Ketik disini

Feature

Butuh Empat Tahun untuk Sebiji Mutiara

Bagikan

Kerang butuh waktu lama untuk menghasilkan mutiara. Dari pemijahan sampai panen, waktunya cukup panjang. Bahkan, untuk bisa mendapatkan sebiji mutiara saja, dibutuhkan waktu sekitar empat tahun.

***

Mendung tipis menggelayut di Teluk Nara, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Panasnya pesisir tak lagi terasa. Lalu lalang fast boat tampak dari pinggir pantai. Di teluk ini, ada budidaya kerang mutiara laut selatan (south sea pearl). Perusahaan itu namanya Autore Pearl Farm Tours & Showroom.

Sedikit yang tahu proses budidaya kerang bernama latin Pinctada Maxima ini. Seperti apa sebenarnya prosesnya? Lombok Post berkesempatan masuk ke lokasi Autore Pearl Farm Tours & Showroom. Suasanya sepi.

“Mas, Jumat dan Sabtu libur. Kalau mau datang ke sini jangan pas libur,” kata pria dengan seragam security sesaat setelah saya turun dari motor.

“Aduh, sudah jauh-jauh dari Kota Mataram masak gagal melihat budidaya kerang mutiara,” gumam saya dari hati.

Setelah bercakap-cakap beberapa menit, security itu menyarankan untuk datang ke showroom mutiara. Dari pada pulang lagi ke Kota Mataram tanpa cerita. “Coba Mas, ke sana. Nanti saya sampaikan lewat sini,” ucapnya sembari menunjuk handy talkie yang ditangannya.

Posisi showroom sekitar 15 meter dari daratan. Bangunannya di atas laut. Jembatan kayu sebagai penghubung. Setelah beberapa belas langkah, saya pun tiba di showroom. Sampai di bangunan kayu, seorang pria ramah menyapa. Mata ini langsung tertuju pada kotak-kotak kaca yang berderet. Isinya mutiara.

“Silakan, ada yang bisa dibantu,” sapa Asisten Manajer Autore Pearl Farm Tours & Showroom M Khalil Gibran.

Ia pun mempersilakan duduk. Kami berbincang seputar mutiara. Gibo sapaan akrab pria ini, luwes menceritakan tentang mutiara air laut. Proses budidaya dari pembiakan sampai menebar di laut diceritakan.

Autore Pearl Farm Tours & Showroom tak hanya menjual mutiara. Wisatawan yang datang diajak untuk melihat lebih dekat budidaya kerang mutiara. Satu orang tarifnya Rp 180 ribu. Menikmati perjalanan selama 90 menit lebih. Semakin banyak rombongan, harga bisa lebih murah.

Gibo mengajakA� melihat seluruh proses budidaya kerang mutiara. “Ayo, kalau mau melihat langsung. Biar kami siapkan,” ucapnya.

Tawarannya langsung diiyakan Lombok Post. Ruangan di daratan tujuan pertama. Isinya enam tong besar hitam dan dua tong besar putih. Di atas tong pipa menjalar. Air bergemiricik masuk ke saluran di bawah tong. Agak becek.

“Inilah laboratorium pemijahan kerang. Masih ada lagi tong besar di sebelah,” ujarnya.

Tong besar di ruangan ini, kata Gibo, adalah tempat bayi kerang. Mencari bibit Pinctada MaximaA� di alam susah. Supaya stok kerang mutiara tetap ada, harus membudidayakan sendiri.

Tong besar itu berisi puluhan ribu liter air laut untuk bayi kerang. Dalam satu tong, bisa berisi antara satu sampai dua juta bayi Pinctada Maxima. Diawali dari pemijahan indukan yang bagus. Kerang mutiara jantan dan betina direndam dalam air hangat. Setelah nyaman mereka bakal kawin.

“Pemijahan terjadi di air. Sel jantan dan betina bertemu di air, itu yang kemudian menjadi bayi kerang,” terangnya.

Cukup satu malam, jutaan bayi kerang lahir. Di tong itulah si bayi kerang dibesarkan. Air lautnya tak sembarangan, sudah melalui filtrasi. Bakteri dari laut sudah dimatikan. Dengan begitu bayi kerang mutiara tetap sehat. Butuh dua bulan sampai besarnya dua hingga tiga milimeter. Asupan makanan dari plankton.

“Makanannya khusus dibudidayakan juga di laboratorium,” katanya.

Selanjutnya, Gibo mengajak ke ruangan lebih kecil. Suhunya cukup dingin. Deretan toples dan tabung kaca berisi air berjejer rapi di rak. Warna airnya ada yang coklat terang, ada yang coklat gelap.A� Belum mendapat penjelasan, tangan wartawan Koran ini langsung disemprot cairan dingin.

“Ruangan steril, bebas bakteri. Harus disemprot alkohol yang masuk,” katanya spontan.

Dalam toples dan tabung kaca itulah, sumber makanan bayi kerang mutiara. Namanya plankton. Tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Butuh mikroskop.

Plankton itu diimpor. Asalnya dari lautan hangat Tasmania, Australia. Suhu dingin di ruangan mencegah bakteri menyerang plankton. Sedikit saja bakteri menyerang, habislah sudah. Plankton akan membusuk dengan cepat.

Setahun, dua kali plankton Tasmania didatangkan. Setelah ditebar di air, plankton diberi karbondioksida. Plankton membelah diri. Semakin coklat airnya, berarti makanan si bayi kerang mutiara kian mantap disantap.

“Terus akan diberi makan selama dua tahun, dua kali sehari. Setiap hari bayi kerang di tong terus dipantau,” bebernya.

Karena baru saja proses pembersihan, tak bisa menunjukkan bayi dalam tong raksasa. Tapi, masih bisa melihat sampel bayi kerang mutiara. Sama seperti plankton, mata telanjang tak sanggup melihat. Namun, lewat mikroskop, bayi kerang bisa tampak dengan jelas. Bahkan ditampilkan di layar LCD. Warnanya cerah, bagian tengah agak coklat. Bagian coklat itu jaringan kerang. Ada saibo (penyaring) di bibir kerang. Fungsinya menyaring benda asing masuk ke tubuh kerang. Jika benda itu dianggap membahayakan, langsung dimuntahkan.

“Untuk yang masih di bawah dua milimeter tidak bisa dilihat langsung. Harus dengan alat!” imbuh pria keturunan Surabaya, Jawa Timur ini.

Hujan mulai mengguyur Teluk Nara. Cerita kerang mutiara ini belum berakhir. Berikutnya, kami keluar dari laboratorium. Setengah berlari menerobos hujan. Bangunan di pinggir pantai adalah tujuan kami. Tanpa tembok. Luasnya kira-kira 2,5 x 7 meter. Deretan kerang digantung dengan jaring. Di tengah ada jaring direndam air. “Yang besar ini sudah mati habis dipanen. Yang masih hidup di dalam air,” kata Gibo.

Kerang di dalam air itu memiliki ukuran cangkang beragam. Dari kecil, sedang, sampai besar. Gibo menunjukkan ukuran kerang dua tahun. Besarnya setengah telapak tangan. Kerang mutiara umur dua tahun ini siap “ditanami” nukleus.

Tak semua bayi kerang sanggup menerima nukleus. Yang bisa ditanami, hanya 25 persen dari jutaan bayi kerang. Setelah ditanami, nukleus baru ditenggelamkan ke laut. Dimasukkan di kedalaman 7-10 meter.

Secara berkala dipantau. Sebab, kondisi laut ikut mempengaruhi pertumbuhan kerang mutiara.

Pekerja Autore Pearl Farm Tours & Showroom Stefanus menyapa. Khalil Gibran memintanya menunjukkan cara memasukkan nukleus. Banyak masyarakat mengira Pinctada Maxima disuntik. Padahal prosesnya tak begitu. Yang benar, nukleus ditanam dalam tubuh kerang. Dengan dua penjepit, Stefanus membelah kerang usia dua tahun. Cangkang dibelah dua. Lampu meja dinyalakan. Kemudian jaringan hitam mirip sekumpulan benang di bibir kerang diambil. Jaringan ini disebut saibo.

Kerang yang dibelah statusnya kerang donor. Kerang ini khusus menyumbangkan saibo. Saibo itu selanjutnya dipotong beberapa bagian. Kemudian Stefanus mengambil kerang lain. Kali ini cangkangnya dibelah sedikit. Bagian depannya saja. Lampu diarahkan ke bagian dalam kerang. Cahaya lampu sebagai penunjuk jalan. Tangan Stefanus memegang besi sebesar lidi. Di ujung cangkang kerang ada daging putih. Daging itu kemudian dikoyak. Ia kemudian mengambil bola-bola kecil berwarna putih dari kotak kaca.

Bola kecil itu adalah nukleus. Setelah bola kecil masuk, kemudian ditutup saibo. Cangkang kerang ditutup seperti semua. “Setelah ini dilapisi jaring. Kemudian (kerang) ditaruh dalam laut, tidak telanjang begitu saja,” beber Gibo.

Setelah melihat cara tanam nukleus. Berikutnya ditunjukkan cara mengambil mutiara. Kembali tangan terampil Stefanus sedikit membelah kulit kerang. Kerang ini usianya sudah empat tahun. Lagi-lagi cahaya lampu diarahkan ke dalam kerang. Besi masuk ke ujung daging. Perlahan dibelah, kemudian ditarik benda tak beraturan. Putih pekat warnanya. Inilah hasil perjuangan merawat Pinctada Maxima, mutiara air laut selatan.

Bentuk mutiara dan warna mutiara beragam. Hasil panen Pinctada Maxima biasa berwarna emas, putih, kuning, atau sedikit silver. Sementara untuk bentuk ada bulat sempurna atau tidak beraturan (baroque). Dan kebetulan, pengalaman saya adalah panen mutiara berbentuk baroque.

“Soal warna dan bentuk tidak pasti. Kadang tidak pas sesuai prediksi,” terangnya.

Mutiara berbetuk baroque itu pun diletakkan di tangan saya. Perkiraan beratnya antara 1,5-2 gram. Bentuk tak beraturan jangan dipikir gagal. Model baroque tetap laku. Pernah sebiji mutiara model ini dijual Autore Pearl Farm Tours & Showroom Rp 30 juta lebih. Kerang yang sudah dipanen, bukan berarti langsung dibuang. Masih bisa ditanami nukleus kembali. Tak semua memang. Biasanya kerang terbaik. Kemudian kerang kembali ditenggelamkan ke laut.

Untuk yang ini, biasa dua tahun bisa dipanen. Setelah kerang tidak produktif, seluruh bagiannya masih bisa dimanfaatkan. Kulitnya untuk hiasan. Dagingnya bisa dikonsumsi.

Tuntas. Proses budidaya dijelaskan dengan gamblang. Lombok Post kembali ke showroom. Gibo mengajak duduk kembali, ditangannya membawa dua kotak berisi mutiara. Ada dua mutiara dengan warna beda. Gelap dengan kilau seperti pelangi. Dua mutiara itu adalah hasil dari Pictada Margaritifera. Berbeda dengan kerang budidaya Autore Pearl Farm Tours & Showroom. Kerang jenis ini dibudidayakan di perairan Tahiti. Jarang dikembangkan di perairan Indonesia.

Bagi para pecinta mutiara, showroom ini benar-benar memanjakan mata. Beragam pilihan mutiara cantik dipajang rapi. Ada butiran mutiara, ada pula yang telah diikat dengan perhiasan. Mata saya tertuju pada sebuah kalung. Ada sekitar 40 mutiara dirangkai. Warnanya putih, cuma satu berwarna emas. Menawan. Harga tercantumkan ditengah kalung. Ada enam nol di belakang tiga angka.

Tak ingin salah, Lombok Post bertanya harganya. Dan memang tidak salah. Gibo membenarkan kalau itu Rp 180 juta. Wow, seharga mobil baru.

“Untuk harga memang relatif. Ada yang menilai mahal, tapi bagi pecinta mutiara ya biasa saja,” ujarnya tersenyum.(FEBRIAN PUTRA, Lombok Utara/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka