Ketik disini

Feature

Butuh Delapan Jam Hancurkan Satu Tong Limbah

Bagikan

Bahaya limbah medik sering dipandang sebelah mata. Bahkan ada rumah sakit, membuang limbah seenaknya. Entah sadar atau tidak, tindakan itu mengancam lingkungan hingga nyawa.

A�***

PTA� Triata Mulia Indonesia memberikan kesempatan kepada Koran ini untuk melihat secara langsung bagaimana proses penghancuran limbah medik. a�?Saya yakin anda pasti ingin tahu kenyataanya, bukan sekedar teori,a�? kata Marketing PT Triata, Nanang Sutisna.

Nanang memang sengaja mengajak Koran ini a�?jalan-jalana��. Bukan ke pantai, gunung atau tempat rekreasi top di Jawa Barat. Tetapi, ke tempat sampah.

Oh ya, sekedar tahu, PT Triata adalah perusahaan yang bergerak di bidang transporter dan pengumpul limbah B3. a�?Kami mau perlihatkan, barang yang kami bawa selama ini benar-benar dihancurkan. Bukan dibuang ke tengah laut, gunung atau mana pun,a�? imbuhnya.

Wartawan Koran ini pun manggut-manggut. Pabrik pertama yang dikunjungi adalah PT Jasa Medivest. BUMD milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Terletak di sebuah desa kecil. Dawuan Tengah. Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karang, Jawa Barat.

a�?Di sini memang daerah industri. Kalau hujan memang tak terasa dampaknya. Tapi kalau hujan, hemmm… lengket sekujur badan,a�? kata Sopir mini bus, ikut bertutur.

Ketika Koran ini tiba di pabrik itu, untung cuaca lagi mendung. Susana jadi sedikit lembab. Meski, semilir angin kadang menghembuskan aroma tak sedap. Hidung terpaksa naik turun. Dan, Koran ini pun masuk ruangan sebelum berkeliling.

a�?Iya kami bergerak di bidang penghancuran limbah infeksius.A� Ada obat kedaluwarsa, narkotika, limbah farmasi seperti jarum suntik, limbah rahasia dan semua limbah yang bisa dimusnahkan,a�? kata Secretary Corporate, Heri Purnama.

Dari seabrek penjelasan Heri, baik tentang perusahaan, penghancuran limbah hingga keselamtan kerja, ada satu yang menarik perhatian. Ternyata, limbah medik yang dihancurkan mereka belum benar-benar hancur.

Limbah medik, berupa obat, jarum, plastik dan entah apalagi yang keluar dari rumah sakit, dibawa jauh-jauh dari Lombok. Berkontainer-kontainer!

Sesampai di pabrik dengan menempuh perjalanan berhari-hari, limbah dipilah. Jarum dengan jarum. Plastik dengan plastik. Begitu juga, obat dengan obat. Lalu dibakar dengan insenerator dengan suhu, 900 sampai 1200 derajat celcius. Setara dengan 12 kali lipat air mendidih!

a�?Residu (hasil pembakaran) ternyata belum sepenuhnya hancur, makanya kami juga harus kerja sama dengan PPLI,a�? ujar Heri. Ia masih tersenyum dengan menampakan giginya yang putih.

PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PT PPLI) adalah satu-satunya perusahaan yang punya izin a�?segununga�� untuk bisa menjadi perusahaan pembuang residu limbah medik.

Kenapa residu harus dibuang? Pertanyaan ini memang menggelitik akal. Bukankah itu residu, alias ampas. Sudah hancur, di panas 12 kali lipat air mendidih. Namun, jawaban Heri, membuat Koran ini syok. Limbah medik itu, meski sudah berbentuk residu, tetap berbahaya.

a�?Butuh waktu 30 tahun untuk mengurai, hingga benar-benar aman bagi lingkungan dan lebur jadi tanah,a�? jawabnya.

Menimbunnya pun bukan asal tanam dalam tanah. Itu berbahaya. Ada a�?treatmenta�� khusus. Harus dibuang di tempat terpencil. Tidak berpenghuni. Tidak layak sebagai tempat bertani. Serta tanahnya dari kapur! a�?Tempat membuangnya, harus tanah berkapur,a�? ulasnya.

Kami manggut-manggut. Antara, paham dan terkesip. Betapa bahayanya limbah B3 itu. Jika sampai ada yang membuang sembarang. Dampaknya memang belum terasa dalam hitungan tahun. Tetapi bagi generasi anak cucu, itu sama saja bom waktu dari para moyangnya.

Jangan salahkan jika nanti keluar sumpah-serapah dari mulut mereka untuk kita yang hidup di generasi ini. Moyangnya hidup jorok! Tidak peduli lingkungan. Umur mereka, taruhannya. Bisa, lebih pendek. Terpapar bahaya lingkungan akibat reaksi kimia-biologis. Sisa limbah medik a�?berevolusia��. Menjadi bakteri-bakteri berbahaya bagi anak cucu.

a�?Kalau kita tidak peduli, sama saja makin mendekatkan anak cucu pada liang lahatnya,a�? timpal Nanang.

Untuk membuktikan itu, Koran ini turun ke lapangan. Melihat langsung, bagaimana raksasa pelumat limbah medik bekerja. Bertong-tong sampah limbah medik berjejer antri di mulut insenerator. Satu tong limbah medik, butuh waktu delapan jam untuk memusnahkannya.

a�?Asapnya juga harus dikontrol, jangan sampai berbahaya pada lingkungan. Karena itu, asap juga dibakar menggunakan solar,a�? kata Muhammad Dhani, pendamping Koran ini selama berada di markas pelumat sampah medik itu.

Prosesnya, sebuah tong ditaruh oleh para pekerja ke a�?tangana�� robotik insenerator. Lalu secara otomatis terangkat perlahan. Di ketinggian tertentu, tong terbalik. Sampah pun berjatuhan dalam mulut raksasa pelumat limbah medik.

Sementara di raksasa pelumat limbah medik di PT Tenang Jaya Sejahtera, Karawang, Jawa Barat pemadangan berbeda ditemui. Di sini, penanganan lebih tertata. Tetapi soal bau, masih sama.

Penanganan di tempat ini memang lebih lengkap. Dari pemilahan, pengemasan hingga penyimpanan sampah yang menyengat dimasukan dalam cold storage. Sayangnya, itu tidak cukup ampuh membuat suasana di dalam pabrik menjadi nyaman. a�?Pusing,a�? celetuk seorang teman.

Jumlah insenerator, di pabrik ini lebih banyak. Sedikitnya tiga insenerator siap melumat limbah-limbah berbahaya. Lebih banyak ketimbang milik PT Jasa Medivest yang inseneratornya, sakit-sakitan. Maklum, kebanyakan a�?makana�� sampah!

a�?Kami melayani penghancuran dari sejumlah provinsi, Bali, NTB, Sumatera, termasuk juga ada beberapa rumah sakit di Jakarta Pusat,a�? kata Elly, Sekretaris Brand PT Tenang Jaya Sentosa.

Setiap jam, di pabrik penghancur ini, bisa melumat 800 kilogram (kg) limbah medik. Sama halnya dengan PT Jasa Medivest, perusahaan ini juga bekerja dengan PT PPLI untuk membuang residu. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Jawa Barat/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka