Ketik disini

Metropolis

Jangan Biarkan Mataram Kumuh!

Bagikan

MATARAM – KotaA� besar menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian masyarakat Indonesia. Perkembangan kota besar yang merupakan pusat dari kegiatan ekonomi menjadi daya tarik masyarakat yang dapat membawa pengaruh bagi tingginya arus tenaga kerja. Baik dari kota maupun dari luar kota tersebut (urbanisasi).

Tapi, seiring dengan itu, masalah utama pun muncul. Yakni, A�kepadatan penduduk. Ini menimbulkan masalah daya dukung kota dalam bentuk ketidakseimbangan antara ruang yang dibutuhkan dengan jumlah penduduk yang ada. Dan, masalah ini sudah mulai terjadi di Kota Mataram.

a�?Urbanisasi dapat menyebabkan ledakan jumlah penduduk kota yang sangat pesat. Sehingga mengakibatkan tumbuhnya pemukiman-pemukiman baru. Baik legal maupun illegal,a�? kata Kepala Dinas Tata Kota, Kota Mataram HL Junaedi.

a�?Di dalam pemukiman padat banyak dijumpai rumah-rumah yang tidak layak huni. Berbagai masalah dapat timbul dari dalam pemukiman yang padat penduduk, seperti banjir, kebakaran, dan terutama masalah sampah,a�? sambungnya.

Pemukiman padat di perkotaan sering disebut juga kampung kota. Dimana kampung kota memiliki karakteristik yang antara lain kondisi fisik bangunan kurang baik dan tidak beraturan, kerapatan bangunan dan penduduk tinggi, kurangnya air bersih dan saluran air, serta tempat pembuangan sampah.

Selain itu, permukiman padat dalam bidang sosial menyebabkan jarak antara individu. Penduduk yang tinggi dipermukiman padat mayoritas berkemampuan ekonomi menengah ke bawah. Mereka masih memiliki kesadaran yang sangat kurang terhadap kelestarian lingkungan.

a�?Kota Mataram menjadi salah satu kota yang sedang berkembang di Indonesia. Sehingga kota ini tidak lepas dari permasalahan permukiman padat penduduk,” ungkapnya.

Adapun permukiman padat penduduk di Kota Mataram, terjadapat di wilayah Sekarbela, Dasan Agung, Karang Tapen, Tempit, Gomong, Kekalik Gerisak dan masih banyak lainnya. “Pada kawasan padat penduduk ini, kondisi existingnya adalah jarak bangunan yang saling berhimpitan antara bangunan yang satu dengan bangunan yang lain. Kondisi inilah yang menyebabkan kawasan tersebut menajdi terlihat kumuh,” terang Junaedi.

Salah satu contohnya, permukiman pada di wilayah Sekarbela. Setiap hujan turun maka air sungai yang melintasi kawasan padat penduduk tersebut akan naik dan mengakibatkan banjir. a�?Ini karena masih kurangnya ketersediaan sarana kebersihan dan kurangnya kesadaran dari masyarakat itu sendiri,a�? jelas mantan Kepala Inspektorat Kota Mataram ini.

Sampai saat ini, banyak warga yang membuang sampah di sungai. Sehingga kawasan tersebut terkesan kotor dan kumuh. a�?Hal ini menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Kota Mataram khususnya menanggulangi permasalahan yang ada di kawasan permukiman padat penduduk,a�? ujarnya.

Keberadaan pemerintah merupakan sesuatu yang penting bagi kehidupan masyarakat. Khususnya dalam mengatasi permasalahan permukiman padat penduduk ini. a�?Namun tidak bisa hanya pemerintah yang menanganinya, tetapi masyarakat harus ikut terlibat,a�? pungkasnya. (IVAN/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka