Ketik disini

Sumbawa

Tersangka Kebun Kopi Tambora a�?Bernyanyia�?

Bagikan

MATARAMA�– Dua tersangka pengelolaan kebun kopi Tambora sudah ditahan. Keduanya adalah Syafruddin Idris dan Suparno.

Keduanya diduga terlibat dugaan korupsi yang diusut Kejaksaan Negeri (Kejari) Raba Bima 2006 lalu. Kini, mereka telah ditahan di Lapas Mataram.

Dari dalam jeruji besi, tersangka Syafruddin a�?bernyanyia�?. Pelaksana kegiatan pengelolaan kopi Tambora ini membongkar peran mantan Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bima HS (inisial,Red).

Dugaan keterlibatan mantan kadis itu diuraikan tersangka Syafruddin dalam bentuk tulisan tangan. Ia menyebutkan, dalam perkara ini ada peran kadis. Seharusnya penyidik meminta pertanggungjawaban kadis. Karena kadis menggunakan uang hasil kopi sekitar 40 juta. Uang itu disebut-sebut bagian dari kerugian negara. Ia pun meminta kejaksaan memroses juga kadis tersebut.

Desakan untuk mengusut dugaan keterlibatan kadis itu datang juga dari keluarga tersangka Syafruddin. Mereka merasa Syafruddin tidak bersalah. a�?Pak Syafruddin hanya melakukan kesalahan administrasi saja,a�? kata anak Syafruddin, Wawan kepada wartawan di Mataram, kemarin (12/10)

Ia mengungkapkan, ada biaya yang harus dipertanggungjawabkan oleh kadis. Antara lain dana panjar sebesar 31 juta untuk pembayaran kopi. Uang itu, kata dia, dipinjam atas nama kadis.

a�?Peminjaman itu disaksikan dua tersangka (Syafruddin dan Suparno) tertanggal 9 juni 2006,a�? sebutnya.

Dana pinjaman itu dipakai untuk kebutuhan biaya panen kopi. Tapi, dalam laporan kadis memerintahkan kepada tersangka Syafruddin agar membahasakan jika dana setoran PAD kegiatan percontohan oleh kadis.

a�?Padahal uang itu digantikan untuk pinjaman kadis ke Pak Hariadi,a�? bebernya.

Dia meminta kejaksaan bekerja profesional kejaksaan. Kasus ini sudah sering diungkapkan, tapi hanya menyentuh Ssyafruddin saja.

Wawan mengaku, sudah memegang semua bukti bahwa orang tuanya tidak terlibat. Rincian penggunaan anggaran juga sudah dikantongi.

a�?Kami punya bukti. Nanti dipersidangan kami akan sampaikan,a�? terang dia.

Pengelolaan kebun kopi Tambora pada tahun 2006 itu menelan anggaran sekitar Rp 378 juta lebih. Dana itu digunakan untuk biaya penanaman hingga panen kopi.

Tapi, dalam perjalananya ada dugaan penyalahgunaan anggaran. Kemudian, kejaksaan mengusut dan menetapkan Syafruddin dan Suparno sebagai tersangka.

a�?Dua tersangka itu ditetapkan tahun 2014,a�? ungkapnya.

Setelah menetapkan tersangka, kejaksaan meminta BPKP mengaudit kerugian negara. Lembaga auditor itu menemukan kerugian keuangan negara pada pengelolaan kebun kopi Tambora ratusan juta.

a�?Kalau informasi yang kami dapat, kerugian negara sekitar Rp 218 juta. Itu hasil perhitungan BPKP,a�? kata Wawan. (jlo/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka