Ketik disini

Metropolis

Juara Nasional, Lukisan Marwa Sangat Artistik

Bagikan

Mereka memang tak sempurna. Tak seperti orang-orang pada umumnya. Tapi, prestasi anak-anak SLB itu, mampu mengguncangkan panggung nasional! Berikut Kisahnya!

***

TANGAN mereka bergerak cepat. Naik turun. Kadang, jari juga dilentik-lentikan dari kelingking hingga ibu jari. Tak puas, dua lengannya juga membentuk pola-pola isyarat. Setelah itu, dua anak wanita, itu tiba-tiba mangap, seperti tengah tertawa lebar. Hanya bedanya, tanpa suara!

Tapi tak berselang lama, rona wajah mereka berubah. Berkerut, masam. Dua gadis tuna rungu itu, tengah saling menceritakan pengalamannya, selama perjalanan hingga sampai sekolah, siang kemarin.

Tentu saja, awalnya wartawan Koran ini, hanya bisa bengong saja. Tidak paham apa yang mereka katakan. Sampai, humas Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wanita Majeluk, Tri Harianta berbaik hati menerjemahkan.

a�?Sekarang mereka mulai paham, apa yang kita minta tadi,a�? kata Tri.

Memang sebelumnya, sekedar ingin membayar rasa penasaran, Koran ini meminta Tri, berkomunikasi pada anak itu. Meminta pada mereka menjelaskan, apa saja yang dialaminya sebelum sampai di sekolah.

Tapi ya Ampun! Susahnya. Butuh kesabaran, ketengan. Namun yang terpenting adalah keikhlasan.

Berulang kali, Tri harus melebar-lebarkan mulutnya. Menggerakan tangannya naik turun hingga jari jemari. Tapi dua anak itu belum juga menemukan soul (baca: jiwa) dari pertanyan Tri menggunakan isyarat SIBI.

Sayangnya, itu tak mudah. Pertanyaan apa saja yang dilihat di sepanjang perjalanan ke sekolah dipahami oleh dua anak itu sebagai apa yang mereka naiki selama ke sekolah.

Rumit bukan? Iya memang rumit!

a�?Harus sabar dan ikhlas. Mereka harus mencerna, apa mau kita melalu bahasa isyarat SIBI,a�? ujarnya.

SIBI akronim dari, Sistem Isyarat Bahasa Indonesia. Tapi, biasanya, kata Tri, kosakata SIBI masih belum begitu lengkap. Jadi untuk mengakomodir perasaan hati anak-anak, setiap anak kadang kala punya isyarat sendiri mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya.

Lebih dari sepuluh menit, Tri berusaha menyingkronkan pertanyaan dalam fikirannya ke pemahaman dua anak tuna rungu itu. Tapi dua anak itu, tetap saja gagal paham. Sampai akhirnya, keduanya manggut-manggut dan mulai bercerita.

a�?Nah sekarang mereka mulai paham,a�? ujar Tri, sembari tersenyum lega.

Oh ya, dua anak itu adalah Nengah Dwitya Budi Yulianti dan Marwa Fadilla. Nengah adalah putri dari anak Kepala Desa Suranadi, Lombok Barat. Ia dua bersaudara. Kakaknya normal dan saat ini kuliah di Universitas Mataram. Sedangkan Marwa, ayahnya bekerja sebagai Sopir Taxi. Dia enam bersaudara. Anak ketiga, ia pun sendirian mengalami gangguan pada pendengaran.

a�?Sebenarnya yang mengalami gangguan hanya telinga saja, tetapi karena suara itu berawal dari mendengar dulu, makanya itu berpengaruh pada kosakata bicara. Jadi yang bisa diucapkan cuma ‘aaaaaa’. Misalnya saat jatuh. Itu disebut bahasa dasar,a�? terangnya.

Nengah dan Marwa adalah dua murid berprestasi di SLB Dharma Wanita. Tidak hanya dalam skala lokal. Tetapi nasional. Marwa, berhasil meraih juara 1 dalam lomba melukis tingkat nasional di Palembang Mei lalu. Sedangkan Nengah, meraih juara 3.

a�?Kita memang tidak bisa berharap besar mereka kelak jadi TNI, Polri atau pejabat negara meski negara tidak membatasi mereka,a�? ujar Tri.

Tapi semua orang tahu. Tantangan bagi mereka yang punya keterbatasan fisik, terlalu banyak. Jika harus apple to apple dengan orang yang memiliki fisik normal.A� Satu-satunya cara agar mereka tetap bisa dipandang adalah dengan mencari bakat anak-anak itu. Disinilah tugas guru, membantu mereka.

a�?Tidak mudah (menemukan bakat mereka), butuh proses panjang, ketekunan dan kejelian para guru sangat menentukan, tapi yang untung itu kalau bakatnya ketemu dengan cara kebetulan,a�? imbuhnya.

Kebetulan yang dimaksud Tri adalah, saat anak-anak tanpa sengaja, menunjukan bakatnya. Ia mencontohkan Marwa, bisa ketauan bakatnya setelah dilihat goresan gambarnya sangat halus. Berbeda dengan hasil karya teman-teman yang lain.

a�?Sekarang coba lihat karya dia, gambarnya sangat artistik,a�? kata Tri sambil menunjukan lukisan hasil karya Marwa yang mendapat juara 1 saat lomba di Palembang.

Kalau diamati, hasil karya Marwa memang menarik. Tema yang diusung dari lukisannya memang Kebhinekaan. Hebatnya dengan keterbatasan bahasa SIBI dan kosakata sendiri, Marwa mampu menerjemahkan tema lomba dalam lukisannya.

Di bagian atas, ada gambar burung garuda. Lalu, di bawahnya ada lukisan sejumlah orang, dengan atribut budaya dan ritual yang berbeda-beda. Jangan tanya soal hasil lukisannya, sudah pasti sangat bagus dan artistik.

a�?Berarti ada peran hati dan imajinasi mereka, secara jujur terus melakukan eksplorasi makna tentang kebinekaan di tengah keterbatasan pendengaran. Luar biasa bukan?a�? terangnya.

Jika, bakat telah ditemukan, tugas para guru SLB hampir selesai. Mereka hanya tinggal memantapkannya dan memastikan, bakatnya itu kelak bisa menjadi senjata bagi anak-anak itu untuk menjalani kerasnya hidup dan persaingan di dunia.

a�?Ini memang melelahkan, tetapi hati saya di sini, pada anak-anak ini. Saya tidak bisa jauh dengan mereka, meski proses mendidiknya butuh segala sesuatu yang serba ekstra,a�? tutup Tri. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka