Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Kini Hanya Andalkan Pasar Lokal

Bagikan

Tidak sedikit usaha yang gulung tikar akibat ekonomi yang tidak menentu. Tapi, banyak pula yang tetap bertahan. Salah satunya usaha kerajinan rotan dan bambu di Gunungsari, Lombok Barat.

***

USAHA kerajinan rotan dan bambu di Gunung Sari Lombok Bara masih bertahan hingga saat ini. Beragam jenis produk dihasilkan, di antaranya, meja, kursi, sketsel, tempat lampu, souvenir, dan tempat tidur berbahan bambu.

Salah satu gerai kerajinan rotan dan bambu di Gunungsari bernama Willis. Pemiliknya H Muhammad Saleh sudah 23 tahun menjalankan bisnisnya. Saleh bahkan sempat memasarkan produknya ke luar negeri. Australia, Kanada,Selandia Baru, Prancis, dan beberapa negara Eropa. Namun kini kondisinya berbeda.

Menurut Hj Sa’rah,istri Muhammad Saleh mengaku, mereka tidak pernah lagi menerima pesanan dari luar negeri sejak tahun 2000. Kini usahanya hanya berharap pada pasar lokal. Sesekali, mereka memenuhi permintaan daerah lain seperti Bali dan sejumlah daerah di Pulau Jawa.

“Kalau sekarang kami bertahan seperti ini. Cukup untuk memasarkan ke dalam daerah,” ujar Sa’rah kepada Lombok Post kemarin (12/10).

Sa’rah tidak pernah mengeluhkan kondisi bisnisnya. Baginya, sedikit tapi lancar sudah cukup. Dia juga tidak muluk-muluk menjual produknya. Satu set meja dan kursi dijualA� seharga Rp700 ribu. Sedangkan untuk tempat lampu, souvenir, dan produk lainnya kisaran Rp50 ribu hingga Rp 100 ribu tergantung jenisnya.

“Kalau omzet nggak tentu karena kita dalam posisi menunggu. Bulan lalu saja bisa tembus beberapa puluh juta rupiah,” papar dia.

Banyaknya orang yang menjalankan bisnis produk serupa secara tidak langsung berpengaruh terhadap pendapatannya. Meski begitu, para pebisnis kerajinan rotan dan bambu ini bisa bersaing sehat. Buktinya, mereka bisa bertahan di tengah persaingan yang kompetitif.

Dia menceritakan, usahanya ini pernah mengalami banyak hambatan. Bahkan lahan tempat dia mengembangkan bisnisnya pernah ditawar perusahaan ritel dengan harga yang cukup menggiurkan. Tapi, pihaknya memilih untuk bertahan di atas lahan seluas 6 are itu.

Lahan yang berada di pinggir Jalan Raya Tanjung itu dinilai sangat strategis. Tidak sedikit wisatawan yang melintasi jalur tersebut mampir ke gerai Willis untuk sekadar melihat-lihat.

Dia berharap, berkembangnya wisata dapat berdampak kepada keberlanjutan bisnisnya. Tentu dia ingin kembali seperti dulu di mana pesanannya meningkat tajam bahkan menembus pasar
Internasional. (Edy Gustan/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka