Ketik disini

Praya

Sudah Renta, Namun Tetap Semangat Bekerja

Bagikan

Usianya tak lagi muda. Tapi Inaq Karni, 62 tahun warga Desa Bakan, Janapria Lombok Tengah (Loteng) ini, tetap semangat mengais rizki, demi melanjutkan hidup.

***

Dengan membawa hasil kerajinan gerabah, langkah kaki Inaq Karni terseok-seok. Dengan memakai sandal jepit yang terlihat tipis, sarung dan pakaian seadanya, ia menyusuri ruangan demi ruangan di perkantoran sekretariat Pemkab Loteng. Aktivitas itu pun sudah lama digelutinya.

Wajah yang sudah keriput dan rambut beruban, tidak membuat dirinya lemah, dia tetap semangat, sekadar menyambung hidup. Ia mengaku, hampir seluruh wilayah di Gumi Tatas Tuhu Trasna ini, dikelilinginya.

Beratnya gerabah yang dipikul pun terlihat dari wajahnya. Kendati demikian, ia memiliki prinsip lebih baik bekerja daripada meminta-minta. Selama tubuhnya sehat dan kuat, ia tetap menjalankan aktivitas itu setiap hari. Namun, terkadang ada orang yang menaruh simpati, tidak membeli gerabahnya, tapi memberi uang. Namanya rizki, tidak boleh ditolak.

Inak Karni ternyata, hidup sebatang kara, suami tercintanya meninggal dunia sejak lima tahun yang lalu. Sementara, kedua anaknya tinggal berpencar. Rumahnya di Desa Bakan, Janapria pun jarang ditempati, tapi terkadang anak-anaknya menyempatkan waktu singgah ke gubuk tuanya itu.

Sembari menawarkan dagangannya, ia menceritakan kisah perjalanan hidupnya. Ia ingin sekali beristirahat, beraktivitas dirumah dengan tenang, berkumpul dengan anak dan cucunya. Hanya saja, itu hanya mimpi. Ia tidak boleh berdiam diri, ia harus berusaha berjuang menyambung hidup.

Terkadang, ia berkeliling hingga malam hari, ia pun bingung mau merebahkan badannya dimana. Untungnya, ada saja orang yang iba, sehingga memberi tumpangan tempat tidur, makan, minum dan uang seadanya. Namun, ia tidak pernah meminta. “Alhamdulillah, Allah SWT selalu bersama saya,” ujar Inak Karni.

Gerabah yang dijualnya itu, ternyata bukan dari hasil karyanya sendiri. Tapi, ia membelinya di Desa Penujak, Praya Barat. Misalnya saja, jenis gerabanh dulang dibeli seharga Rp 8 ribu, lalu ia menjualnya kembali dengan harga Rp 10 ribu, wajan dibeli Rp 18 ribu, jual seharga Rp 20 ribu. Begitu seterusnya. “Tapi, tidak setiap hari jualan saya ini terjual,” keluhnya.

Di saat seperti itulah, ia terpaksa membuka uang saku yang tersimpan dikantung bajunya, untuk membeli nasi bungkus. Begitu seterusnya. Pekerjaannya itu, sudah puluhan tahun digelutinya. “Saya jarang pulang ke rumah. Saya pun Alhamdulillah, tidak lupa salat lima waktu,” ujarnya. (Dedi Shopan Shopian / Praya/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka