Ketik disini

Metropolis

Meski Cacat, Pantang Minta-Minta

Bagikan

Siapa tidak kenal Jhon Kursi Roda atau dulu tenar dengan nama Jhon Jumpring Band? Namanya harum, seharum karya-karyanya. Tapi, seperti apa kehidupan Jhon sebenarnya? Berikut kisahnya.

***

ADAA� yang kenal artis lokal namanya Zaenudin? Pasti banyak yang akan mengerutkan dahi. Siapa itu? Tapi, kalau Jhon? Pasti ada. Pasti. Sosok pria yang terkenal dengan lagunya yang pertama kali meledak. Lampaq Ngaji (Pergi Mengaji).

Mantan personel grup band Jumpring Band. Pasti banyak yang tahu.

Saat koran ini, mengunjungi kontrakannya di Petemon Pagutan, Jhon tengah bermain dengan dua buah hatinya. Pria dengan kaki mengecil dan hanya bisa bergerak dengan cara ngesot atau naik kursi roda itu, terlihat berupaya menjadi ayah yang baik bagi dua anaknya.

a�?Waalaikum salam, mari saudaraku,a�? jawabnya dengan nada sangat santun.

Pria itu, tak ada gestur artis. Terlalu santun. Harusnya agak songong dikit. Tapi Jhon bukan orang seperti itu. Bahkan, menyebut dirinya artis saja dia enggan. Padahal, boleh dibilang dia artis papan atas di Lombok.

Segudang karya-karyanya, mampu menghipnotis masyarakat. Bait-bait lagu yang easy listening dan jujur. Menjadi ciri khas dan kekuatan lagu karya Jhon!

Agak lama menunggu. Ia tengah berbenah. Jhon tidak bisa bergerak secepat orang normal lainnya. Ia harus tertatih-tatih. Bergerak susah payah dengan dua lengannya yang sudah berganti fungsi menjadi dua kakinya.

a�?Dulu, waktu saya masih kecil saya normal,a�? tuturnya pada Koran ini.

Hati pria bertubuh gempal, berotot dan berkulit gelap itu, terlalu lembut. Belum apa-apa, matanya sudah berkaca-kaca, mengenang masa kecilnya yang pahit.

Memang tak mudah jadi Jhon. Nama tenar dan rezeki berlimpah yang diraihnya hari ini, diraih dengan susah payah. a�?Awalnya ibu dan bapak sangat menyayangi saya,a�? imbuhnya.

Saat lahir, Jhon menjadi anak kedua yang lahir dari pasangan Kamarudin dan Suryati. Kakaknya, perempuan. Wajar, jika kasih sayang yang diterima orang tua, lebih melimpah padanya. Harapan kelak ia bisa memperbaiki hidup, memang sudah dibebankan dipunggungnya.

Karena itu, orang tuanya ingin Jhon tumbuh baik. Sekolah lulus dan menjadi orang sukses. Sakit sedikit saja, orang tuanya langsung melarikannya ke puskesmas. Disuntik! a�?Tapi cobaan itu datang. Satu ketika ayah mengajak saya mandi di Dam (bendungan),a�? tuturnya.

Sepulang dari mandi, tiba-tiba suhu badannya panas. Kontan, ayah dan ibunya panik bukan main. Maka untuk kesekian kalinya, Jhon yang masih kecil dilarikan kembali ke puskesmas. Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitu kata pepatah.

a�?Saya divonis terkena sakit polio,a�? vonis dokter yang menanganinya waktu itu.

Pria yang lahir di Tembeloq, Sandubaya, Mataram itu awalnya tidak tahu apa yang terjadi dengan nasibnya. Terutama dua kakinya. Ia hanya ingat, sejak itu ayah dan ibunya mulai berubah. Tidak seperti biasanya, jika mau makan, mandi dan pergi kemanapun, dulu ia selalu diajak.

a�?Sejak saya lumpuh, ndak pernah lagi,a�? pria itu sesaat terdiam.

Pikirannya mungkin tengah berkecamuk. Ada yang disesalinya dalam hati. Tapi enggan, diceritakan pada siapapun.

Perubahan itu, kian dirasakan Jhon saat adik-adiknya lahir. Meski juga ia paham, kasih sayang orang tuanya memang harus dibagi rata. Tidak hanya untuknya, tetapi adik-adiknya juga.

a�?Karena itu meski saya cacat, saya berusaha menyenangkan hati ayah dan ibu. Saya bilang ke mereka, meski saya cacat, saya pasti bisa bantu,a�? kata dia pada orang tuanya suatu ketika.

Sungguh tidak mudah. Jhon dengan keterbatasannya bergerak, berupaya menyenangkan hati ibunya dengan membantu membuat berbagai macam makanan ringan yang dijual Suryati menafkahi keluarga.

a�?Saya bantu ibu buat ambon gobet, kupas kelapa, jualan ketan, kelepon, kalaudan, dan berbagai makanan ringan lainnya. Tujuan saya hanya agar bapak dan ibu tidak menganggap saya tidak berguna,a�? ujarnya tegar.

Tidak hanya itu, ia juga membantu ibunya, memasak, mencuci dan berbagai urusan rumah tangga lain. Semua ia kerjakan. Hanya untuk membuat ibu dan ayahnya bahagia dengan kehadirannya, meski sekali lagi (maaf) cacat.

Saat itu, ia banyak tawaran bantuan biaya sekolah dari tetangga. Tapi dia menolak. Alasannya, ia ingin membantu ayah dan ibunya bekerja. Selain itu, ia juga tidak ingin mebebani orang tuanya dari segi finansial untuk kebutuhan biaya sekolahnya.

a�?Saya kerap dengar, orang-orang bertanya kelak saya mau jadi apa, sudah cacat, bideng (hitam) lagi,a�? tuturnya, lalu tertawa lebar.

Tapi, ia mengaku tidak pernah peduli. Dalam hati, ia hanya menanamkan prinsip, harus berbakti pada orang tua dan guru. a�?Itulah yang diajarkan, guru ngaji saya, Amaq Kake Muhammad,a�? kenangnya.

Namun, semakin ia berusaha meyakinkan tidak ada diskriminasi orang tua padanya, justru Jhon merasa semakin tersisih. Usianya saat itu masih 10 tahun. Tetapi ia sudah berfikir tentang bagaimana perasaan orang tua terbebani, karena memiliki anak yang cacat.

a�?Sejak itu, saya putuskan pergi dari rumah. Memang sih tidak jauh. Tetap di kawasan Tembeloq. Saya lalu menawarkan diri, untuk bekerja di sebuah bengkel Dinamo, mas Alex namanya, orang dari Jawa Timur yang hatinya sangat mulia,a�? pujinya.

Bagi Jhon, keikhlasan hati Alex menerima dirinya bekeja padahal sudah tahu ia cacat, membuatnya sangat terharu. Alexlah orang yang dianggap orang pertama yang memanusiakan dirinya. Tidak melihat ia sebagai sampah yang hanya bisa bergerak ngesot ke sana ke mari.

a�?Dia bos sekaligus orang tua saya. Catat itu mas! Dia orang yang sangat luar biasa,a�? ungkapnya dengan perasaan emosional.

Awalnya, Jhon dipercaya Alex menjadi tukang sapu. Tetapi ia tetap bersyukur dan senang menjalani pekerjaan yang gajinya hanya Rp 50 ribu perbulan. Namun, bagi dia itu tidak penting.

a�?Pokok saq mauq mangan dait ndeq lalo nunas (yang penting dapat makan dan tidak pergi minta-minta),a�? tegasnya.

Lama ia termenung. Merenungi masa lalunya. Pahit memang. Getir pula. Sesekali ia terlihat tersenyum kecut. “Memang luar biasa perjuangan saya dulu, meton (sahabat),a�? celetuknya.

Untuk menyenangkan hati sang bos, ia mengaku selalu bekerja melebihi ekspektasinya. Setiap pagi, belum lagi matahari terbit, Jhon sudah mulai menyapu. Membersihkan area sekitar tempat mereka bekerja.

a�?Ngesot, ngesot meton, kadang juga begoloq (guling-guling) yang penting segera bersih dan rapi, biar hati bos kita senang dan bahagia. Sebab kunci kesuksesan kerja itu adalah kejujuran dan keikhlasan bekerja, insya Allah kalau sudah jujur di sayang kita,a�? ulasnya.

Sejak itu, ia mengaku tidak pernah lagi pulang ke rumah. Bersama seorang sahabat setianya, Sadri, ia menemukan kebahagiaan sesungguhnya saat numpang hidup di bos Alex. Bahkan, ibu dan ayah Sadri, sudah menganggap dirinya seperti anak kandung sendiri. Mau makan dan minum tinggal ambil di dapur.

a�?Saya seperti menemukan keluarga saya yang hilang, pada mereka,a�? kenangnya.

Lagi-lagi matanya berkaca-kaca. Ia tersentuh dengan kebaikan Sadri dan keluarga. Bahkan, Sadri sampai rela berbagi tempat tidur. Mereka pun berkawan sejati hingga kini. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka