Ketik disini

Selong

Juara Nasional Setelah Kaki Diamputasi

Bagikan

Semangat yang dimiliki oleh Fauzal Bahri patut ditiru. Pemuda asal Pesanggarahan Kecamatan Montong Gading ini merancang kaki palsu yang membuatnya tetap bias beraktivitas.

***

Tubuhnya cukup tinggi. Rambutnya panjang sebahu. Menggunakan kacamata, sekilas ia tidak ada bedanya dengan pemuda normal biasanya. Ia berdiri tegap dan berjalan normal. Ramah kepada orang yang baru ditemuinya. Ia normal seperti kebanyakan orang pada umumnya. Namun, jika diperhatikan lebih detail lagi. Ada sesuatu yang terlihat tak biasa. Fauzal, sapaan akrabnya menggunakan kaos kaki hanya sebelah. Tidak menggunakan sepatu melainkan sandal.

Ya, kaos kaki tersebut adalah pelindung kaki palsu buatannya. Agar tidak terlihat jelas sebagai kaki palsu, ia membungkusnya dengan kaos kaki panjang yang biasa digunakan untuk bermain sepakbola. a�?Ini adalah kaki palsu yang saya buat sendiri dari beberapa kali percobaan,a�? kata pria ini ramah saat disambangi Lombok Post di rumahnya.

Fauzal adalah peraih juara II Lomba Teknologi Tepat Guna di Kabupaten Lombok Timur. Sedangkan untuk di tingkat Provinsi ia berhasil menjadi juara I tahun 2016. Belum lama ini ia diminta untuk presentasi kaki palsu karyanya di depan pihak Kementrian Desa di Jakarta.

Menarik, dengan kaki palsu yang berhasil dibuatnya ini, ia kini menjadi pria normal. Ia bias berjalan seperti biasa. Bahkan, kaki palsu yang dibuatnya dari serabut kelapa ini kini bisa membantunya menjalankan pekerjaannya sehari-hari sebagai petani cabai.

Kepada Lombok Post, pria kelahiran 1986 ini menuturkan awal mula bagaimana ia membuat kaki palsu tersebut.

a�?Beberapa tahun yang lalu, saya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kaki kiri saya harus diamputasi. Dari situ saya sempat shock karena tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya yang pernah saya lakukan,a�? tutur pria yang pernah kuliah di STKIP Hamzanwadi ini.

Namun, pria yang memang memiliki semangat pantang menyerah ini tak ingin membiarkan keadaan begitu saja membuatnya terpuruk. Ia mencoba bangkit dan melakukan berbagai upaya agar hidup normalnya kembali.

Ia mulai merancang kaki palsunya sendiri dari bahan fiber yang dibentuk sedemikian rupa. Berhasil memang, usahanya tersebut membuatnya bisa berjalan kembali setelah latihan beberapa kali. Sayang, itu tidak berjalan lama. Bahan kaki palsu dari fiber tersebut dikatakannya sangat berat. Membuat dirinya kewalahan dan kesulitan dalam berjalan.

Ia pun harus memutar otak kembali. Membuat kaki palsu yang A�bisa terasa seperti kaki normal. a�?Saya sudah coba beberapa bahan. Mulai dari bambu, busa, serat pisang hingga serat kaca yang dicampur dengan katalis dan resin. Itu bisa dibuat tapi hasilnya tidak maksimal dan tidak tahan lama. Selain cepat rusak juga bikin nggak nyaman saat berjalan,a�? bebernya.

Untuk itulah ia kemudian kembali mencari beberapa bahan yang dinilai bagus untuk membuat kaki palsu. Akhirnya terpikirlah untuk mencoba membuat dari serabut kelapa.

a�?Serabut kelapa lebih kuat dan tidak mudah putus. Selain itu, serabut kelapa yang dicampur katalis dan resin akan membuat kaki palsu ini tertopang lebih kuat dan lebih ringan. Makanya sampai sekarang saya merasa nyaman menggunakan kaki palsu ini. Seolah punya kaki lagi,a�? akunya.

Hasil karyanya ini kemudian ia ikut sertakan dalam lomba teknologi tepat guna tingkat Kabupaten. Ternyata, karyanya ini mendapat perhatian dari pemerintah dan berhasil menjadi juara II. Bahkan ketika mewakili Lombok Timur di tingkat Provinsi ia berhasil menjadi juara I. a�?Sebenarnya sih nggak pernah terpikir untuk ikut lomba. Cuma bagaimana agar bisa berjalan lagi. Biar saya bisa ke sawah untuk menjalankan aktivitas sebagai petani. Kebetulan sekarang saya jadi petani cabai setelah putus kuliah gara-gara terkendala biaya,a�? ujarnya tersenyum. (Hamdani Wathoni/ Selong/20)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka