Ketik disini

Metropolis

Omzet Miliaran, Kembali ke Lingkungan Seuprit

Bagikan

Usaha Trekking Organizer mendulang omzet miliaran dari pendakian Gunung Rinjani. Sayangnya, yang kembali untuk pelestarian Rinjani dari perputaran uang miliaran ini amatlah sedikit. Tak adanya format baku dari pengelola kawasan turut memberi andil.

***

TREKKING Organizer (TO) seperti Ruddy Trekker misalnya dalam tujuh bulan musim pendakian dalam setahun, melayani paling sedikit 1.700 wisatawan asing yang hendak mendaki Rinjani.

Paling murah, satu orang pendaki membayar USD 225 untuk paket dua malam tiga hari. Dengan kurs Rp 13.000 per satu dollar, jumlah itu setara dengan Rp 2,9 juta. Sementara paket paling mahal yang mencapai empat hari tiga malam, membayar USD 350 atau setara Rp 4,5 juta.

Anggap saja, 1.700 wisatawan yang dibawa oleh Ruddy Trekker hanya mengambil paket tiga hari dua malam. Maka selama tujuh bulan, Ruddy Trekker mampu membukukan transaksi hingga Rp 4,97 miliar.

A�Rudy Hartono, pemilik Rudy Trekker kepada Lombok Post kemarin menjelaskan, paket yang ditawarkan TO miliknya adalah paket all in yang mencakup penjemputan wisatawan di bandara, penginapan di hotel, jasa guide dan porter, tiket retribusi TNGR sebesar Rp 150 ribu, dan tiket boat apabila wisatawan berniat mengunjungi tiga gili.

Dari harga per paket tersebut, Rudy mengungkapkan sudah termasuk biaya pembersihan sampah di Gunung Rinjani. Dimana setiap trip, pihaknya menyisihkan Rp 125 ribu.

a�?Jadi selama tujuh bulan itu kita kami bisa kumpulkan Rp 274 juta dan digunakan untuk pembersihan sampah di Gunung Rinjani,a�? ungkapnya. Pada Rudy, bekerja 21 orang guide, 80 orang porter, dan lima orang sopir.

Tentu saja, jumlah Rp 274 juta untuk pembersihan sampah dari Ruddy Trekker ini terbilang besar. Mengingat, sekelas Balai Taman Nasional gunung Rinjani yang dalam enam bulan pendakian saja mengumpulkan lebih dari Rp 4 miliar dari para pendaki, hanya mampu menganggarkan Rp 500 juta untuk permersihan sampah Rinjani selama setahun.

Sayangnya tak semua TO seperti Ruddy Trekker. Ketua Forum Citra Rinjani I Made Jaya menjelaskan saat ini ada sekitar 40 TO yang tergabung dalam forum tersebut. Paling sedikit, satu TO dalam sebulan rata-rata melayani 100 wisatawan asing. a�?Dalam setahun, ada TO yang omzetnya bisa mencapai Rp 15 miliar,a�? ungkapnya.

Sebagai perkumpulan TO, guide, dan porter, Made mengaku pihaknya memiliki program kebersihan Rinjani. Sayangnya jumlahnya memang masih sangat sedikit. Saat ini, setiap TO hanya menyetor dana untuk kebersihan Rinjani Rp 1 juta setahun. Itu berarti, kalau ada 40 TO, berarti hanya Rp 40 juta setahun.

Dana ini bukan hanya untuk kebersihan sampah Rinjani semata. Tapi dipakai juga untuk biaya evakuasi, operasional. a�?Tapi ini baru kita mulai berlakukan tahun ini,a�? ujarnya. Itu berarti, tahun-tahun sebelumnya, tak ada kewajiban dana pelestarian lingkungan seperti ini.

Pemilik TO Ahmed Expedition Lalu Ahmad Yani menambahkan, dari pintu pendakian Senaru saja, sedikitnya dalam setahun melalui pintu pendakian Rinjani di Senaru, jumlah pendaki yang naik paling sedikit 10 ribu wisatawan asing. Itu berarti, mereka membayar kepada TO paling sedikit Rp 29 miliar.

Tak cuma di pintu pendakian Senaru. Pun demikian di pintu pendakian Sembalun. Masalahnya sama. Omzet miliaran, tak diikuti dengan penyisihan yang memadai untuk pelestarian lingkungan.

Royal Sembahulun, pemilik TO Royal Rinjani Tour mengungkapkan, dengan rata-rata melayani 100 pendaki asing selama sebulan, omzet satu TO di Sembalun minimal Rp 500 jtua setahun.

Dia mengatakan, keuntungan TO tidaklah besar. Rata-rata mereka membukukan keuntungan 11-12 persen dari omzet. Dengan omzet minimal Rp 500 juta, satu TO bisa membukukan keuntungan paling sedikit Rp 60 juta selama tujuh bulan pendakian.

Saat ini, Royal mengatakan, TO miliknya memberlakukan aturan pembelian sampah pada porter. Harganya Rp 25 ribu untuk setiap sampah yang dibawa turun dari para pendaki. Dia tak ingin berpolemik apakah jumlah itu kecil atau besar. Dalam hitungan Royal, jumlah ini pun sebetulnya sudah cukup.

Dia memberi gambaran begini. Yang potensial menjadi sampah dalam setiap pendakian dari beban yang dibawa masing-masing porter jumlahnya 25 kilogram. Itu berupa air dan bahan makanan.

Setelah dikonsumsi, sisa sampah yang akan dibawa turun berupa botol minuman, bungkus mi instan hingga snak dari 10 tamu sedikitnya 5 kilogram. Biasanya selama ini, setiap selupuh tamu akan dilayani 5 porter. Itu artinya, satu porter hanya perlu membawa turun 1 kilogram sampah saja. Sehingga tak ada sedikitpun yang tersisa di Rinjani. a�?Berarti biasa sampah untuk sepuluh pendaki hanya Rp 125.000,a�? kata Royal.

Nyatanya, itu semua memang bagus terlihat di atas kertas semata. Dalam kenyatannya tak semudah hal tersebut. Diakui Royal, amat banyak TO yang memang abai pada persoalan sampah ini. Banyak yang tak mewajibkan porter mereka membawa turun sampah.

Namun, katanya, TO tak bisa disalahkan sendiri. Sebetulnya, telah ada kesepakatan. Namun penegakannya yang masih kurang. a�?Kan tidak mungkin mengharapkan kami mengawasi diri kami sendiri,a�? kata dia.

Itu sebabnya, dia mengusulkan agar Balai TNGR memberlakukan sanksi berat pada TO yang mengabaikan sampah. Sanksi misalnya berupa pembekuan operasional selama kurun waktu tertentu, jika terbukti porter dari TO tersebut tidak membawa sampah turun. a�?Pasti TO juga gak mau bodoh membiarkan TO-nya disanksi,a�? tandasnya.

Dia mengatakan, sebetulnya selama ini sudah terlalu banyak kesepakatan yang telah ditelurkan TO. Namun, lantaran minimnya pengawasan dari TNGR, kesepakatan itu akhirnya tak dijalankan lagi. Karenanya Royal mengusulkan agar dana TNGR untuk pembersihan sampah senilai Rp 500 juta setahun, sebaiknya tidak dipakai oleh TNGR membersihkan sampah sendiri. Tapi dipakai untuk membayar tenaga yang bertugas mengawasi pack in dan pack out sampah secara ketat. a�?Jadi kalau TNGR ini bekerja sesuai jam kerja PNS, biar selebihnya sisa waktu dicover oleh pekerja yang bukan PNS,a�? katanya.

Dia yakin, pola ini setidaknya akan mampu meminimalisir sampah Rinjani. Terutama dari para wisatawan asing.

Sepanjang 2016 ini hingga September, total 71.935 pendaki yang datang ke Rinjani melalui pintu Sembalun. Sebanyak 27.668 di antaranya adalah pendaki asing. Dengan rata-rata mereka membayar Rp 2,9 juta, maka omzet pendaki asing di Sembalun mencapai Rp 80,2 miliar. (puj/ton/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka