Ketik disini

Headline Praya

Dua Pegawai Bandara Kena Sanksi

Bagikan

PRAYAA�– PT Angakasa Pura 1 selaku pengelola Lombok International Airports (LIA)di Praya Lombok Tengah (Loteng akan menjatuhi sanksi kepada dua oknum pegawainya, yang diduga terlibat dalam penyelundupan bibit lobster, Jumat (7/10) k lalu. Namun mereka tidak mau disebut kecolongan dalam kasus yang tersebut.

“Kami justru melakukan penggagalan, bukan kecolongan,” tekan General Manager (GM) PT Angkasa Pura I (AP) Lombok Internasional Airport (LIA) I Gusti Ngurah Ardata, kemarin (11/10) saat menggelar jumpa pers di ruang rapat bandara.

Kedua oknum pegawai LIA yang dimaksud, beber Ardita yaitu SS dan AP (inisial-red). Kini, kata Ardita keduanya sedang menjalani penyelidikan di Polda NTB. Begitu ada kejelasan hukuman, maka otoritas bandara akan menjatuhi sanksi secara administrasi, hingga sanksi kepegawaian.

Kebijakan itu diterapkan, kata Ardita karena keduanya diakui terlibat dalam aksi penyelundupan lobster. Keterlibatan dua oknum itu datang dari dua terduga pelaku lainnya, yaitu A�BD sebagai sopir dan JY yang membawa bibit lobster. Ditambah, hasil rekaman CCTV yang terpasang di beberapa titik. Gerak-gerik dan wajah kedua oknum pegawai bandara tersebut, terlihat jelas.

Sehingga, lanjut Ardita keduanya tidak bisa mengelak dari jeratan hukum. Apalagi, jumlah bibit lobster yang diselundupkan itu banyak. Parahnya lagi, kasus tersebut dilakukan di area steril di bandara, tepatnya di area Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK). Lokasi itu, berdekatan langsung dengan area parkir pesawat.

“Sekali lagi, perlu saya tekankan bahwa, kami bukannya kecolongan. Tapi, kami justru membantu pihak terkait dalam menggagalkan penyelundupan lobster,” kata Ardita dihadapan Kepala Balai Karantina Ikan Mataram Muhlin.

Atas kejadian itu, pihaknya memperketat dan mempersempit ruang gerak para penyelundup lobster di bandara. Termasuk, akan melakukan evalusi kepada seluruh pegawai bandara. a�?Apakah ada keterlibatan pegawai lain, kita tunggu saja proses penyelidikannya,a�? katanya.

Orang nomor satu dijajaran AP LIA itu menambahkan, otoritas bandara tetap berkoordinasi dengan aparat keamanan di bandara, baik TNI/Polri, aviation security (Avsec) dan balai karantina. a�?Prinsipnya, kami sudah maksimal menjaga aksi penyelundupan ini. Tapi, karena ada oknum yang tergiur, maka hukum pun dilanggar,a�? katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Ikan Mataram Muhlin menekankan, sudah menyerahkan proses hukum kasus yang dimaksud ke Polda NTB. Sedangkan, barang bukti berupa 24.500 bibit lobster dilepas ke habitatnya di Teluk Kodek, Pemenang Kabupaten Lombok Utara (BKU).

Jika berbicara ketentuan Permen KP Nomor 1 Tahun 2015, kata Muhlin mereka yang tertangkap basah menyelundupkan lobster tersebut, akan dikenai hukuman penjara minimal enam bulan dan denda sebesar Rp 1,5 miliar. a�?Kami bersama Polda, sedang melakukan pengembangan,a�? katanya.

Tujuannya, tambah Muhlin untuk mengetahui keterlibatan oknum tertentu, baik di internal AP maupun masyarakat sekitar. Karena biar bagaimana pun, bibit lobster yang ukurannya di bawah 300 gram atau panjang kerapas di bawah 8 centimeter, dilarang ditangkap. Apa pun alasannya. a�?Yang membuat tergiur, harga bibit lobster ini. Bisa dibayangkan, kalau dijual ke Vietnam harganya mencapai Rp 100 ribu per bibit,a�? katanya.

Rute penyelundupan di bandara sendiri, tambah Muhlin biasanya melalui LIA, kemudian menuju Surabaya, lalu Batam dan Singapura, hingga terakhir ke Vietnam. a�?Alhamdulillah, pukul 02.00 Wita dini hari tadi (Selasa) kami juga berhasil menggagalkan penyelundupan lobster di pelabuhan Pototano, Sumbawa,a�? bebernya.

Jumlah bibit lobster yang diamankan, lanjutnya sebanyak 8.042 bibit. Hanya saja, oknum yang membawa tidak diketahui, karena bibit yang dimaksud dipaket menggunakan mobil. a�?Saat ini, Polres KSB sedang melakukan penyelidikan terhadap sopir,a�? kata Muhlin.(dss/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka