristiwa krisis sudah banyak diketahui. Misalnya meningkatnya angka gangguan depresi dan anxietas, penggunaan NAPZA, distress psikologis, kebutuhan sosial dan gangguan fungsi sosial. Karenanya respon kesehatan jiwa dan psikososial dalam situasi kedaruratan dan bencana juga harus bersifat multi sektoral.

Dalam jangka panjang harus disediakan layanan kesehatan jiwa komunitas, sosial dan pendidikan yang menjawab kebutuhan jangka panjang yang meningkat, termasuk layanan medis untuk gangguan jiwa. (ili/r7)

 

Komentar

Komentar