Ketik disini

Metropolis

Meledak dan Mengalir Bak Air Zam-zam

Bagikan

Masjid itu seperti ‘terapung’ di atas mata air. Konon, mata air di dasar masjid Al Raisyiah itu meledak, bertepatan dengan mulainya bertempurnya pasukan Kerajaan Hindu–Mataram dengan warga pribumi. Berikut kisahnya!

 ***

SORE  itu, sedikit sendu. Awan gelap bergelayut di atas langit Mataram. Sang Surya, bersusah-payah timbul tenggelam diantara mega. Namun, akhirnya lenyap. Tepat, gema azan Asar, menggema, di seantero kota.

Beberapa anak berlari riang. Tangan pria lanjut usia, naik turun mengingatkan, agar pelan-pelan. Sayang, tak digubris.

Byuuur!

Kolam, persis di sebelah barat masjid, beriak kencang. Seiring tubuh-tubuh mungil itu, timbul tenggelam berenang-renang riang. Beberapa pria dewasa, memasang wajah masam. Keterlaluan memang, air jadi muncrat kemana-mana. Tetapi sekali lagi, bocah-bocah tengil itu tak peduli.

“Buat minum anak-anak di rumah,” kata seorang pria. Belasan, botol air mineral diisi dengan mata air yang memancar dan masuk ke dalam kolam.

Pria itu, nampak segan mengangkan badan. Tubuhnya telanjang bulat. Terendam di air yang mulai menghitam dan lumut di permukaan.

Sebenarnya air kolam itu jernih. Bahkan sangat jernih. Sayang, kolam itu jarang dikuras. Jadilah, air lama yang sudah bercampur bahan kimia, terutama busa sabun, homogen bercampur bertahun-tahun. Bahkan mungkin puluhan tahun.

Warga sepertinya enggan mengurasnya. Selang-selang air ke kolam itu, jumlahnya hingga belasan. Kalau mau dikuras, selang-selang itu harus ditutup. Warga sekampung juga harus turun kerja gotong-royong. Kalau tidak, sulit selesai.

“Dari bawah masjid,” imbuh pria berkumis tebal itu. Ia menjelaskan arah datangnya mata air.

Ajaib, memang. Dari bawah masjid, keluar mata air yang tak pernah kering. Airnya bahkan memancar deras bertahun-tahun lamanya. Tidak ada mesin air. Air sudah memancar dengan sangat deras. Bak, air zam-zam. Jutaan kubik air terpancar siang malam. Hingga ratusan tahun lamanya.

“Kalau mau tahu lebih detail ceritanya, coba tanya Haji Sohri,” saran pria itu.

Penasaran, Koran ini mendatangi pria sepuh yang usaianya, 85 tahun lamanya. Kulitnya terlihat jernih. Meski sudah sangat lanjut, pria itu nampak sangat bugar. Jalannya, tak terlalu bungkuk. Gigi-giginya masih kokoh. Sayang, uban tak bisa ditolaknya. Bahkan, hingga alis, janggut dan kumisnya, rata memutih.

Hahaha, mungkin saja,” Sohri tertawa terbahak-bahak. Saat Koran ini, menggoda, ia terlihat tetap muda karena tuah air dari bawah masjid itu.

Sohri, berdehem beberapa kali. Peipisnya yang sudah keriput, kembali berkerut-kerut. Koran ini meminta dia bercerita, apa saja yang diketahuinya seputar awal kisah mata air itu memancar dari dasar masjid. Setelah berhasil, mengumpulkan sisa-sisa ingatan. Sohri memulai ceritanya.

“Jadi dulu, kata para sepuh daerah ini tandus. Gersang. Tidak ada orang yang mau tinggal di sini. Sampai akhirnya, ada pendatang memanfaatkan sebagai tempat bermukim,” tuturnya.

Lambat laun pemukiman makin padat. Konon, warga di sana enggan membayar upeti Kerajaan Hindu – Mataram. Mereka secara terang-terangan menyatakan diri, congah (memberontak) pada kerjaan yang dipimpin Anak Agung.

Konon, salah satu tokoh sekaligus pemuka agama, bernama Maulana Saikh Gauz Abdurrazak yang disebut datang dari Timur Tengah. Ia lantas membangun sebuah masjid di atas sebuah lempeng batu yang sangat besar.

“Batu itu sangat besar, langsung jadi pondasi masjid. Berbentuk lempeng cekung, di sanalah masjid itu dibuat lalu dinamai, Masjid Al Raisiyah,” ulasnya.

Pembangkangan warga itu sampai ke telinga Anak Agung. Maka dengan kekuatan bala tentara penuh, mereka diminta untuk meratakan pemukiman warga di Karang Pule. Tidak mau mati sia-sia, masyarakat pun menyiapkan perlawanan. Di bawah pimpinan sang Saikh, sekitar abad ke 17 masehi, pertempuran pun pecah di sana.

“Maka ketika dua pasukan itu bertempur, tiba-tiba saja air meledak dari dasar Masjid Al Raisiyah. Banyak orang bengaq (heran, Red). Karena itu, masjid ini juga dinamai sebagai Masjid Bengaq,terang dia.

Konon, hadirnya Saikh Gauz Abdurrazak memang mampu membawa karomah luar biasa. Di manapun ia singgah, selalu saja ada mata air pecah dan memancar deras. Salah satunya, di Masjid Al Raisiyah, Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Mataram. Karomah inilah konon yang membuat masyarakat di setiap persinggahan, sang Saikh yakin bahwa ia adalah Waliyullah. Kekasih, Tuhan. Pembawa ajaran yang benar.

Maka, syiar agama Islam yang dibawa sang Saikh, di tengah masyarakat yang kebanyakan menganut faham animisme, mudah diterima masyarakat.

Dalam versi lain, munculnya air deras dari dasar masjid konon ketika sang Saikh tengah mengajarkan anak muridnya mengaji. Tiba-tiba saja, dari dasar tanah keluar mata air yang cukup deras. Masjid yang saat itu terbuat dari kayu ipil beratapkan alang, seperti terapung di atas mata air.

“Iya airnya meledak, bak air zam-zam,” ujar Sohri. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka