Ketik disini

Giri Menang

Nasib Unit II PLTU Jeranjang Belum Jelas

Bagikan

MATARAMA�– Nasib mesin Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang unit II hingga saat ini masih menggantung. Belum ada kepastian kapan mesin tersebut bisa dioperasikan. PLN pun angkat tangan. Akibatnya, mesin dengan daya 25 MW tersebut mangkrak hingga saat ini.

Humas PLN Wilayah NTB Adriah Fitriana menjelaskan, keputusan mengenai tindak lanjut pengoperasian mesin unit II tersebut sepenuhnya ada di pemerintah pusat. Dalam hal ini Kementerian ESDM dan Kementerian BUMN. Keduanya yang bisa mengambil langkah-langkah, apakah dana pembangunan PLTU akan ditambah atau kontrak pengerjaanya diubah. a�?Bolanya sudah bukan di kita lagi,a�? jelasnya.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PLN masih menunggu langkah apa yang akan diputuskan pemerintah. Sebab untuk PLTU unit II, PT Barata selaku perusahaan yang mengerjakan sudah menyerah karena kekurangan dana. Sementara PLN sendiri tidak berani mengubah proyek tersebut karena merupakan hasil lelang. a�?Belum, belum, PLN masih dalam posisi menunggu,a�? katanya saat ditanya apakah sudah ada kejelasan atau tidak.

Fitri menjelaskan, mesinnya tidak rusak, tapi belum ada progres pembangunan. Sebab vendor membutuhkan dana untuk bisa menyelesaikan pengerjaanya, agar mesin bisa disambung dan semua sarana prasarana yang dibutuhkan sampai mesin beroperasi.

a�?Dari vendornya sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan,a�? katanya.

Pembangunan PLTU Jeranjang ini dilakukan sejak tahun 2010 oleh PT Barata yang merupakan salah satu BUMN. Tapi di tengah jalan, mereka kehabisan dana untuk melanjutkan. Kondisi ini disebabkan karena perhitungan investasi meleset. Ini terjadi karena perubahan kurs dolar saat perencanaan dan eksekusi pembangunan. Sehingga terjadi kenaikan harga untuk pengadaan perangkat PLTU. Karena harga terus naik akhirnya BUMN tersebut tidak sanggup melanjutkannya.

Selain itu juga disebabkan keterlambatan pengadaan tanah, sementara inflasi cukup tinggi. Sebagai BUMN mereka juga memiliki hitungan tersendiri. Jika terus menerus mengerjakan proyek PLN, mereka akan tambah rugi. a�?Mau menambah juga tidak berani, dasarnya apa? karena ini lelang tahun 2009/2010,a�? jelasnya.

Saat ini, hanya PLTU Jeranjang unit 1 dan unit 3 sebesar 50 MW yang beroperasi, ditambah dua unit Mobil Power Plant (MPP) dengan daya 2×25 MW atau 50 MW. Selain itu, daya untuk sektor Lombok juga ditunjang dengan PLTD dari Lombok Timur hingga Kota Mataram dengan daya sebesar 145 MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di beberapa lokasi di Lombok dengan daya 15 MW. Sehingga total daya yang dimiliki sekitar 260 MW lebih, dengan kebutuhan pada beban puncak antara 215-220 MW. (ili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka