Ketik disini

Dialog Jum'at

Menggandakan Uang

Bagikan

Assalamua��alaikum Wr. WB.

Alhamdulillah, segala pujian hanya bagi Allah atas semua nikmat dan karunia yang tidak terbatas kepada hamba-hambaNya, utamanya nikmat Iman dan Islam. Selawat salam kepada yang mulia Nabi akhir zaman Nabi Muhammad saw, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau.

Pembaca Rahimakumullah

Akhir-akhir ini berita tentang penggandaan uang yang hakikatnya penuh dengan penipuan dan kebohongan memenuhi media massa, baik media elektronik maupun media cetak. Tentu saja berita-berita tersebut disatu sisi merupakan berita negatif, dan tidak sedikit menimbulkan kerugian bagi orang-orang tertentu. Tetapi, dari sisi lain, umat islam harus belajar bahwa cara-cara tersebut selain ilegal menurut hukum negara, juga sangat menyalahi sunnatullah, menyalahi sunnah Nabi Muhammad saw, juga sunnah para sahabat beliau.

Dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad saw a�� kita mengenal beliau sebagai penggembala kambing, beliau juga diajak berdagang oleh paman beliau sampai ke Negeri Syam. Sejarah juga mencatat, bahwa isteri beliau yang pertama dan utama Siti Khadijah R.a adalah seorang pedagang besar, seorang eksportir dan importir. Memiliki karyawan yang tidak sedikit, termasuk Nabi saw sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, pernah pula menjadi pedagang Khadijah ke Syam bersama paman beliau Abu Thalib.

Banyak pula sahabat-sahabat Rasulullah saw yang menjadi pengusaha sukses dan kaya raya, seperti Abdurrahman bin Auf, termasuk juga Abu Bakar, Utsman bin Affan yang pernah menyumbang dengan seribu ekor unta. Kebiasaan orang-orang quraisy berdagang tersebut telah diabadikan oleh Allah swt dalam Alura��an surat Quraisy, artinya :

  1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy.
  2. (yaitu)kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
  3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Kakbah).
  4. Yang telang memberi makanan kepada mereka dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Menurut ayat di atas, bahwa orang-orang Quraisy mengadakan perjalanan, terutama untuk berdagang ke negeri Syam pada musim panas dan berdagang ke negeri Yaman pada musim dingin. Dalam perjalanan itu mereka mendapat jaminan keamanan penguasa-penguasa dari negeri-negeri yang dilaluinya. Sungguh ini merupakan nikmat yang amat besar dari Tuhan kepada mereka. Oleh karena itu, sewajarnyalah mereka menyembah Allah swt yang telah memberikan nikmat itu kepada mereka.

Adapun yang ingin penulis tekankan, bahwa untuk memperoleh rezeki demi memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah lewat usaha yang halal dan wajar sebagaimana biasanya, bukan dengan cara-cara yang aneh-aneh diluar sunnatullah. Sebagai orang yang beriman, kita percaya kepada mukjizat para rasul, karamah para wali Allah, juga adanya maa��unah bagi orang biasa. Tapi semua itu diluar kebiasaan yang ada.

Sunnatullah telah berjalan, bahwa orang yang ingin mendapat rezeki dan keuntungan, didapatkan lewat usaha-usaha. Berdagang, bertani, beternak, berkebun, melaut, dan lain sebagainya. Bagi mereka yang taat beribadah, banyak berzikir, membaca Alquran, tentunya Allah swt memberikan kemudahan serta keberkahan dalam bermacam-macam bentuk.

Banyak kita jumpai seorang pengusaha, apa saja yang ia usahakan mendatangkan keuntungan, dan keuntungan tersebut dalam pemanfaatannya selalu melahirkan kebaikan demi kebaikan. Setiap kesulitan yang dihadapinya, selalu mendapatkan jalan keluar yang baik. Demikian pula halnya dengan ilmu yang barakah, isteri yang barakah, anak yang barakah, atasan yang barakah, anak buah yang barakah, maka selalu akan membuahkan kebaikan dunia dan akhirat.

Karenanya, kepada saudara-saudara yang seiman, mari kita mencari rezeki yang halalan thayyiban, lewat jalur dan cara yang sudah jelas dihalalkan Allah swt dalam Alquran, yaitu lewat jual beli, bukan lewat yang dilarang seperti riba. Firman Allah yang artinya: a�?Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan ribaa�?. (al-Baqarah 275).

Pintu jual beli sangat lebar dan luas, sementara yang dilarang adalah sedikit yaitu riba. Semoga kita senantiasa menjalani pintu-pintu yang halal tersebut, seperti gadai, sewa-menyewa, syarikah, serta masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan. Kami persilakan untuk membuka dan membaca kembali kitab fiqih Baabul Buyua�� (jual beli). Semoga kita mendapatkan jalan keluarnya. Amin. (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys