Ketik disini

Sportivo

Mariati Tolak Bonus dari Pemkab Loteng

Bagikan

MATARAMA�– Pesilat putri NTB Mariati bersikap kesatria. Dia menolak bonus Rp 50 juta dari Pemkab Loteng atas prestasinya meraih emas di PON XIX/2016 Jawa Barat (Jabar).

Penolakan itu lantaran hubungannya dengan Pengcab Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Loteng yang kurang harmonis. Selain itu, Mariati ingin mempertahankan harga diri sebagai atlet. Karena, sebelumnya ia pernah melayangkan surat pengunduran diri menjadi atlet Loteng kepada IPSI dan KONI Loteng tahun 2014 lalu.

Mariati mengungkapkan, hubungannya kurang harmonis dengan IPSI Loteng sejak PON XVII/2008 di Kalimantan Timur. Namun, puncaknya pada saat PON XVIII/2012 di Riau.

Pada PON XVIII, diduga banyak uang saku atlet yang ditilep. Uang saku yang seharusnya diberikan kepada atlet tidak pernah sampai. A�a�?Tak pernah saya diberikan uang saku,a�? katanya pada wartawan di Lapangan Atletik Lawata, Mataram, Senin (17/10) malam.

Sebelumnya, kata Mariati, ia pernah dipanggil langsung Bupati Loteng untuk diberikan uang saku untuk PON XVIII. Namun, karena banyak kegiatan bupati saat itu, sehingga pemberian uang saku tersebut ditunda. a�?Saya tunggu sampai sore saat itu,a�? ungkapnya.

Beberapa hari kemudian, Mariati kembali dipanggil bupati. Ia diberitahukan bahwa uang saku tersebut sudah diberikan melalui IPSI.

Namun, ada oknum IPSI tak memberikan uang saku tersebut.A� a�?Dari persoalan tersebut saya mulai kurang sereg,a�? tuturnya.

Mariati menambahkan, tahun 2012, ia juga mewakili Indonesia pada kejuaraan dunia pencak silat di Thailand. Saat itu, salah seorang pengurus IPSI H Junaidi Atma mengajaknya A�keliling ke kantor-kantor. Tujuannya, untuk meminta anggaran. a�?Alasannya saat itu, dia meminta untuk uang saku atlet,a�? terangnya.

Seingatnya, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) ia diberikan Rp 1 juta. Ada juga dari almarhum Opan Rp 1 juta. Dan dari IPSI Loteng diberikan Rp 1,5 juta. a�?Totalnya dia mendapatkan Rp 3,5 juta dan saya terima juga uang itu,a�? jelasnya.

Dengan cara IPSI seperti itu, Mariati mulai resah. Sehingga, ia melayangkan surat pengunduran diri menjadi atlet Loteng tahun 2014 lalu. a�?Surat itu tembusannya ke IPSI dan KONI Loteng,a�? terangnya.

Namun, sampai saat ini surat tersebut tidak pernah ditanggapi. Artinya, pengunduran dirinya masih digantung oleh organisasi tersebut. a�?Saya merasa bukan lagi atlet dari Loteng,a�? ujarnya.

Karena merasa bukan menjadi bagian atlet Loteng, ia akhirnya memutuskan untuk menolak bonus yang diberikan Pemkab Loteng. A�a�?Saya juga harus menjaga martabat harga diri atas apa yang pernah saya layangkan,a�? tandasnya.

Jika memang surat pengunduran diri tersebut dibalas oleh IPSI atau KONI, kemungkinan besar ia akan menerima bonus tersebut. Dengan catatan, substansi surat tersebut menyatakan bahwa dirinya masih menjadi bagian atlet Loteng. A�a�?Rekomendasinya harus jelas. Agar tidak memunculkan permasalahan di kemudian hari,a�? katanya.

Dia berharap, pengurus cabor jangan memanfaatkan momen dari atlet. Ketika atlet berprestasi, para oknum mulai mengambil celah mencari keuntungan. A�a�?Cara seperti itu yang salah,a�? tegasnya.

Cara seperti itu, tentu akan mengganggu psikologis atlet. Sehingga, semangat atlet yang sudah berprestasi akan berkurang. (arl/r1)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka