Ketik disini

Metropolis

Kalau Takut, Hapus Saja Perdanya!

Bagikan

MATARAMA�- Asisten I Setda Kota Mataram, sekaligus ketua penertiban pedagang minuman keras (miras) tradisional, HL Indra Bangsawan mengaku telah menyurati camat dan lurah agar segera memperingati para pedagang tuak yang ngeyel di wilayahnya. a�?Sudah kita surati, tinggal kita tunggu upaya mereka. Jika belum ada hasil, baru kita rapatkan lagi,a�? kata Indra.

Dirinya juga sempat mempertimbangkan opsi, melakukan tindakan represif agar ada efek jera bagi para pedagang. Salah satunya meminta aparat Satpol PP Kota Mataram yang menggelar patroli rutin melakukan penyitaan.

Namun ia, masih berharap kesabaran dari berbagai pihak, agar mau menunggu hasil upaya dari pihak kecamatan dan kelurahan melakukan komunikasi dengan para penjual. Pada saat ini, kata Indra, pemerintah memang belum bisa memaksa para pedagang berhenti total untuk berjualan. a�?Minimal, mereka tidak terlalu demonstratif,a�? ketus Indra.

Sikap pemerintah yang masih lembek dan tarik ulur wacana ini, mendapat kritik pedas dari Sekretaris Komisi I DPRD Kota Mataram, Farhan. Ia justru menuding pemerintah tidak serius dengan niat memberantas peredaran minuman keras tradisional di Kota Mataram. a�?Sebenarnya kita minta keseriusan eksekutif,a�? kata Fahan.

Ia juga melihat kerja pemerintah, setengah hati. Bahkan cenderung parsial. Padahal, jika memang pemerintah berniat memberantas tuak, upayanya harus bersama-sama. Bisa dengan membentuk tim terpadu yang melibatkan semua unsur pemerintahan yang terkait dengan kepentingan penertihan tuak, hingga aparat kepolisian.

a�?Ini malah hanya saling perintah. Satpol PP bilang tunggu perintah dari camat, camat bilang tunggu Satpol PP. Lalu ada yang perintah camat dan lurah tertibkan wilayahnya sendiri, sebaliknya camat dan lurah nunggu perintah dari atas. Kalau begini, bagaimana mau tertib?a�? sindirnya.

Jika begini, kata politisi asal PKS ini, pemerintah hanya terkesan cari muka. Melakukan penertiban pun hanya ketika ada momen-momen tertentu. Setelah itu, dibiarkan begitu saja. Pekerjaan nyaris sia-sia.

a�?Perda sudah ada, perwal juga tinggal menjalankan. Tapi kok ndak ada tindakan juga sampai saat ini,a�? cetusnya.

Kalau pemerintah takut kehilangan muka hanya karena menertibkan minuman beralkohol, Farhan menyindir sebaiknya pemerintah mengajukan saja wacana untuk penghapusan Perda tentang minuman beralkohol. Agar perda tidak hanya jadi pajangan.

a�?Jangan sebatas kertas saja, tanpa realisasi ke masyarakat. Jangan sampai ke ranah politik (takut kehilangan panggung), karena ingin tetap dipilih, lalu segan menertibkan tuak itu. Kalau tidak siap dilaksanakan, ya kita hapus saja,a�? tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka