Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Geliatkan Sektor Pendorong Ekonomi

Bagikan

Sebagai Bank Sentral Indonesia, Bank Indonesia banyak mengeluarkan kebijakan yang berhubungan dengan upaya menjaga stabilitas keuangan negara. Kebijakan tersebut salah satu tujuannya untuk menggeliatkan dan mendorong sektor ekonomi.

***

MASIH teringat dalam ingatan beberapa tahun yang lalu Bank Indonesia (BI) melakukan pengetatan kebijakan pembiayaan. Hal ini diperlukan penyempurnaan kebijakan di bidang makro prudensial. Tentunya untuk mendorong berjalannya fungsi intermediasi perbankan dalam rangka meningkatkan permintaan domestik.

a�?Termasuk guna terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dengan tetap menjaga stabilitas makro ekonomi,a�? kata Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makro Prudensial Ita Rulina.

Penyempurnaan ketentuan mengenai Loan to Value (LTV) atau Financing to Value (FTV) pada tahun 2015 telah mampu menahan penurunan kredit/pembiayaan pemilikan rumah yang diberikan bank. Namun belum cukup kuat untuk meningkatkan pertumbuhan kredit/pembiayaan.

Sehingga diperlukan pelonggaran lebih lanjut yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan di sektor properti. Namun, penyempurnaan ketentuan mengenai LTV/FTV perlu dilakukan secara proporsional dan terukur dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan perlindungan konsumen.

a�?Pelonggaran dibutuhkan mengingat sektor properti memiliki efek multiplier yang besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi,a�? jelasnya.

Kebijakan lainnya adalah menjaga inflasi. Asisten Direktur Departemen Ekonomi Moneter Bank Indonesia Handri Adiwilaga menjelaskan pentingnya untuk mengendalikan inflasi karena Inflasi menurunkan daya beli. Di mana inflasi yang tinggi menghambat investasi produktifA� juga kesenjangan pendapatan melebar.

a�?Inflasi tinggi menghambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang,a�? terangnya.

Inflasi diukur berdasarkan Indeks Harga Konsumen yang dikelompokkan ke dalam 7 kelompok pengeluaran (berdasarkan Survei Biaya Hidup) yaitu Kelompok Bahan Makanan, Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau, Kelompok Perumahan, Kelompok Sandang, Kelompok Kesehatan, Kelompok Pendidikan dan Olah Raga, dan Kelompok Transportasi dan Komunikasi.

Paket komoditas barang dan jasa yang dihitung dalam inflasi IHK merujuk pada Survei Biaya Hidup (BPS). Basket komoditas IHK tersebut dipantau/disurvei harganya secara rutin. Sehingga setiap bulan terlihat perubahannya (inflasi).

a�?Tekanan inflasi di Indonesia banyak dipengaruhi shocks terutama gangguan pasokan dan distribusi pangan (volatilefoods). Serta kebijakan strategis dari pemerintah (administeredprices),a�? jelasnya.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menilai tingginya inflasi satu daerah akan dapat meningkatkan angka kemiskinan. Sehingga persoalan inflasi harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Tingginya inflasi ditentukan oleh pola konsumsi masyarakat. Kondisi ini dinilai berdampak terhadap daya beli masyarakat kurang mampu. Jika inflasi stabil dan rendah maka akan dapat meningkatkan kepastian dunia usaha, menjaga daya beli masyarakat dan menjaga daya saing.

a�?Kalau inflasi tinggi masyarakat miskin bisa semakin bertambah,a�? tuturnya. (*/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka