Ketik disini

Headline Kriminal

10 Bulan, 22 Bayi Dibuang

Bagikan

Kasus pembuangan bayi seolah tidak pernah berhenti. Perlindungan Anak (LPA) NTB menyebut hingga bulan ini tercatat 22 kasus pembuangan bayi di Pulau Lombok. Sebagian besar kasus tersebut tak terungkap siapa pelaku pembuangan itu.

***

MEDIOA�Mei lalu, Warga Pringgabaya, Lombok Timur (Lotim) digegerkan dengan penemuan bayi perempuan di Pantai Duduk, Pringgabaya. Belakangan terungkap bayi tersebut merupakan hasil hubungan antara anak dan ibu kandungnya. Masyarakat pun heboh. Tak menyangka bayi tersebut akibat hubungan sedarah.

Warga menemukan bayi malang tersebut di bawah rumpun pisangA� tak jauh dari pantai. Diduga bayi itu dibuang tak lama setelah dilahirkan. Warga yang menemukan langsung membawa bayi itu pulang.A� Selanjutnya kasus ini dilaporkan ke Polsek Pringgabaya.

Masih di Lotim, tepatnya di Loang Sawak, Kelurahan Suryawangi, Labuhan Haji sekitar bulan Agustus lalu, Kepala Lingkungan Loang Sawak Abdul Basit, yang saat itu hendak mengantar istri ke puskesmas, dikejutkan suara tangis keras. Saat diperiksa, ditemukanlah sesosok bayi perempuan dengan tali pusar yang belum terpotong.

a�?Waktu itu sekitar jam setengah tiga dini hari,a�? katanya.

Penemuan tersebut langsung diselidiki Polsek Labuhan Haji. Hasilnya,dua mingugu kemudian diketahui tersangka mengarah pada Pajriah alias Inaq Azizi. Perempuan 24 tahun asal Loang Sawak itu diduga melahirkan bayi hasil hubungan gelap. Pajriah sebenarnya masih berstatus suami orang yangsedang merantau sebagaiA� TKI di Malaysia.

a�?Kami duga selingkuhannya berinisial J asal Ijobalit,a�? kata Kapolsek Labuhan Haji Iptu Muhajirin.

Kasus pembuangan bayi terbaru terjadi di Kota Mataram. Selasa (11/10), sesosok mayat bayi terbawa aliran air Kali Brenyok Kelurahan Karangpule, Kecamatan Sekarbela. Bayi malang itu ditemukan warga menyangkut diantara sampah di bawah jembatan.

Namun, hingga kini pelaku pembuang bayi tak kunjung ditemukan . “Langkah penyelidikan sudah kita mulai, kita pasti akan cari pelakunya,” kata Kapolsek Ampenan Raden Sudjoko Aman.

Sementara itu, Koordinator Divisi Hukum dan Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB Joko Jumadi mengatakan, jumlah kasus membuang bayi di NTB masih cukup tinggi. Tercatat hingga Oktober ini, LPA NTB menemukan sedikitnya 22 kasus pembuangan bayi. Di mana dari angka tersebut, hanya lima bayi yang bertahan hidup. Sedangkan sisanya ditemukan dengan kondisi tak bernyawa.

a�?Itu hanya berasal dari Lombok saja, karena wilayah Sumbawa kami tidak memonitor,a�? kata Joko.

Menurut Joko, maraknya kasus pembuangan bayi lebih banyak didominasi faktor seks bebas. Fenomena remaja hamil di luar nikah menjadi pemicu pembuangan bayi. Membuang bayi seakan menjadi solusi terbaik bagi mereka karena takut, malu dengan sekitar, dan belum siap dengan tanggung jawab.

Petunjuk untuk menemukan pelakunya pun terasa sulit. Joko mengatakan, dari 22 kasus yang terjadi di tahun ini, baik LPA maupun kepolisian hanya berhasil mengungkap kurang dari setengahnya.

a�?Cuma dua kasus pembunagan bayi yang pelakunya ditangkap,a�? kata Joko.

Menurut Joko, sulitnya pengungkapan terhadap pelaku pembuangan bayi adalah keterbatasan saksi yang melihat. Aparat hukum akhirnya sulit mendapatkan petunjuk dalam penyelidikan.

a�?Untuk saksi itu yang masih sulit. Sangat sulit memang, karena belum tentu yang membuang bayi itu berasal dari wilayah penemuan bayinya,a�? ungkap dia.

a�?Kalau ada saksi, seperti kasus di Lotim, kebetulan ada warga yang mengenali kain pembungkus bayi, akhirnya ketahuan. Kalau tanpa itu, pasti sulit,a�? sambung Joko.

Mengidentifikasi setiap ibu hamil pun sangat sulit. Terlebih lagi di Kota Mataram. Sebabnya, kata Joko, banyak kos yang tidak terpantau dengan baik oleh pemerintah daerah. Padahal, tidak menutup kemungkinan di kos-kos ilegal tersebut ditempati mahasiswi yang tengah hamil.

a�?Ada yang bisa menyembunyikan kehamilannya, sampai teman-temannya tidak tahu. Dan ini banyak terjadi di kos-kosan yang ada di Mataram,a�? pungkasnya.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka