Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Suku Bunga Turun, Sektor Ril Tumbuh

Bagikan

MATARAM – Kebijakan Dewan Gubernur Bank Indonesia yang memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan yakni BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) sebesar 25 basis poin mengundang optimisme banyak pihak. Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Prijono menyambut baik kebijakan tersebut. Ini Menurutnya akan mendorong pergerakan sektor ril di NTB.

a�?Penurunan suku bunga acuan ini kita harapkan itu bisa menggerakkan sektor ril,a�? katanya kepada Radar Lombok (Lombok Post Grup), Jumat (21/10) lalu.

Diketahui, 19-20 Oktober lalu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) sebesar 25 bps dari 5,00 persen menjadi 4,75 persen dengan suku bunga Deposit Facility turun sebesar 25 bps menjadi 4,00 persen dan Lending Facility turun sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen berlaku efektif sejak 21 Oktober 2016.

BI meyakini pelonggaran kebijakan moneter tersebut sejalan dengan tetap terjaganya stabilitas makro ekonomi, khususnya inflasi tahun 2016 yang diperkirakan mendekati batas bawah kisaran sasaran, defisit transaksi berjalan yang lebih baik dari perkiraan, surplus neraca pembayaran yang lebih besar, dan nilai tukar yang relatif stabil.

Menurut Prijono, penurunan suku bunga acuan tersebut diharapkan mampu memberi stimulus dalam menggerakan sektor ril, khususnya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dengan kebijakan penurunan suku bunga acuan tersebut, diharapkan berdampak terhadap penurunan bunga kredit pinjaman yang disalurkan ke UMKM oleh perbankan.

a�?Sehingga masyarakat semakin mudah dan terjangkau mendapatkan kredit yang murah,a�? kata Prijono.

Hanya saja, lanjut Prijono, kebijakan penurunan suku bunga acuan tersebut tidak serta merta langsung bisa diikuti ataupun diterapkan oleh lembaga perbankan. Karena perbankanterlebih dahulu harus menyesuaikan diri, utamanya dengan menurunan suku bunga deposito dan juga tabungan.

a�?Intinya melalui penurunan suku bunga acuan ini, BI ingin mendorong pelaku usaha itu untuk memproduksi lebih banyak, sehingga mampu menggerakan sektor ril,a�? ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2016 cenderung tidak sekuat perkiraan sebelumnya. Konsumsi terindikasi membaik, meskipun masih terbatas. Di sisi lain, perbaikan investasi swasta, khususnya nonbangunan, diperkirakan masih belum kuat, sejalan dengan kapasitas produksi terpasang yang masih cukup besar.

Inflasi tetap terkendali pada level yang rendah dan pada akhir tahun diperkirakan akan berada di batas bawah kisaran sasaran inflasi 2016, yaitu 4,1 persen, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan September 2016 mencatat inflasi sebesar 0,22 persen (mtm). Inflasi tersebut cukup terkendali dan sesuai dengan pola historisnya. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara year to date (ytd) dan tahunan (yoy) masing-masing mencapai 1,97 persen (ytd) dan 3,07 persen (yoy).

Secara nasional, sistem keuangan tetap stabil dengan ketahanan sistem perbankan yang terjaga. Pada Agustus 2016, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 23,0 persen dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 21,1 persen.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 3,2 persen (gross) atau 1,5 persen (net). Transmisi pelonggaran kebijakan moneter melalui jalur suku bunga terus berlangsung tercermin dari berlanjutnya penurunan suku bunga deposito dan suku bunga kredit. (luk/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka