Ketik disini

Metropolis

Lawan Tuak, Pemkot Menyerah!

Bagikan

MATARAM – Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, agar para pedagang tidak memamerkan minuman keras tradisional (Tuak), gagal. Sekarang, pedagang tuak malah semakin berani secara terang-terangan memamerkan dagangannya. Tidak peduli dengan ancaman yang dikeluarkan pemerintah.

Tak tanggung-tanggung, seperti yang terlihat di Lingkungan Seraya, Pagesangan Timur, seorang pedagang bahkan tanpa takut-takut menaruh dagangan tuak, tak jauh dari kediaman kepala lingkungan.

Pemandangan itu terlihat kontras, dengan letak plang papan nama Lingkungan, tidak jauh dari botol-botol tuak yang dipajang. a�?Bukan saya yang jual, tapi paman, Komang Mande dan I Nengah Putre,a�? kilah Kepala Lingkungan Seraya, I Nengah Narta.

Narta sendiri sudah mengaku pusing dengan ulah warganya. Dari pendataan yang dilakukan beberapa waktu lalu, tercatat 15 warganya yang jual tuak. Namun, baru-baru ini nambah lagi satu.

a�?Saya yang jadi sorotan, karena paling banyak di tempat saya,a�? keluhnya.

“Saya juga ndak tahu harus bagaimana. Saya berharap Satpol PP turun saja untuk tertibkan,a�? imbunnya.

Narta mengaku, dirinya bukan tanpa upaya menyadarkan masyarakatnya agar mau patuh dan tidak terlalu demonstratif menggelar tuaknya. Dari mulai surat, teguran, hingga menyiarkan melalui pengeras suara (speaker, Red). Tapi, hasilnya tetap nihil. Kadang ia didera dilema. Pasalnya, para penjual adalah sanak keluarganya.

a�?Mau keras, nanti kita dianggap arogan. Tapi ndak keras, ini dilarang, udah jalani sajalah,a�? ujarnya pasrah.

Beberapa kali ia berkoordinasi dengan Lurah Pagesangan Timur hingga mengaku telah mengirim surat agar diteruskan ke tim Yustisi penegakan perda daerah. Sayang, sampai saat ini belum ada respon yang diterima.

Di sisi lain, ia mengaku jenuh. Pasalnya, hanya dirinya yang terus saja jadi sorotan.

a�?Saya pernah wawancara salah satu diantaranya, tanya kenapa harus dipamerkan, kan bisa ditaruh di bawah atau dalam tong khusus. Toh juga orang pasti tahu kalau anda jualan. Tapi dia bilang, agar orang yang lewat di sini tahu, nanti kalau disembunyikan di bawah dikira habis, mau gimana coba,a�? ungkapnya.

Terpisah, Asisten I Setda Kota Mataram, HL Indra Bangsawan mengatakan siap untuk turun lagi melakukan pengawasan. Indra tak menampik, pengawasan mereka dalam beberapa waktu kemarin(12/10), sempat turun.

a�?Ya petugas lapangan kurang melakukan pembinaan terus-menerus, kita akan turun lagi surati lagi lurah dan camatnya,a�? ujarnya.

Namun ia menolak jika program penertiban tuak kemarin disebut gagal. Ia keukuh menganggap ini hanya persoalan pengawasan yang kurang. Lagi pula, ia melihat ini hanya bagian dari dinamika penertiban yang memang tidak bisa instan langsung berjalan sukses.

a�?Dinamika masyarkat saja. kita akan tetap lakukan pendekatan persuasif, mudahan-mudahan mereka mau mengerti,a�? tandasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Matara H Mohan Roliskana mengaku, pemerintah tidak bisa sepenuhnya memikirkan persoalan tuak saja. Ada banyak program dan kegiatan lain yang butuh fokus perhatian. a�?Kita ndak bisa awasi terus-menerus, mereka main kucing-kucingan,a�? ketusnya.

Lantas apakah pemerintah kota gagal memberantas tuak?

a�?Di awal cukup bersih (tidak ada penjual tuak), tapi memang kita perlu gerakkan lagi (penertiban),a�? kilahnya.

Ia berjanji segera mengumpulkan pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab atas kembali maraknya peredaran tuak. Ia menganggap perlu pengawasan lebih ketat untuk mempersempit ruang peredaran minuman keras. a�?Tapi, nanti coba saya rapatkan lagi,a�? tandasnya.

Kabid Trantibum, Satpol PP Kota Mataram Bayu Pancapati mengatakan, pihaknya siap turun ke lapangan. Menertibkan kembali para pedagang tuak. Namun untuk kasus yang membandel, seperti yang terjadi di Cakranegara Timur, penindakan memang perlu koordinasi dengan aparat kepolisian.

a�?Kalau untuk kasus seperti yang diberitakan itu, kita memang perlu koordinasi dengan kepolisian,a�? kata Bayu.

Hanya saja, mereka juga saat ini mengaku masih menunggu inisiatif koordinasi dari camat dan lurah setempat. Bayu menjelaskan, dari mekanisme prosedur, Satpol PP memang baru bisa bertindak, kalau sudah ada permintaan dari pemerintah kecamatan atau kelurahan.

a�?Itu yang belum. Ndak bisa kita tindak kalau belum ada permintaan dari mereka,a�? imbuhnya.

Lebih lanjut, Bayu mengatakan, para penjual sebenarnya diminta jangan memajang minuman kerasnya. Tapi rupanya, itu masih sulit dipatuhi. Mereka kembali ke kebiasaan semula, menjual tuak di kedai-kedai dan warungnya. a�?Iya intinya kita tunggu permintaan penertiban dari camat dan lurah,a�? tandasnya.

Namun, Camat Cakranegara Salman Rusdi malah mengatakan jika pihaknya sudah berkoordinasi dengan Satpol PP. Sayangnya sampai saat ini belum ada respon atas laporannya.

a�?Pernah waktu itu secara lisan saya sampaikan pada Satpol PP, itu ada yang bandel, tapi kok ndak ditindak,a�? beber Salman.

Ia pun menolak dianggap takut menindak pada para penjual miras yang bandel. Namun, pihaknya masih mengedepankan langkah-langkah persuasif.

a�?Selain itu, kemarin kan kita ada wacana berikan kompensasi, tapi karena terbentur APBD Perubahan, sehingga tidak bisa terealisasi,a�? ujarnya.

Hal inilah yang membuat para pedagang sepertinya masih enggan mematuhi pemerintah. Sebab, belum ada bentuk konkret, mengalihkan usaha para pedagang, dari jualan tuak ke dagang makanan dan minuman yang dinilai layak diperjual belikan di khalayak umum.

a�?Ndak takut, kita takut sama Tuhan saja. Tapi kami memang masih berupaya untuk melakukan pendekatan dan mengingatkan pentingnya menegakkan perda,a�? tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka