Ketik disini

Headline Metropolis

Eks Bandara Mau Jadi Apa?

Bagikan

Sejak penerbangan beralih ke Lombok Internasional Airport (LIA) di Praya, Lombok Tengah, Bandara Selaparang mati suri. Meski di sana sempat difungsikan sebagai Lombok Institute of Flight Techonology (LIFT), nyatanya tetap saja eks bandara ini tak berfungsi optimal. Apalagi berdampak besar pada ekonomi dan bisnis.

A�***

BARU – baru ini santer terdengar kabar, jika eks Bandara Selaparang, Rembiga mau dihidupkan lagi. Bukan untuk pesawat komersil. Tetapi untuk jet-jet pribadi. Selain itu, sebagai tempat penyedia layanan perawatan pesawat (MRO).

Usut punya usut, rencana ini disebutkan sebagai upaya mempertahankan a�?asseta�� Angkasa Pura. Sumber yang enggan dikorankan namanya, menyebut jika Angkasa Pura tidak segera memanfaatkan lahan eks Bandara Selaparang, maka statusnya kembali ke pemilik awal.

a�?Lahan itu awalnya milik pemerintah provinsi, lalu dipinjam pakai pada Angkasa Pura I,a�? kata sumber Koran ini.

Maka, satu-satunya jalan agar asset ituA� tetap dikelola Angkasa Pura I, maka bandara harus tetap beroperasi. a�?Ini hanya cara Angkasa Pura, agar bisa tetap kelola lahan itu,a�? ungkapnya.

Pernyataan ini menarik perhatian Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Mataram Ahmad Makhcul. Saat memberikan RTBL kawasan Bung Hatta, ia meminta pemerintah kota mempertegas posisi RTRW Kota Mataram saat ini yang masih dalam kajian DPRD Kota. Apakah mau dibuat kawasan wisata atau zona penerbangan.

a�?Kalau itu mau dijadikan kawasan penerbangan kembali, maka bagaimana dengan KKOP (Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan) di sana, soalnya ada hotel yang gedungnya dapat menganggu penerbangan,a�? ujarnya.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana juga belum lama ini menunjukan respon kurang setuju dengan rencana itu. Ia khawatir pembangunan di sana, dapat mempengaruhi tata kota. Sebab, daerah itu menjadi daerah resapan air.

a�?Kawatirnya mempengaruhi aspek lingkungan dan ekologis,a�? kata Mohan.

Karena itu, ia pun menganjurkan kalau seandainya bandara mau diaktifkan lagi, tetap menggunakan desain awal. Tanpa ada penambahan bangunan atau konstruksi yang dapat menganggu tata kota. Mohan memberikan alternatif, bandara itu dijadikan sebagai tepat penerbangan jarak pendek.

a�?Sehingga, ekonomi dan bisnis di sekitar bandara bisa terangkat lagi,a�? harapnya.

Lombok Institute of Flight Techonology (LIFT) yang sebelumnya di pusatkan di Bandara Selaparang juga telah dipindah ke LIA. Praktis, aktivitas penerbangan di tempat itu, mati total.

Senada dengan Mohan, Kepala Bappeda Kota Mataram Lalu Martawang memberi sinyal AP I sulit merealisasikan rencananya. Sebab, sesuai rencana revisi perda RTRW baru, kawasan Bandara Selaparang, masuk zona wisata.A� Menyatu dengan kawasan Kelurahan Ampenan Utara.

a�?Di sana jadi kawasan wisata, konsep MICE berbasis lingkungan,a�? tegasnya.

Dengan demikian, pembangunan apapun di luar misi kawasan wisata di bandara, akan bertentangan dengan aturan baru. Termasuk rencana menyulapnya menjadi tempat pendaratan jet pribadi dan MRO.

a�?Ndak bisa lagi dong, apalagi KKOP-nya kan tidak bisa terpenuhi dengan adanya hotel A�yang bangunannya tinggi seperti Golden Tulip,a�? ujarnya.

Sesuai dengan aturan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), posisi bangunan hotel bertingkat, dapat menganggu penerbangan. Karena itu, jika Bandara Selaparang dipaksa beroperasi sebagai tempat landasan pesawat jet, maka harus ada penyesuaian pada ketinggian bangunan hotel saat ini. Opsi lainnya, bangunan dipindah.

Menanggapi itu, GM Angkasa Pura I I Gusti Ngurah Ardita enggan mengomentari terkait status lahan. Dirinya mengaku, belum mendalami status keberadaan asset. Namun setahu dirinya, asset itu sudah terdata milik Angkasa Pura I.

a�?Sudah terdata di kami,a�? kata Ardita.

Sementara itu, terkait revisi perda RTRW berpotensi jadi batu sandungan rencana pihaknya mengelola Bandara Selaparang, Ardita mengajak semua pihak melihat potensi Lombok pada umumnya dan Kota Mataram khususnya.

Saat ini, Bali sebagai daerah tetangga Lombok saja kata Ardita, sudah melengkapi diri dengan bandara khusus jet pribadi. Hal ini guna menunjang pariwisata di sana.

a�?Dari segi posisi, ini sangat strategis. Lombok bisa jadi persinggahan berikutnya, bagi para pemilik jet, untuk berwisata,a�? tuturnya.

Apalagi, rencana menjadikan Bandara Selaparang sebagai tempat pendaratan jet-jet pribadi dan MRO sudah di bahas di tingkat pusat. Ardita menyebut AMI Bandara Selaparan masih aktif. Tim yang ditunjuk saat ini tengah bekerja, mengevaluasi pengembangan eks Bandara Selaparang ke depan.

a�?Pembahasan saat ini bahkan sudah tingkat kedua, membahas semua aspek yang dibutuhkan menunjang rencana itu,a�? ungkapnya.

Terkait revisi perda RTRW dan keberadaan hotel yang berpotensi menganggu Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), juga ikut dikaji.

a�?Pada akhirnya nanti, kami pasti sampaikan pada pemerintah kota tentang hasil kajian kami ini,a�? ulasnya.

Apalagi, sudah ada beberapa investor yang tertarik menawarkan kerja sama pengelolaan Bandara Selaparang. Ardita memasitakan keseriusan mereka, mengelola agar eks Bandara Selaparang siap menjadi pendaratan, para pemilik pesawat jet pribadi yang ingin berwisata ke Lombok.

Tidak hanya itu, dengan beralihnya, Lombok Institute of Flight Techonology (LIFT), Ardita mengatakan pihaknya juga berencana membuka Airport Akademi di tempat itu. Rencana ini, sebagai upaya, tetap memastikan kawasan Bandara Selaparang, tetap hidup baik dari segi ekonomi dan bisnis.

a�?Kami mau bangun airport akademi juga, agar ekonomi dan bisnis di sana tetap hidup,a�? tandas ardita. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka