Ketik disini

Giri Menang

Awalnya usir Jaman Peteng, Kini Menangkis Bala

Bagikan

a�?Roah segarea�? dalam bahasa Indonesia berarti selamatkan laut. Kegiatannya diadakan setahun sekali. Lantas apa sebab musabab tradisi ini.

***

Ratusan -A� warga Desa Kuranji, Kecamatan Labuapi memadati pantai Dusun Kuranji Bangsal, kemarin (19/10). Mereka berbondong-bondong ke lokasi tersebut untuk merayakan salah satu warisan leluhur mereka a�?roah segarea�?.

Meski diadakan setiap tahun, antusiasme masyarakat tetap membuncah. Mereka begitu bersemangat, menggelar tradisi turun-temurun tersebut.

Aktivitas masyarakat pagi itu terbagi-bagi. Ada yang menyiapkan hidangan untuk para tamu, ada yang menyambut tamu, ada juga yang menyiapkan persembahan utama bayang-bayang. Mereka larut dalam aktivitas masing-masing.

Tradisi a�?roah segrea�? ini dilaksanakan untuk menolak bala. Harapannya, agar diberi hasil tangkapan melimpah dan dijauhi dari segala bahaya. a�?Untuk tolak bala dan selamatan laut,a�? terang salah satu tokoh agama di Dusun Kuranji H Agus Abul Majid.

Ia pun lantas menceritakan awal mula tradisi yang sudah mengakar puluhan tahun itu. Berawal dari datangnya wabah penyakit yang menyerang warga Dusun Kuranji kala itu. Wabah tersebut bernama, jaman peteng.

Di zaman itu, kehidupan warga Kuranji semerawut. Setiap hari, empat sampai lima orang warga meninggal tanpa sebab. Masyarakat waktu itu pun dibuat cemas, panik dan keheranan dengan peristiwa aneh itu. a�?Jaman petengini melanda sekitar empat sampai lima tahun,a�? tuturnya.

Segala upaya dilakukan masyarakat Kuranji kala itu. Sayangnya usaha mereka sia-sia. Bala tetap saja tidak bisa lepas dari desa mereka.

Melihat fenoma yang tidak biasa itu, TGH Ismail, sesepuh warga meminta petunjuk kepada Sang Pencipta. Ia melakukan pertapaan.

Dalam pertapaan tersebut, ia mendapat petunjuk agar mengadakan ritual di laut, dengan persembahan “bayang-bayang” (kepala sapi, dengan kulit).

Tanpa berpikir panjang, TGH Ismail bersama warga yang sudah tidak tahan dengan fenomena aneh itu, menyiapkan “bayang-bayang” seperti petunjuk dalam pertapaan. Kemudian dilarung ke tengah laut.

Ajaibnya, peristiwa ngeri yang menimpa warga waktu itu menghilang. Dari situ tradisi ‘roah segare terus berlangsung turun temurun. Maknanya A�sebagai wujud menolak bala.A�a�?Waktu itu bala berhenti tiba-tiba,a�? cerita H Agus Salim.

Meski jaman sudah modern, tradisi ‘roah segare hingga kini tetap digelar dengan tujuan untuk melestarikan warisan nenek moyang. Tidak hanya menolak bala, nyatanya dengan tradisi ini, tangkapan hasil laut warga Kuranji yang meyoritas nelayan ikut meningkat.

Sementara Kades Kuranji Dalam, Sukadin mengatakan, tradisi roah segarea�? sudah dilakukan sejak Tahun 1948. Dari sejak itu, turun-temurun dilestarikan oleh anak cucu Desa Kuranji hingga sekarang. a�?Ini dari zaman presiden pertama pak Soekarno,a�? katanya.

Sebagai perangkat desa, Sukadin menambahkan akan berkomitmen terus berupaya menjaga tradisi yang berkembang dalam masyarakat ini. Ia tidak ingin tradisi ini tergerus oleh zaman.

a�?Tradisi semacam ini tak boleh lekang dengan perkembangan jaman. Selain sebagai warisan budaya leluhur kita, ini juga sebagai salah satu cara warga desa bisa guyub, warga bisa saling gotong royong,a�? tandasnya.(Muhammad Zaenudin/ Giri Menang/20)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys