Ketik disini

Metropolis

Guru Ini Pernah Dipukuli, Dijambak Hingga Diludahi!

Bagikan

Budi Lestari, sering mendapat perlakuan tak nyaman dari para murid di SLB Dharma Wanita Majeluk. Terutama dari kelas Tuna Grahita. Seperti apa? Berikut kisahnya.

***

APAA� enaknya mengajari anak-anak yang lemah fikiran, Tuna Grahita? Tidak ada. Sulit sekali membayangkan rasanya. Hati, harus di sabar-sabarkan. Buncahan emosi harus, bisa diredam. Seredam-redamnya! Anda keras, mereka juga bisa lebih keras!

Bagi anak tuna grahita, tidak kenal apa itu, nilai dasar. Senior-junior. Guru-murid. Anak orang tua. Itu tidak ada. Mereka hanya tahu, dia manusia saya juga manusia!

a�?Maaf, mereka kan anak-anak yang lemah fikirannya, jadi memang tidak bisa kita hadapi dengan cara emosional,a�? kata wanita yang sudah cukup berumur itu.

Nama ibu itu, Budi Lestari. Dia salah satu guru senior di Sekolah Luar Biasa (SLB)A� Dharma Wanita, Majeluk. Ketika, Koran ini menanyakan pengalaman mendidik anak-anak berkebutuhan khusus di SLB ini, Budi senyum tersipu. a�?Kenapa saya?a�? ujarnya.

Entahlah. Mungkin, malu. Atau, jangan-jangan ragu? Khawatir, ceritanya mungkin tidak akan bisa menginsiprasi banyak orang. Tetapi, Budi akhirnya luluh. Ia banyak cerita, pengalaman menghadapi siswa-siswi SLB.

Suatu ketika, oleh Kepala Sekolah, Budi diminta tidak lagi mengurusi anak-anak di kelas Tuna Rungu. Tetapi, Tuna Grahita. Alasan penunjukan dia, memang karena dinilai paling sabar dalam menghadapi anak-anak. a�?Saya dianggap paling sabar mungkin,a�? ujarnya, sembari tersenyum.

Budi, memang mengaku mendengar bagaimana brutalnya kelas Tuna Grahita. Ia awalnya sempat menolak. Tetapi, tuntutan profesi sebagai guru dan filosofi semua orang berhak mendapat ilmu, membuat ia akhirnya luluh.

Hari pertama mengajar, Budi sudah harus melihat kelas tak ubahnya, diisi oleh sekelompok bajak laut! a�?Mereka naik ke atas bangku, pukul-pukul meja,A� berisik bukan main. Disuruh diam, suara mereka malah lebih kenceng,a�? kenangnya.

Begitu seterusnya. Sehari, dua hari, Budi mengaku masih kuat. Tapi, lama-lama prilaku anak-anak lemah mental itu memang membuatnya jengkel bukan main. Sesabar-sabarnya dia, emosinya meledak menghardik anak-anak yang tidak patuh pada perintahnya. a�?Saya bentak mereka. Heh Duduk!a�? kenangnya.

Memang ada yang patuh. Tapi yang lain, plonga-plongo, hingga tak sedikit mulai tersinggung. Kalau sudah begitu, kata Budi, menghadapi anak-anak itu, seperti melawan diri di dalam cermin. Semakin diplototi, mereka semakin berani untuk melotot balik. a�?Kalau sudah begitu, bagaimana coba?a�? ujarnya.

Pengalaman tak menyenangkan yang dialami Budi, tidak hanya itu. Bahkan, ia kerap menerima kekersan fisik dari anak muridnya. Mulai dari tanpa sebab, ba-bi-bu, plak! Sapu lidi mendarat telak di punggungnya. a�?Ada juga yang menjambak, menarik baju saya,a�? ujarnya.

Yang paling tidak mengenakan adalah ketika seorang murid tiba-tiba maju. Sebenarnya, Budi mengaku sudah merasa tidak nyaman dengan gelagatnya. Karena itu, ia mengaku sempat waspada. Tapi karena di tangannya tidak ada sapu lidi, Budi pun berbaik sangka. Lalu berusaha menyapa anak itu dengan penuh kasih sayang. Dan…

a�?Haaaakkk.. cuiiiih!, dia meludah sampai kena wajah saya,a�? kami di ruangan itu, tak bisa menahan tawa. Sementara, Budi hanya bisa tersenyum kecut mengenang kejadian pahit itu.

Puncak rasa frustasi yang dialami Budi adalah, saat ia bertanya pada salah seorang murid. Kenapa datang terlambat. Namun, jawabannya, justru tak diduga-duga. Anak itu malah balik menyalahkan Budi. Karena rupanya, dia pun pernah datang terlambat.

a�?Dia bilang kamu saja pernah datang terlambat, katanya santai, lalu dengan enteng duduk dibangkunya. Setelah itu, bercanda lagi,a�? tuturnya.

Dengan polos Budi mengungkapkan gara-gara itu semua, ia pernah berniat mengundurkan diri. Tetapi hati kecilnya dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru yang harusnya mampu mendidik anak, selalu berhasil mencampakan kegusarannya itu jauh-jauh.

a�?Tapi saya kemudian paham, menghadapi mereka itu seperti melihat bayangan di dalam cermin,a�? terangnya.

Budi sadar, mereka itu anak dengan sistem nilai sosial yang rendah. Mereka perlu diajari. Tidak hanya dalam pengetahuan melalui komunikasi verbal. Tetapi juga dalam bentuk tindakan. a�?Makanya setiap kali saya terlambat, saya selalu minta maaf ke mereka,a�? terang dia.

Hasilnya, anak-anak itu pun mengikuti cara Budi. Saat ada yang terlambat, dengan mimik santun, anak-anak itu meminta maaf. Tidak hanya pada guru, tetapi pada murid-murid lain.

Sekarang tidak ada lagi yang, tiba-tiba memukul. Budi mengajarkan, cara tepat bagiamana cara mengungkapkan rasa sayang pada orang lain, dengan berjabat tangan atau saling berangkulan.

a�?Saya sebentar lagi pensiun. Sudah pasti ya, saya akan rindu dengan anak-anak yang butuh kasih sayang itu,a�? tutupnya.(LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka