Ketik disini

Selong

Air Rp 15 Ribu, Dijual Kembali Rp 300 Ribu

Bagikan

Kekeringan tak selamanya membawa bencana. Sebaliknya, saat musim kekeringan tiba, ada sejumlah orang yang mendapat berkah. Mereka adalah para pemilik mobil tangki air.

***

Terik panas matahari yang begitu menyengat tak menyurutkan semangat sejumlah orang untuk mengantre. Puluhan mobil tangki air terlihat parkirA� di pertigaan Desa Tutuq, Jerowaru, Lombok Timur (Lotim). Para sopir mobil bersabar duduk di berugak menunggu mobil miliknya diisi air bersih dari sumber mata air Lingkoq Tutuq. Ini adalah satu-satunya mata air terdekat bagi warga untuk mengambil air bersih.

“Nunggu giliran ini mas, ini udah yang ketiga kali ngambil dari subuh tadi,” ujar Sabri, salah seorang pemiliki kendaraan mobil tangki air.

Selain Sabri, terlihat puluhan sopir lainnya juga sedang megantre. Mereka tidur santai di berugak hingga sekadar merokok menunggu giliran. Saefullah, A�salah seorang petugas jaga mata air Lingkoq Tutuq mengatakan para pemilik mobil atau warga harus membayar Rp 15 ribu. Biaya tersebut untuk mengisi air rata-rata 4.000 liter hingga 5.000 liter ke dalam tangki mobil. Biaya tersebut disumbangkan untuk yayasan Ponpes Darul Yatama Walmasakin.

“Itu memang retribusi yang disepakati warga untuk pengisian air,” tutur Saefullah.

Mata air di Lingkoq Tutuq dikatakan setiap tahun selalau menjadi sumber utama untuk mengatasi masalah kekeringan di Lombok Timur. Airnya tidak pernah kering meskipun tanah di daerah sekitarnya sudah kering kerontang. Sejak Juni lalu, warga Lotim bagian selatan mulai dari Jerowaru hingga Keruak mulai beramai-ramai mengambil air di sini.

Sementara itu, Sabri mengaku untuk saat ini mata air Lingkoq Tutuq menjadi sumber penghasilan utama para pemilik mobil tangki air. Bagaimana tidak, para pemilik mobil tangki air rela meninggalkan pekerjaan utama mereka seperti bertani, berladang atau yang lainnya untuk menjadi penjual air.

Karena keuntungan dari menjual air di musim kering dikatakannya sangat menggiurkan. Secara blak-blakan Sabri mengungkapkan per hari bisa mendapat keuntungan bersih Rp 500 ribu.

a�?Kami mengisi air di sini (Lingkoq Tutuq, Red) Rp 15 ribu. Itu nanti kita jual minimal Rp 100 ribu. Yang paling mahal Rp 300 ribu. Tergantung jarak kita mengantarkannya,a�? tutur pria asal Pemongkong, Jerowaru ini.

Rata-rata, setiap hari ia mendapat permintaan dari warga untuk membawakan air sekitar enam sampai tujuh orang. Tapi, jika permintaan sedang ramai, ia mengaku bisa sampai sepuluh orang memesan air darinya. a�?Itu bisa dari pagi sampai pukul 12 malam kita bolak balik mengambil air,a�? aku pria dua anak ini.

Tak masalah bagi Sabri untuk bekerja seharian mengisi air. Mengingat keuntungan yang dijanjikan dari usahanya ini cukup menggiurkan. Bahkan, mobil tangki air miliknya ini diakuinya tidak terlepas dari keuntungannya menjalani usaha jual beli air bersih selama musim kekeringan di wilayah Lotim bagian selatan.

a�?Dulu beli mobil ini dengan harga Rp 100 juta. Alhamdulillah sekarang sudah bisa terlunasi dari keuntungan menjual air ini,a�? bebernya.

Musim kering di wilayah Lotim bagian selatan diceritakannya berlangsung selama sekitar tujuh hingga delapan bulan per tahun. Selama itu pula ia menjalani usaha jual air bersih kepada warga. a�?Memang kami terkesan memanfaatkan situasi kekeringan. Tapi ini juga sebagai salah satu upaya kami membantu warga. Mereka malah bershyukur ada pemilik mobil yang mau menjual air hingga ke daerah pelosok yang memang sangat membutuhkan air bersih,a�? jelasnya.

Sejumlah daerah diceritakan Sabri sangat memprihatinkan. Air bersih di Lotim sangat berharga bagi warga. Bukan karena mereka tidak mampu membeli. Melainkan karena memang tidak ada sumber air bersih bagi mereka. Kalaupun ada air sumur, semua merupakan air payau yang tidak bisa dikonsumsi.

A�a�?Kalaupun ada bantuan pemerintah, tidak semua warga bisa dapat. Itu pun kadang seminggu sekali ada bantuan. Masyarakat kan butuh air setiap hari,a�? ucapnya. a�?Makanya warga malah bersyukur kami mau menjual air ke beberapa wilayah yang jauh seperti Sekaroh dan wilayah lainnya. Kami akui kami mengambil keuntungan dari mereka, tapi ini juga paling tidak sebagai upaya kami membantu warga, a�? ungkapnya. (HAMDHANI WATHONI,Selong/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka